Ibadah Minggu, 13 Juli 2014 “Menyemai Benih Kehidupan dalam Iman, Kebenaran dan Kasih”

Ibadah hari ini, Minggu (13/7) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Samuel Arif Prasetyono, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Injil Matius 13: 1-19, 18-23 mengenai perumpamaan tentang seorang penabur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyemai adalah menjadikan benih menjadi kecambah supaya menjadi bibit tanaman yang siap ditanam, siap menjadi pohon dan siap menghasilkan buah. Proses penyemaian ini penting karena sejak proses penyemaian ini menentukan apakah benih akan menjadi bibit unggul atau tidak. Dalam penyemaian, media tanah diperlukan supaya benih tersebut dapat tumbuh sesuai dengan harapan. 

Demikian pula Tuhan menghendaki kita supaya menghasilkan buah-buah yang baik yaitu nilai-nilai kerajaan Allah, yaitu keadilan, kedamaian, kasih, kesabaran dan kelemah lembutan yang akan menjadikan dunia lebih baik lagi.

Kita diingatkan sebagai umat Tuhan yang menghasilkan buah, apakah dalam proses menyemai ini kita sudah benar? Apakah kita sudah menjadi tanaman yang baik dan menghasilkan buah yang baik? Apa medianya? Hati. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat 19 dinyatakan “Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.”

Tuhan membagi-bagi sesaorang menjadi 4 kategori mengenai hati yang menjadi media proses penyemaian :

Pertama, hati dipinggir jalan, yaitu adalah seseorang yang seenaknya sendiri. Misalnya : Dalam keluarga kristen, semua anggota keluarganya memiliki kehidupan bergereja, akan memiliki kehidupan yang tertata dengan baik, dan sebaliknya jika ada satu orang yang tidak memiliki kehidupan bergereja yang baik, maka hidupnya menjadi tidak tertata dan menjadi beban bagi keluarganya.

Kedua, hati yang berbatu, sebagaimana dalam Matius 13: 20-21 dinyatakan bahwa “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” Sikap baik yang kita tunjukkan dalam peribadahan di dalam gereja, tidak menjamin sikap hidup kita di luar kehidupan bergereja juga baik. Beberapa diantara kita juga mungkin ada yang kelihatan baik di gereja, akan tetapi di kehidupan kesehariannya tidak melakukan hal yang baik, berkompromi dengan dosa dan cara hidup yang tidak benar. Demikianlah orang Kristen yang tidak integral, yang memisahkan kehidupan di dalam dan di luar gereja. 

Ketiga, hati yang bersemak duri. Hampir mirip dengan kategori yang kedua, hati yang bersemak duri ini adalah hati yang mudah goyah terhadap godaan. Baik dalam hal jabatan, pasangan hidup dan banyak hal lain yang lebih menarik didapatkan jika meninggalkan Tuhan Yesus, maka orang yang memiliki hati yang bersemak duri ini memiliki ciri orang yang mau enak sendiri. 

Keempat, hati yang rendah hati. Kerendahan hati membuat kita mudah untuk dibentuk menjadi benih yang akan menjadi bibit-bibit unggul yang siap menghasilkan buah bagi Tuhan.

Melihat tema kita hari ini, perlu kita lihat kontaks bahwa kitapun adalah juga petani. Supaya kita bisa menebarkan bibit-bibit positif dimanapun Tuhan mengutus kita, sehingga dimanapun kita berada, orang-orang akan merasakan kasih Tuhan dalam hidup mereka.

Selamat menyemai benih-benih iman, kebenaran dan cinta dalam hidup kita. Selamat menebarkannya, supaya bibit-bibit tersebut menhgasilkan buah-buah yang baik, sehingga dunia ini akan menjadi lebih baik keadaannya. Amin.