Puasa: Memberlakukan Kasih dan Keadilan

Tujuan:
Jemaat menghayati makna Puasa dengan cara melakukan karya Allah yang membebaskan, sehingga mereka terdorong untuk memberlakukan kasih dan keadilan.

I. PENDAHULUAN

Tradisi PUASA sudah lama menghilang dari kehidupan komunitas Gereja-gereja Kristen Jawa. Maka tak perlu heran, manakala tradisi ini hendak dihidupkan kembali (dimulai sekitar 1998) sebagai suatu disiplin rohani yang mendukung pembinaan spiritualitas Kristen, lalu banyak warga gereja yang kaget. "Lho… kok kita tiru-tiru agama lain", ungkap seorang warga. "Ya, buat apa kita berpuasa, kan Tuhan Yesus sudah berpuasa untuk kita" tambah seorang aktivis di sebuah gereja. Sungguh pun demikian, Puasa tetap dianjurkan untuk dilakukan di GKJ, antara lain melalui berbagai kegiatan yang dimotori oleh LPP Sinode (Lembaga Pengaderan dan Pembinaan Sinode) GKJ dan GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah. Puasa yang dianjurkan adalah Puasa menjelang Paskah dalam kegiatan MPDK (Masa Penghayatan Dasar Kekristenan).

Sehubungan dengan hal tersebut ada berbagai kenyataan yang terdapat dalam kehidupan jemaat GKJ. Sekurang-kurangnya, ada 4 kelompok:

  1. Kelompok yang diam-diam "sulit menerima" masuknya tradisi puasa untuk diberlakukan di GKJ. Implikasinya tampak pada keengganan mereka untuk melakukan Puasa. Alasannya, karena bertentangan dengan kebiasaan gereja selama ini.
  2. Kelompok yang "sendika dhawuh" yang tidak keberatan adanya tradisi Puasa kembali dilakukan di GKJ. Implikasinya tampak pada kesediaan mereka untuk mencoba melakukan Puasa, meskipun mereka belum mampu menjelaskan apa, bagaimana dan mengapa perlu berpuasa secara benar. Alasannya, karena mereka yakin bahwa anjuran Sinode pasti baik dan tidak sembarangan, pasti sudah melalui proses pertimbangan untuk mendukung peningkatan spiritualitas Kristen.
  3. Kelompok yang "ragu-ragu" yang tidak menolak pemberlakuan Puasa di GKJ, namun mereka juga tidak langsung menyetujui dan memberlakukannya. Implikasinya tampak pada usaha-usaha untuk mempelajari dan mencari sumber-sumber tentang Puasa Kristen. Kebanyakan dari mereka masih bingung, karena tidak ada petunjuk tehnis yang jelas dan mudah dimengerti tentang bagaimana Puasa Kristen harus dilakukan.
  4. Kelompok yang "memahami" tentang tradisi Puasa yang perlu diberlakukan lagi di GKJ sebagai salah satu disiplin rohani untuk mendukung spiritualitas Kristen. Implikasinya tampak pada kesungguhan mereka untuk melakukan Puasa Kristen yang dilandasi dengan pemahaman mengenai Puasa Kristen berlandaskan Alkitab serta mempertimbangkan kenyataan kehidupan jemaat pada masa kini.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam Masa Penghayatan Dasar Kekristenan th.2009, jemaat akan diajak untuk menghayati makna Puasa berdasarkan Alkitab, tidak sekedar membatasi makan dan minum (seperti puasa pada umumnya) tetapi lebih dari pada itu adalah melakukan karya Allah yang membebaskan, sehingga mereka terdorong untuk memberlakukan kasih dan keadilan secara nyata dalam kehidupan mereka masing-masing.

