Ibadah Perjamuan Kudus “Pengharapan Hidup Kekal dalam Yesus”

Jemaat GKJ Manahan hari ini, Minggu (10/11) merayakan perjamuan kudus. Ibadah jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan Injil Lukas 20: 27-38 mengenai pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan.

Dalam kotbahnya, pendeta Ratih menyatakan bahwa perjamuan kudus adalah bagian penting dalam kehidupan iman kita, yaitu penhgarapan akan pemeliharaan Tuhan kepada kita. Perjamuan kudus yang kita terima memberi pengharapan bahwa kita akan mendapatkan bagian dalam perjamuan kudus di Surga. Demikianlah pengharapan akan kehidupan kekal ini menjawab pertanyaan orang Saduki yang tidak mengimani akan adanya kebangkitan.

Dalam masyarakat Yahudi, ada kelompok-kelompok orang yang berpengaruh, diantaranya adalah kelompok orang Saduki, yang memiliki pengaruh dalam jabatan-jabatan politik dan peribadatan umat. Kelompok lain yang juga memiliki pengaruh adalah kelompok orang Farisi, yang memiliki pengaruh hanya kepada rakyat kecil. Dan diantara kelompok orang Saduki dan kelompok orang Farisi, terdapat perbedaan diantaranya mengenai kebangkitan setelah kematian.

Orang Saduki tidak mempercayai akan adanya kebangkitan. Menurut mereka, jika seseorang sudah mati maka semuanya berakhir. Akan tetapi orang-orang Farisi dan Tuhan Yesus percaya bahwa ada kebangkitan setelah kematian.

Sekalipun berbeda pendapat, orang Saduki bertanya kepada Tuhan Yesus dengan pertanyaan yang ekstrim : "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itupun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."

Tuhan Yesus menyatakan bahwa dalam kebangkitan, tetapi dalam kebangkitan ini, tidak ada peristiwa kawin dan dikawinkan. Setiap masa memilihi proses yang berbeda. Hubungan yang terjadi dalam kebangkitan tidak lagi ada hubungan suami isteri, saudara, tetangga dan lain sebagainya, melainkan hubungan sebagai anak-anak Tuhan. Lukas 20: 36 menyatakan “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.”

Apa yang ingin dikatakan Tuhan Yesus mengenai hal ini? Tuhan yang hidup, Ia menghendaki kita mengalami kehidupan kekal dan abadi. Dan kehidupan kekal inilah proses yang telah kita alami ketika kita memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.

Kebangkitan Yesus dari kematian, memberikan pengharapan akan bagian hidup kekal bagi kita. Demikianlah kita seharusnya setia kepada Tuhan dan dalam proses kita menerima perjamuan kudus ini adalah saat dimana Tuhan meneguhkan kembali pemeliharaanNya dalam kehidupan kita.