HARI BUMI 2017

HARIBUMIALTAR

Minggu tanggal 23 April 2017 jemaat GKJ Manahan dalam penyelenggaraan Ibadah Minggu juga mengkaitkan dengan Hari Bumi. Ibadah terkait dengan Hari Bumi sudah dilaksanakan beberapa tahun ini. Ibadah ini menjadi moment bagi jemaat untuk merefleksikan keberadaan bumi. Bumi adalah ciptaan Tuhan yang begitu indah. Di bumi ini kita berpijak dan melangsungkan kehidupan. Manusia tidak bisa hidup tanpa bumi, tetapi bumi bias tetap eksis tanpa manusia. Melalui perut bumi kita dikenyangkan dengan berbagai jenis makanan yang dihasilkannya.

Untuk ibadah tahun ini tema yang diusung adalah “Kedaualatan Pangan”. Sementara sub temanya: “Bangga Terhadap Makanan Lokal, Mencitai Makanan Lokal Dan Mengkonsumsi Makanan Lokal”. Tema ini diusung karena harus kita akui bahwa kita hidup di bumi Indonesia yang subur. Orang tua kita bilang: Tongkat dan kayu jadi tanaman. Berbagai jenis tanaman umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, silih berganti memberikan hasilnya untuk rakyat Indonesia. Namun sayang, saat ini masuknya makanan dari berbagai negara telah menggeser makanan lokal. Ada anggapan bahwa makanan dari luar lebih bergengsi dari makanan lokal. Padahal kalau kita cermati makanan lokal Indonesia jauh lebih sehat, mengandung banyak vitamin, serat, mineral dan kalori yang memadai. Sementara makanan yang dianggap bergengsi, justru setingkali amat sangat tinggi kalori, rendah vitamin, serat dan tentu saja sering menggunakan bahan pengawet. Karenanya sering disebut dengan junk food (makanan sampah).

Melalui ibadah inilah jemaat diingatkan untuk kembali mensyukuri keanekaragaman hayati yang telah diciptakan Tuhan dan mempromosikan kepada semua generasi untuk mencintai, bangga dan mengkonsumsi makanan lokal. Kalau makanan yang kita santap adalah makanan yang bergizi, berkuaitas tentu akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas di negeri kita Indonesia. Sebagaimana ungkapan yang menyatakan demikian: Food is the best medicine, but remember it’s for the local food, not for the junk food (Makanan adalah obat yang terbaik, tetapi harus diingkat, ini adalah makanan lokal bukan makanan sampah. Untuk menolong jemaat merasakan enaknya makanan lokal, dalam ibadah juga dilakukan Perjamuan Makanan Lokal. Jemaat menikmati enaknya wajik, jadah, klepon, tiwul, gatot, kue kacamata, ubi jalar, pisang godog, gembili, ubi jalar dll. Semoga kedaulat panggan di Indonesia tercapai, ketika salah satu pilar yaitu bangga, mencitai dan mengkonsumsi makanan lokal kita budidayakan.

Pdt. Retno Ratih

Add new comment