Ibadah Minggu, 2 September 2013 "Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan"

Ibadah Penutupan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013 hari ini, Minggu (1/9) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fendi Susanto, S.Si. Dalam ibadah yang menggunakan liturgi khusus ini, Ibrani 10:36 menjadi nats pembimbing. Kotbah didasarkan dari Lukas 14: 7-11. Berkaitan dengan penutupan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013, Pendeta Fendi menyatakan bahwa dalam tema "Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan" ada 2 kata kunci yaitu 'disiplin' dan 'kualitas'.

Keadilan dan kesejahteraan di Indonesia bisa terwujud jika anak-anak bangsa mau menjadi generasi yang berkualitas. Republik Indonesia telah merayakan kemerdekaannya selama 68 tahun, namun muncul sebuah perenungan yang muncul seiring bertambahnya usia bangsa kita. Banyak anak bangsa yang masih hidup belum merdeka, baik secara ekonomi, hukum maupun sosial. Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. 

Bagaimana mungkin cita-cita luhur bangsa ini bisa tercapai jika generasi muda tidak mendapat pendidikan berkualitas?

Secara sumber daya alam, Indonesia adalah negara luar biasa kekayaan dan kesuburannya. Bahkan di era tahun 80'an ada Koes Plus menciptakan lagu yang terkenal yang menggambarkan betapa suburnya bangsa Indonesia ini dalam lagu "Kolam Susu". 

Segala sesuatu telah tersedia di Indonesia, tetapi mengapa realita berbicara lain? Mengapa masih banyak warga negara yang tidak hidup layak? Karena sumber daya manusia kita yang tidak berkualitas, dan akhirnya kita hanya menjadi bangsa yang terus bergantung pada sumber daya negara lain.

Kunci kemajuan bangsa Indonesia ada dalam 'kedisiplinan', kekurang mampuan mendisiplin diri akan membuat kita tidak mampu membangun hidup yang berkualitas. 

Orang yang mampu mendisiplin diri akan memiliki ciri :

  1. Kerendahan hati
  2. Mawas diri
  3. Integritas yaitu kesamaan dalam pemikiran, perkataan & perbuatan.

Kadang sulit bagi kita untuk menerapkan kedisiplinan dalam hidup kita, karena tidak rendah hati, tidaak bisa introspeksi diri apalagi integritas.

Gambarannya, dalam bacaam Firman Tuhan hari ini, adalah dalam acara perkawinan, ada orang yang merasa diri terhormat berebut duduk di tempat yang terhormat. Tuhan Yesus mengajarkan supaya dalam perjamuan, jangan duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang yang mengadakan perjamuan itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat, supaya jangan sampai orang itu, datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

Sudahkah kita rendah hati? Kata orang tua dulu, padi, semakin tua semakin menunduk.

Membangun kualitas itu holistik, tidak hanya fisik melainkan juga jiwa atau spiritualitas. Selama pembangunan hanya terpusat pada hal-hal fisik, maka jauhlah bangsa Indonesia ini dari kualitas.

Dalam pekan pendidikan kristen kita diingatkan akan tanggung jawab kita membangun negeri secara holistik. Didiklah anak-anak dengan kedisiplinan sehinga menjadi generasi berkualitas bagi bangsa Indonesia. Warisi generasi muda kita dengan keilmuan yang berkualitas. Mari kita mulai dengan mendisiplin diri, sebab orang yang disiplin adalah orang yang rendah hati, mawas diri dan memiliki integritas.

Mari terus tanpa henti berusaha mencetak generasi penerus bangsa yang disiplin dan berkualitas.