Ibadah Minggu, 15 September 2013 Ketika Sampah Masyarakat Bertobat

Ibadah Minggu (15/9) di GKJ Manahan jam 16.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan Tata Ibadah Minggu I. Kotbah didasarkan dari Injil Lukas 15: 1-10 perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dalam kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan kita bermasyarakat pasti muncul sebuah pernyataan demikian :“untuk apa menolong orang itu, orang itu layak dimusnahkan; lebih baik tidak ada di dunia ini!” Sebuah kalimat penolakan, yang mungkin sering kali telah kita dengarkan. Ada orang-orang yang menginginkan orang lain disingkirkan dari kelompok masyarakat. Dan biasanya, orang yang disingkirkan disebut sebagai sampah masyarakat.

Di tengah-tengah masyarakat, ada sekelompok orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Dianggap sebagai orang yang tidak berguna dan disingkirkan dari antara masyarakat. Tetangga-tetangganyapun akan sulit  menerima keberadaan orang-orang yang di cap sampah masyarakat.

Dalam keseharian kita, tentunya kita akrab dengan yang namanya sampah. Dalam hal makanan, memasak dan aktivitas lain, tentunya akan menghasilkan sampah. Dan tentunya, sampah bukanlah sesuatu yang akan kita simpan selamanya, apalagi jika sampah itu berbau busuk.

Jika dalam masyarakat ada orang-orang yang dicap sebagai sampah, dalam hal bergereja, adakah hal seperti ini? Bukankah setiap hari minggu kita mendengarkan Hukum Kasih yang dinyatakan dalam Matius 22: 37-40? Bukankah hal ini tentunya menunjukkan bahwa dalam gereja tidak ada seorangpun yang ditolak karena dianggap sebagai sampah masyarakat?

Pemberian label 'sampah' di tengah-tengah masyarakat mengikuti suatu ukuran tertentu untuk menyatakan apakah seseorang itu sampah atau bukan. Pertama : dalam hal perkataan, jika ada orang yang sering mengkritik, yang mana kritiknya hanya untuk mempermalukan orang lain, bukan untuk membangun orang lain apalagi jemaat. Kedua : Orang yang suka mencari perkara, selalu melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Hal-hal inilah yang membuat masyarakat memberikan cap sampah kepada orang-orang yang berkelakuan seperti yang telah disebutkan di atas.

Pada zaman Yesus, para pemungut cukai dan para pendosa dianggap sebagai sampah masyarakat, disingkirkan dan tidak boleh bergaul dengan masyarakat pada masa itu. Lukas 15: 1 menyatakan “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.” Tuhan menerima mereka. Datang kepada Tuhan Yesus adalah sebuah langkah pertobatan. Tetapi seringkali langkah pertobatan manusia itu tidak mulus, karena ada halangan dari orang-orang yang merasa dirinya suci di hadapan Allah.

Seandainya, ada seseorang yang dianggap sebagai sampah masyarakat, datang dalam ibadah ini, bersama-sama diantara kita. Akankah kita menerimanya sebagaimana Tuhan Yesus menerima orang-orang berdosa? Orang yang melangkah dalam pertobatan, diterima dan dihargai oleh Tuhan Yesus. DI hadapan orang banyak, Tuhan Yesus lalu menceritakan perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan tentang dirham yang hilang.

Orang-orang berdosa diakui dan diterima di tengah-tengah masyarakat. Di hadapan semua orang yang membenci para pendosa, mereka diumpamakan sebagai domba yang hilang, yang juga berharga di hadapan Tuhan.

Jika kita merasakan diri kita sebagai orang berdosa, ketahuilah, sebesar apapun dosa kita, Tuhan Yesus mau menerima kita. Langkah pertobatan ini yang perlu kita jalani, sebab Tuhan ingin kita bertobat dan Ia ingin membentuk ita, menjadikan kita sebagai milik kepunyaan Tuhan yang berharga, sekalipun kita dianggap sebagai sampah masyarakat.

Seandainya ada orang-orang disekitar kita yang dianggap sebagai sampah masyarakat, yang mau bertobat. Terimalah. Jadilah tempat sampah, tempat menerima sampah, terimalah orang-orang yang demikian sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Sehingga mereka bisa bertobat, kembali kepada Tuhan dan dijadikan umat Tuhan yang berharga.