Memberdayakan Pemberian Dengan Tepat

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan kaya? Punya harta yang begitu banyaknya, sehingga tidak habis dipakai tujuh turunan? Kalau seperti itu ukurannya, orang kaya dalam perumpamaan Yesus ini benar-benar kaya! Namun, mengapa Yesus menyebut bahwa orang kaya ini bodoh, dan juga bahwa orang kaya ini "tidak kaya di hadapan Allah" ? Siapa yang tidak ingin menjadi orang kaya? Semua orang pasti menginginkannya.

Kaya berarti memiliki uang banyak dan harta yang melimpah. Wow! Tapi sayang, banyak orang telah menempuh jalan yang salah guna mewujudkan keinginan menjadi orang kaya. Lihatlah di negara kita, banyak sekali orang yang berlomba-lomba menimbun kekayaan dan memperkaya diri meski dengan cara tidak halal atau melanggar hukum: korupsi, memanipulasi pajak, sampai membobol bank, mulai dari cara yang kasar (merampok), sampai dengan cara yang sangat halus yaitu mencairkan deposito dan menarik tabungan nasabah dengan memalsukan tanda tangan dan sebagainya.

Perumpamaan ini merupakan jawaban Yesus atas permintaan seseorang agar Yesus membela dia mengenai harta warisan. Yesus menolak permintaan itu, sebaliknya mengingatkan bahwa keterikatan pada harta kekayaan itu berbahaya.Yesus menyebut orang kaya tersebut bodoh.

Pertama, karena ia mengira kekayaannya itu segala-galanya. Bahwa hidupnya terjamin dengan adanya gandum melimpah di lumbungnya. Padahal, Yesus di kesempatan lain sudah mengingatkan bahwa menimbun harta di dunia itu sia-sia.Malah kebanyakan harta menimbulkan rasa was-was dan khawatir akan kehilangan. Bahkan ada orang yang selalu merasa tidak cukup dengan kelimpahan yang sudah dimiliki. Seperti komentar dari mulut seorang hartawan terkenal di dunia modern, bahwa ia akan merasa cukup kalau ia bisa mendapat sedikit lebih lagi dari kekayaan yang ia miliki sekarang.

Kedua, karena di hadapan Allah orang kaya itu miskin! Hidupnya hanya berfokus pada hartanya, sebenarnya pada diri sendiri.Ia tidak pernah berpikir sedikitpun bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas hidupnya. Ia tidak pernah mengumpulkan harta di surga. Harta dunianya tidak bisa dia bawa ke surga. Orang lain pun tidak pernah merasakan berkat karena kekayaannya itu, kecuali setelah ia mati. Dengan kata lain, ia dikatakan miskin karena hidupnya tidak berguna di mata Allah.

Kaya di hadapan Allah ialah merasa cukup karena anugerah-Nya. Sehingga ia sanggup memberi kepada mereka yang membutuhkan. Sebaliknya, walaupun harta banyak, tetapi tidak mampu memberi itu tandanya miskin.Jadi, Kita kaya atau miskin?

Sadarkah kita bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara? Lalu bagaimana dengan harta kita? Ayub berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya."(Ayub 1:21a). Perhatikan kisah orang yang sangat kaya dalam bacaan di atas. Mengapa orang kaya itu disebut orang kaya yang bodoh? Karena ia beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada padanya itu adalah miliknya. Ingat, kita ini hanyalah pengelola, bukan pemilik, "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar." (1 Timotius 6:7).

Semua yang kita miliki di dunia ini adalah milik Tuhan, sebagaimana tertulis: "Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya." (Mazmur 89:12). Sewaktu-waktu bisa saja Tuhan mengambilnya dan kita pun tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi orang kaya tersebut kesenangan jasmani (kepuasan tubuh) adalah segala-galanya; kepentingan tubuh jasmaninya lebih utama daripada jiwanya.

Mari simak pernyataan orang kaya itu: "Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" (Lukas 12:19). Orang kaya ini lupa bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kekayaan yang ia miliki telah menutup mata rohaninya. Dan ketika Tuhan mengambil nyawanya, untuk siapakah kekayaannya itu?Adalah sia-sia belaka memiliki kekayaan melimpah, jika pada akhirnya harus mengalami kebinasaan kekal.

Harapan yang juga diinginkan Yesus saat kita menerima berkatNya dapat menggunakan dengan hikmat yang benar.Harapan yang senantiasa ditekankan bagi orang yang hidup dalam dan bersama Kristus adalah memperbaruhi hidupnya dalam pengetahuan yang benar.Berusaha tiada putus-putusnya dalam hikmat yang benar.Amin.

Bacaan I : Pengkotbah 1 : 2, 12-14, 2: 18-23
Masmur : Masmur 49 : 1-12
Bacaan II : Kolose 3 : 1-11
Bacaan Injil : Lukas 12 : 13-21

Sumber: Warta Gereja 31 Juli 2016

Add new comment