Ibadah Hari Pekabaran Injil Indonesia dan Hari Perjamuan Kudus Sedunia

Jemaat GKJ Manahan, hari ini (6/10) merayakan hari Pekabaran Injil Indonesia dan hari Perjamuan kudus sedunia dalam ibadah jam 06.30, 08.30 dan 18.00 WIB. Injil Lukas 17: 1-10 menjadi dasar pemberitaan Firman Tuhan oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dalam ibadah pagi.

Dalam kotbahnya, pendeta Ratih mengambil ayat 10 sebagai ayat Nats. Lukas 17:10 menyatakan "Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Pendeta Ratih juga menjelaskan bahwa melalui Hari Perjamuan Kudus Sedunia menegaskan kepada setiap umat beriman, bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus sekalipun setiap gereja memiliki keunikan dan kekhasan masing masing. Selain itu, Hari pekabaran injil indonesia yang hari ini juga dirayakan, menegaskan bahwa setiap kita yang sudah diikat dalam tubuh Kristus mendapatkan tugas memberitakan Injil keseluruh dunia.

Bukankah perjamuan kudus ini adalah bukti bahwa Tuhan memelihara iman kita, sehingga diharapkan kita menjadi jemaat yang berbuah pekabaran Injil. Setiap umat beriman hendaknya mengupayakan pertumbuhan rohani, melalui doa dan persekutuan.

Tanggung jawab orang beriman tidak hanya dalam hal pekabaran Injil, tetapi juga dalam pengampunan. Sebab melalui pengampunan, dunia akan melihat iman kita dalam Kristus. Dan untuk melakukan hal ini, membutuhkan iman yang kuat. Sebagaimana biji sesawi itu kecil sekali, tetapi kuat. Tidak ada sesuatupun yang bisa menghancurkannya. Demikianlah jika iman kita, meskipun hanya sekecil biji sesawi, maka bisa melakukan segala sesuatu perkara yang besar. Yang terpenting dalam hal ini adalah kualitas iman.

Iman yang berkualitas adalah iman yang memiliki hati seorang hamba, yang bekerja tulus tanpa mengharapkan pujian, dan tidak akan mundur ketika menghadapi celaan.

Paulus dalam Suratnya 1 Korintus 9 : 16-18 menyatakan "Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku."

Paulus tidak pernah berhak bermegah atas pekerjaan pemberitaan Injil. Lalu apa upahnya? Upahnya adala ia diizinkan memberitakan Injil tanpa upah. Menjadi rekan sekerja Allah dalam pemberitaan injil sudah merupakan keistimewaan, sebuah anugerah yang besar dari Tuhan.

Hari ini bersama umat beriman diseluruh dunia, kita menghayati kembali kasih Allah yang memelihara iman kita. Marilah kita membuktikan iman kita dengan memiliki hati seorang hamba yang bekerja tanpa pamrih demi pemberitaan Injil sehingga semua orang di dunia ini mengalami kasih Kristus.(Setia Purnomo)