Berharap Pada Pembaharuan Tuhan

Bapak Ibu yang dikasihi & mengasihi Tuhan,

Gambaran situasi negeri kita saat ini mirip saat Israel dikuasai orang Asyur di kitab Yesaya, rakyat dibuat resah oleh sekelompok orang dengan berbagai intimidasi, sehingga ketakutan hadir, dan keadilan musnah karena berita yg tendensius, ke-teladanan pemimpin dan keadilan jadi mimpi orang lemah yang selalu tertindas oleh ketidakjujuran (ay 4), sehingga kehidupan bernegara tidak kokoh bersatu tanpa pemimpin yg punya otoritas. Quo vadis?

Kata Yesaya 11:1, “suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai” (ayah Daud).
Kelahiran Tuhan Yesus sudah dinubuatkan ratusan tahun sebelum nabi Yesaya (Yes 11:1-5), yg dengan berbekal kebenaran & kesetiaan Tuhan Yesus akan mampu menghadirkan Roh Tuhan - Roh hikmat - Roh nasehat - Roh takut akan Tuhan, yang merefleksikan keadilan dan damai sejahtera, dan dampaknya? Serigala akan tinggal bersama domba, lembu & beruang makan rumput, anak menyusu bersama ular tedung dsb

Bapak Ibu yang terkasih,
Hari ini kita memasuki masa Advent II. Menyambut kehadiran Sang Juruselamat pada hari Natal besok, sekaligus menyadarkan kita semua umat percaya, menyiapkan diri pada kehadiran Sang Mesias yg kedua kali saat maranatha, Kitab Mazmur memberi solusi “Doa harapan untuk Raja” dari Salomo (Maz 72:1-7).

Disaat penantian umat percaya akan hadirnya Sang Mesias, kita semua perlu dan harus berdoa agar para Pemimpin negeri ini, berpegang pada hukum Tuhan & keadilan untuk menolong orang miskin yang selalu tertindas “Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa dan bukit-bukit membawa kebenaran” (ayat 3)
Sedangkan Paulus pada suratnya kepada jemaat Roma 15:4-13, mengajak kita untuk belajar dari masa lalu, “supaya kita berpegang teguh pada pengharapan & penghiburan kitab suci” (ayat 4).

Bapak Ibu yang mengasihi Tuhan,
Pengharapan akan hadirnya Sang Raja Damai untuk memperbarui kondisi dunia sekarang, menjadi fokus pemberitaan firman hari ini. Meskipun kitab Yesaya ditulis pada jaman dulu, yang berisi pengharapan Israel akan hadirnya Mesias, saat ini kita juga memiliki pengharapan yang sama, karena dunia berada dalam kondisi yang tidak berbeda.

Konflik kepentingan antar kelompok, agama dan etnis tertentu, diskriminasi rasial, kesenjangan sosial ekonomi, serta dominasi kelompok yang tidak adil sebagai penguasa. Yang dibutuhkan negeri ini bukan “penguasa” mayoritas yang menguasai minoritas, melainkan “pemimpin” yang berkarakter, yang takut akan Tuhan, serta membawa keadilan dan damai sejahtera, sehingga lembu dan beruang akan makan rumput bersama.

Bagaimana caranya agar pembaharuan Tuhan ini bisa terwujud, bukan sekedar mimpi?

  1. Pemimpin yang berkeadilan.
    Dari kitab Yesaya menjelaskan gambaran seorang “Raja damai yang akan datang” dan takut akan Tuhan yang memerintah dengan kebenaran & keadilan.
  2. Berdoa sebagai nafas orang beriman.
    Doa adalah ungkapan iman yang kuat. Seorang percaya adalah pendoa yg seharusnya mampu menyatakan kuasa Tuhan atas berbagai persoalan dunia saat ini. Mazmur memberi contoh bagaimana cara mewujudkan harapan akan pembaharuan. Berdoa adalah refleksi iman kita, dasar dari segala sesuatu yg kita harapkan, yaitu hadirnya pemimpin yang adil dan berkarakter sesuai teladan Kristus yang membawa pembaharuan.
  3. Pembaharuan dimulai dari diri sendiri.
    Setiap kita adalah seorang pemimpin, tapi apakah kita memiliki karakter yang bertumbuh seperti Kristus dalam memimpin diri sendiri, keluarga dan bisnis menghadirkan kebenaran?

Matius 3:1-12 diawali penggenapan Yohanes Pembabtis (menyiapkan jalan Tuhan) yang menyerukan pertobatan, sehingga seseorang diperbarui melalui relasi dengan Tuhan, yang tidak dibatasi oleh status keturunan Abraham, atau dinasti Saduki dan Farisi.

Setiap orang percaya wajib bertobat, untuk menghadirkan kemuliaan surga melalui Baptisan Kristus, sehingga mengalami perubahan orientasi dari kehidupan duniawi dan berbalik menyembah Sang Kristus Raja Damai.

Bagaimana mengharapkan pembaharuan Tuhan, jika diri kita tidak mau merobah orientasi ke alam Rohani?

Apa artinya beribadah jika kita tidak mengalami perubahan karakter?

Selamat menghayati masa penantian “Pembaharuan Tuhan” dengan aktif merubah diri.

Bacaan 1: Yesaya 11:1-11
Tanggapan: Maz 72:1-7,18-19
Bacaan Bacaan II : Rom 15:4-13
Bacaan Injil: Mat. 3: 1 – 12

Sumber: Warta Gereja Edisi 4 Desember 2016

Add new comment