Pekerja yang Terpercaya

Setiap kita tentu ingin dipercaya oleh orang lain. Rasa-rasanya sedih kalau kita tidak dipercaya. Membangun relasi dengan orang lain baik dengan pasangan, atasan, teman bisnis, tetangga dll membutuhkan sikap saling percaya. Ketika kita sudah tidak percaya maka hubungan kita dengan pihak lain akan luntur dan rusak. Sementara untuk mengembalikan kepercayaan kembali bukanlah hal yang mudah. Hanya saja untuk menjadi orang yang dipercaya butuh proses yang tidak singkat.

Seperti halnya seorang mendirikan bangunan, perlu waktu, butuh ketekunan dan harus dilakukan satu demi satu dengan setia. Dalam pengalaman sehari-hari kita percaya kepada seseorang, misalnya saja kita percaya kepada seorang pedagang karena dari perjumpaan dan pengalaman bertransaksi dia tidak pernah mengecewakan. Tak pernah curang dalam timbangan dan selalu memberikan barang yang terbaik. Demikian juga kita bisa percaya dengan seorang pekerja karena dalam waktu yang cukup lama kita pernah bekerja dan melihat hasil kerjanya yang baik. Kualitas kerjanya terjamin, terlepas dalam keadaan yang menyenangkan maupun keadaan yang tidak menyenangkan.

Panggilan untuk menjadi pekerja yang dapat dipercaya dalam semua keadaan inilah panggilan kita. Hal ini dinyatakan oleh Tuhan Yesus agar kita senantiasa menjadi hamba-hamba yang siap sedia dalam semua keadaan. Menjadi hamba yang tidak hanya bekerja ketika diawasi oleh tuannya, tetapi menjadi pekerja yang terus bekerja terlepas tuannya ada di dekatnya atau tidak.
Hamba yang seperti ini adalah hamba yang menjaga kepercayaan yang sudah diberikan oleh tuannya. Dia bekerja tidak hanya untuk mencari muka atau sekedar dengan motto ABS (Asal Bapak Senang). Kalau ada tuannya pura-pura rajin, tetapi kalau tidak ada tuannya akan berkerja seenak sendiri. Tidak seperti itu.Hamba yang menjaga kepercayaan tuannya adalah seorang hamba yang bekerja dengan tulus dan dengan penuh kesungguhan.

Kebahagiaannya adalah kalau tuannya berkenan dengan apa yang telah dikerjakan, kalau dia bisa melayani tuannya baik itu siang, atau malam. Bagi hamba yang menjaga kepercayaan tuannya dengan bersungguh-sungguh, dialah yang juga akan beroleh kebahagiaan yaitu beroleh kerajaan (ayat 32).

Menjadi hamba yang seperti ini tentu tidak mudah, dibutuhkan totalitas, perlu fokus. Lalu apa yang sering membuat seorang pekerja tidak fokus? Secara umum tentu saja persoalan materi. Kebutuhan materi ini yang seringkali membelokkan niat untuk bekerja secara total bagi pekerjaan Tuhan. Secara rasional tentu ini dapat dipahami karena setiap orang memiliki kebutuhan bagi tercukupi kebutuhan materi bagi dirinya maupun keluarga. Bahkan tak jarang orang sangat mengkawatirkan kebutuhan materi. Di tengah kecenderungan seperti ini Tuhan Yesus mengatakan: “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua.....”

Sebuah perintah yang radikal karena kita harus merelakan harta milik kita. Apakah kita bisa melakukan itu? Lalu bagaimana kita dapat melangsungkan kehidupan? Perintah Tuhan Yesus ini tentu saja tidak hendak mengajak kita untuk melepaskan seluruh kekayaan kita sampai kita tidak memiliki apa-apa lagi. Tetapi melalui firmannya Tuhan Yesus mengingatkan supaya kita tidak melekatkan diri pada yang materi. Yang materi memang kita butuhkan, tetapi kalau hati kita melekat kepadanya, kelekatan kita pada yang materi ini akan menjadi penghalang bagi kita untuk menjadi hamba yang baik dan dapat dipercaya bagi Tuhan. Melalui sabdanya ini sebenarnya Tuhan Yesus juga mengajar kita untuk menempatkan materi pada tempat yang benar. Materi adalah sarana kehidupan bukan sumber kehidupan. Sumber kehidupan kita adalah Tuhan. Bahkan melalui firmannya kita juga diingatkan untuk menggunakan materi ini dalam rangka menopang pekerjaan Tuhan. Amin.

Bacaan: Kejadian 15:1-6; Mazmur 33:12-22; Ibrani 11:1-3, 8-16; Lukas 12:32-40

Sumber: Warta Gereja, 7 Agustus 2016

Add new comment