Ibadah Fajar Paskah "Kuasa KebangkitanNya Nyata dalam Hidup Kita"

Jemaat GKJ Manahan hari ini (5/4) merayakan kebahagiaan besar kebangkitan Tuhan Yesus dari antara orang mati melalui ibadah khusus Fajar Paskah. Ibadah dimulai dengan perarakan jemaat membawa lilin yang dinyalakan memasuki ruang ibadah.

Pewartaan Firman Tuhan disampaikan oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA yang mendasarkan pada bacaan leksionari dari Yesaya 25:6-9; Mazmur 118: 1-2, Kisah Para Rasul 10: 34-43 dan Injil Markus 16: 1-8.

Dalam kotbahnya, pendeta Ratih menyatakan bahwa kita pantas bersyukur dalam perayaan paskah. Kita memiliki Tuhan yang bangkit, Tuhan yang menang, Tuhan yang hidup. Kita pantas merayakannya dengan bahagia. Oleh sebab itu pula, gereja merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dirayakan dalam ibadah Minggu.

Sebelum peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, Paskah juga selalu dirayakan oleh bangsa Israel dengan penuh syukur dan kebahagiaan, mengingat kemenangan mereka atas kekuasaan dan kekejaman Firaun. Paskah berarti terlewati, sudah lewat semua kesesakan dan penderitaan.

Demikian pula dialami oleh para perempuan pengikut Tuhan Yesus, dalam kepedihan mereka akan kematian Tuhan Yesus, dalam sedikitnya waktu, mereka datang kekubur Yesus untuk merawat jenazah Tuhan Yesus. Ada banyak ketakutan yang mereka hadapi ketika mau mengunjugi kubur Yesus, bagaimana mereka akan bertemu dengan penjaga kubur Yesus, siapa yang akan membuka pintu kuburnya dan banyak ketakutan-ketakutan mereka.

Meskipun mereka sadar akan keterbatasan mereka, cinta mereka tetap membuat mereka melangkah. Di depan mereka ada batu yang besar, tetapi batu yang besar tidak menghalangi cinta mereka kepada tuhan. Dalam hidup kitapun, seringkali kita menemui batu yang besar yang menghalangi hidup kita yang mungkin sangat sulit untuk kita gulingkan. Mungkin persoalan ekonomi, sakit penyakit yang mebuat kita tidak berdaya, persoalan studi atau pekerjaan, kemarahan, kekecewaan dan banyak persoalan lain.

Para perempuan itu tidak putus asa, tidak meminta pertolongan orang lain, tetapi tetap berjalan dalam iman dan kasih mereka kepada Tuhan Yesus. Ketika mendapati batu penutup kubur telah terguling, betapa herannya mereka bagaimana hal itu bisa terjadi. Lebih lagi mereka ditemui oleh malaikat yang mengatakan supaya mereka jangan takut, dan menyatakan kebangkitan Tuhan Yesus dan memberitahu kepada para murid dan kepada Petrus bahwa Tuhan Yesus telah mendahului mereka ke Galilea.

Mengapa di Galilea? Dan bukannya Yerusalem yang mana mereka berteriak untuk penyalibanNya? Galilea adalah desa kecil, tidak ada yang menarik. Tetapi di desa Galilea inilah Tuhan Yesus menghabiskan waktu-waktu bersama para muridNya, di situ Tuhan Yesus berkotbah, menyembuhkan orang sakit, di situ pula Tuhan Yesus sehari-harinya melakukan kehidupan bersama pada muridNya. Kuasa kebangkitan Tuhan Yesus diberikan dalam suasana kehidupan yang sangat biasa. 

Bukankah kita juga memiliki kehidupan biasa yang kita jalani? Dalam keluarga kita biasa hidup, bercakap-cakap, makan apa adanya. Dalam kebangkitan Tuhan Yesus dalam hidup yang biasanya, maka demikianlah hidup kita yang biasa ini kita akan dimampukan menggulingkan batu kehidupan kita. Tuhan Yesus meunggu kita di keluarga kita. Di pekerjaan kita, si gereja ini.

Temuilah Dia, capailah Dia. Dalam kebiasaan sehari-hari kita, mari terus maju mencari dan ingin menemuiNya, maka di situ kita akan merasakan kuasa kebangkitan Tuhan Yesus nyata dalam kehidupan kita.