Puasa dalam Tradisi Kekristenan

Dalam tradisi iman, puasa sudah dilakukan sejak pada jaman leluhur (baca: Perjanjian Lama). Dimana tujuan tradisi puasa nampak dalam prakteknya, di antaranya memperlihatkan atau menggambarkan bahwa secara lahiriah seseorang berduka, I Sam 31:13; Neh 1 :4. Menyatakan bahwa seseorang betobat, I Raja 21:27; Dan 9:3-4. Termasuk berpuasa dalam rangka memohon bimbingan dan pertolongan Tuhan, Kel 34 : 28 ; Ul 9:9.

Demikian juga di dalam Perjanjian Baru, Lukas 18:12 mencatat bahwa orang farisi memelihara tradisi puasa dua kali seminggu. Hana sebagai seorang Nabi juga berpuasa, Lukas 2 :36-37. Yesus Kristus sendiri diceritakan dalam Matius 4 :1-4, berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum selama empat puluh hari, empat puluh malam. Bagi Yesus Kristus, Puasa tidak sekedar hanya menahan lapar dan haus atas makanan dan minuman. Lebih luas lagi, puasa bagi Yesus Kristus yaitu menahan diri dari nafsu untuk memiliki dan menguasai harta kekayaan, kenikmatan serta kemudahan yang ditawarkan iblis kepadaNya.

Dalam kehidupan umat, tradisi puasa bukan hanya sekedar melestarikan apa yang sudah dilakukan sejak dulu. Namun lebih kepada penghayatan akan makna puasa yang dapat membangun kehidupan spritualitas umat. Sebagaimana yang dihayati oleh Tuhan Yesus untuk mengendalikan diri dari godaan dunia dalam rangka memenuhi tugas panggilannya di dunia ini. Dimana tradisi tersebut dilakukan 40 hari, setelah Rabu Abu sampai Paskah, yang merujuk pada puasa Tuhan Yesus selama 40 hari 40 malam di padang gurun. Bahwa dalam puasa tersebut, Tuhan Yesus hendak menghayati akan tugas dan panggilannya di dunia ini. Selain itu juga hendak menghayati kedekatanNya dengan Allah yang menyertainya dalam padang gurun. Yang memang menguatkan Tuhan Yesus untuk menjalankan komitmenNya sampai di kayu salib.

Aksi puasa dalam Masa Paskah ini, merupakan tanggapan kesanggupan umat mewujudkan kehidupannya setelah melakukan pertobatan pada Rabu Abu. Dengan tujuan mengajak umat untuk mengingat kembali akan tugas dan tangung jawab kita di dunia ini dengan mengendalikan nafsu kedagingannya. Melalui Aksi Puasa ini umat dapat menghayati hubungannya secara intim dengan Allah dalam gurun kehidupan. Dimana ketika umat ditengah-tengah situasi yang terbatas dapat merasakan cinta kasih Allah. Melalui Aksi Puasa umat selalu dimampukan untuk menjaga komitmen akan salib yang dipikulnya. Dengan demikian umat dapat menyadari keberadaannya ditengah-tengah dunia ini sebagai Pengikut Kristus sampai kedatangan-Nya.

Add new comment