Berdoalah Dengan Kerendahan Hati

Menjelang tahun 2017, atmosfer politik mulai memanas dengan tampilnya beberapa kandidat pemimpin daerah yang akan maju berkompetisi dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (PILKADA). Perang pengaruh telah gencar dilakukan oleh masing-masing calon atau tim sukses yang lazimnya dengan mempromosikan kelebihan-kelebihan calon dan adakalanya dibarengi dengan mengungkapkan kelemahan rival-rivalnya. Fenomena ini juga nampak dalam proses pemilihan presiden di negara adidaya. Mungkin hal bersikap tinggi hati dan memandang rendah pihak lain merupakan sesuatu yang lazim dalam dunia perpolitikan.

Bacaan Injil yang menjadi dasar perenungan kita saat ini adalah perumpamaan tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai yang tengah berdoa di Bait Allah. Dua orang yang berdoa ini mempunyai sikap doa yang sangat kontras. Orang Farisi menaikkan doa dengan penuh keyakinan bahwa dirinya memiliki tingkat kesalehan hidup yang lebih tinggi daripada yang lain termasuk pemungut cukai. Sementara Si Pemungut Cukai menganggap dirinya sebagai orang yang berdosa dan tidak layak untuk berdoa kepada Tuhan.

Meskipun sesama orang Yahudi, Pemungut Cukai dianggap sebagai pengkhianat karena bekerja untuk kepentingan bangsa lain dalam hal ini bangsa Romawi yang adakalanya menindas bangsa sendiri dengan menerapkan tarif cukai yang tinggi. Sehingga profesi pemungut cukai disejajarkan dengan perampok, orang lalim, pezinah dan berbagai perilaku jahat lainnya yang bergelimang dengan dosa.

Dari gambaran ini seolah terdapat tingkatan kasta di antara orang Yahudi. Mungkin dari sisi religiusitas sangatlah nampak bahwa Orang Farisi mengerjakan ibadahnya melampui standar yang ditetapkan dalam Hukum Taurat. Mereka melakukan puasa dua kali seminggu melebihi aturan dalam Hukum Taurat. Demikian halnya dalam hal persembahan mereka menyerahkan sepersepuluh dari segala penghasilan (gross income) bukan hanya dari keuntungan bersih (net profit).

Dalam hal ini, Orang Farisi bertindak jujur di dalam doanya karena apa yang dia sampaikan di dalam doanya sesuai dengan apa yang dia lakukan.
Tetapi mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa Si Pemungut Cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan sementara Orang Farisi tidak. Atau dengan kata lain mengapa doa Si Pemungut Cukai lebih didengarkan Tuhan dibandingkan dengan doa Orang Farisi.

Doa atau dalam pengertian yang lebih luas sikap hidup beribadah adalah manifestasi dari kesadaran eksistensial umat di hadapan Tuhan Sang Pencipta. Pemungut Cukai mendapatkan perkenanan Tuhan karena pengakuan dirinya sebagai orang berdosa tanpa perlu membandingkan dirinya dengan orang lain yang mungkin lebih berdosa. Dengan segala cidera manusiawinya Pemungut Cukai sebenarnya merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Kesadaran akan keberadaannya yang dilanjutkan dengan penyesalan atas segala kesalahan inilah yang menjadikan Tuhan berkenan untuk menjadikan Si Pemungut Cukai sebagai orang yang dibenarkan.

Dari perumpamaan ini kita bisa belajar bahwa kita dapat dibenarkan di hadapan Tuhan Yesus Kristus manakala kita menyadari akan keberadaan kita sebagai orang yang lemah sehingga membutuhkan pertolongan Tuhan dan memohon pengampunan atas segala dosa dan pelanggaran kita. Gambaran tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai ini masih sangat relevan di masa kini. Ada banyak orang yang merasa mempunyai standar rohani serta tingkat kesalehan hidup yang tinggi sehingga merasa lebih dibandingkan yang lain. Sementara di pihak yang lain banyak orang yang keberadaan dirinya merasa tidak layak menerima anugerah Tuhan.

Marilah kita memiliki sikap kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama manusia agar kemuliaanNya semakin nyata di dalam kehidupan kita. Sikap kerendahan hati ini selayaknya juga kita kembangkan di dalam kehidupan berkeluarga. Penghargaan kepada setiap anggota keluarga akan semakin memperkokoh ikatan kasih sebagai keluarga Kristen yang dibenarkan Allah dimana ketentraman dan kedamaian senantiasa dirasakan.

Selamat mengembangkan sikap kerendahan hati baik di dalam doa, kerja dan seluruh aspek kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Bacaan I : Yeremia 14 : 7–10, 19 - 12
Tanggapan : Mazmur 84 : 1 - 7
Bacaan II : 2 Timotius 4 : 6 – 8, 16 – 18
Bacaan Injil : Lukas 18 : 9 - 14

Sumber: Warta Gereja edisi Minggu, 23 Oktober 2016

Add new comment