Untuk menghayati makna puasa, pada bagian ini akan dipaparkan beberapa dasar Alkitab berdasarkan bacaan

LEKSIONARI TAHUN B, maka bacaan yang digunakan dalam Renungan RABU ABU , yaitu (a) Yesaya 58: 1 – 12, (b) Mazmur 51: 1 – 17, (c) II Korintus 5:20b – 6:10, serta (d) Matius 6:1 – 6.

(a) YESAYA 58:1 – 12

Perikop ini bisa diberi judul PUASA YANG SEJATI.

Nabi Yesaya bin Amos secara serius mengingatkan umat Yehuda agar kembali bertobat kepada TUHAN karena selama ini mereka mengalami kemerosotan moral yang hebat. Untuk itu ia bernubuat dengan suara lantang bagaikan sangkakala (58:1). Kondisinya semakin parah karena umat Allah (Yehuda) rupanya jatuh pada penghayatan agama yang legalistic – formalistic (mengutamakan formalitas sesuai dengan aturan/hukum agama yang berlaku), namun secara hakiki mereka jauh dari Allah (ay.2). Yesaya menegaskan bahwa PUASA yang tidak dilandasi oleh spiritualitas yang benar adalah sia-sia belaka (ay.3-4 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi)

Puasa yang dikehendaki Allah adalah "merendahkan diri" dan "mewujudkan keadilan" kepada sesama (ay.6) ,mewujudkan "cinta kasih" dan kepedulian kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita (ay.7). Bila hal itu dilakukan maka ada berkat TUHAN yang pasti diterima, yaitu:

  • Ada pengharapan di tengah kesesakan dan pergumulan (ay. 8, 10)
  • Ada relasi yang baik dengan Tuhan (ay. 9)
  • Ada pengharapan di dalam Tuhan (ay. 10)
  • Ada pertolongan Tuhan (ay. 11)
  • Ada jaminan keberhasilan (ay. 12, 14)

Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa PUASA bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa juga bukan sekedar memenuhi Hukum Agama.

Namun lebih dari itu semua bahwa Puasa adalah kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan terhadap sesama manusia.

(b) MAZMUR 51 : 1 – 17

Perikop ini bisa diberi judul PENGAKUAN DOSA.

Raja Daud sedang menerima tegoran keras dari nabi Natan sehubungan dengan dosanya, sebab ia merampas isteri Uria (yakni: Batsyeba) dan dengan cara yang licik ia menjadi penyebab kematian Uria. Menanggapi tegoran sang Nabi, ternyata Raja Daud tidak menjadi murka, atau membela diri, atau tersinggung (sebagaimana layaknya manusia yang jatuh dosa), tidak!. Berhadapan dengan tegoran illahi melalui Nabi Natan, Raja Daud lalu menyediakan diri untuk mengaku dosa, bertobat serta mohon pengampunan TUHAN.

Raja Daud meyakini sepenuhnya bahwa pertobatan lebih penting katimbang upacara kurban. Dan pengakuan dosa yang tulus iklas adalah lebih penting dari segala macam aturan agamawi. Itulah sebabnya Daud menegaskan: Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazm. 51: 16 – 17).

Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa pertobatan, pengakuan dosa serta mohon pengampunan Allah adalah unsur yang sangat penting daripada sekedar menuruti syariat-syariat agama.

(c) II KORINTUS 5:20b – 6:10

Perikop ini bisa diberi judul PELAYANAN PERDAMAIAN.

Pada bagian ini Rasul Paulus menegaskan tentang pelayanan perdamaian yang ia lakukan sebagai uusan-utusan Kristus. Ia mengajak jemaat agar bersedia membuka diri untuk didamaikan dengan Allah, melalui karya Tuhan yesus Kristus (5:20). Paulus memberikan nasihat agar orang-orang Korintus jangan sampai murtad sehingga membuat sia-sia kasih karunia Allah (6:1).

Selanjutnya Rasul Paulus, sebagai pemimpin jemaat, sekaligus sebagai pelayanan Allah, ia telah memberikan teladan yang sangat baik Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela (II Kor. 6:4 – 7). Paulus juga mengungkapkan bahwa tradisi PUASA ia lakukan untuk melatih diri dalam penyertaan Tuhan.

Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa menjadi orang Kristen berarti bersedia "menjadi alat perdamaian TUHAN" yang semestinya terwujud /kelihatan dalam perilaku kehidupan ini. Dan PUASA adalah menjadi salah satu disiplin rohani yang sangat penting untuk mendukung pelayanan sebagai umat TUHAN.

(d) MATIUS 6:1 – 6, 16 – 21

Perikop ini terdiri atas tiga bagian yaitu: diberi judul HAL MEMBERI SEDEKAH, DOA dan BERPUASA. Pada bagian ini Tuhan Yesus menegaskan tentang TIGA DISIPLIN ROHANI yang sangat penting, yang semestinya dilakukan dengan benar oleh umat Allah. Sedekah semestinya dilakukan dengan benar dalam ketulusan dan kerendahan hati, bukan dalam kesombongan dan pamer. Begitu juga dengan doa yang adalah relasi manusia dengan Allah secara pribadi, semestinya dilakukan dengan benar dan penuh kesungguhan, bukan dengan kemunafikan dan sekedar untuk memenuhi syariat agama.

Demikian juga pada bagian berikutnya ditegaskan tentang perlunya berpuasa secara benar!. Seperti halnya dengan Sedekah dan Doa, PUASA pun hendaknya dilakukan dengan kesungguhan dan bukan formalitas. Puasa Kristen bukan sekedar menjalankan perintah agama, melainkan suatu disilin rohani untuk melatih diri semakin dekat dengan Allah. Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa Sedekah, Doa dan Puasa perlu kita lakukan dengan baik dan benar, bukan sekedar menjalankan syariat agama, melainkan suatu ketaatan kepada Allah.

II. KESIMPULAN – KESIMPULAN PENTING TENTANG "PUASA KRISTEN"

Dari berbagai tafsiran teks tersebut di atas, (a) Yesaya 58: 1 – 12, (b) Mazmur 51: 1 – 17, (c) II Korintus 5:20b – 6:10, serta (d) Matius 6:1 – 6. Maka bisa kita tarik kesimpulan penting sebagai berikut:

  • Puasa merupakan salah satu disiplin rohani yang penting. Namun
  • makna Puasa adalah kesediaan diri untuk MENGENDALIKAN DIRI, termasuk membatasi jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi, selain itu adalah
  • kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah
  • yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan secara nyata terhadap sesama manusia.
  • Dan Puasa itu semestinya dilakukan oleh setiap orang Kristen dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.

Sehubungan dengan hal tersebut maka, dalam MPDK ini jemaat didorong untuk melakukan Puasa mulai tanggal 15 Maret – 11 April 2009.

Beberapa petunjuk praktis tentang puasa:

  1. Masing-masing dari kita diberi keleluasaan untuk menentukan bentuk puasa yang akan kita jalani, apakah berbentuk total (sehari suntuk), normal atau partial (pantang ) tidak makan daging, tidak merokok, tidak nonton film. Hal ini juga dapat kita lakukan bersama keluarga, ketika keluarga membuat kesepakatan agar seluruh anggota keluarga ikut berpuasa.
  2. Selama berpuasa tambahlah waktu untuk bedoa dan pembacaan Alkitab.
  3. Tentukan juga target kwantitatif, misalnya saudara akan mengatasi kebiasaan marah, berprakarsa untuk berdamai, memafaatkan orang-orang yang pernah melukai kita, mengatasi kegilaan dengan hobi, mengurai keluh kesah karena ada masalah atau karena situasi ekonomi dll. Dalam pergumulan-pergumulan seperti itu mohonlah kepada Tuhan dengan doa-doa khusus.
  4. Berusahalan untuk tetap bekerja dengan baik pada saat puasa. Tidak usah minta dihormati pada saat menjalankan puasa, tetaplah menghargai dan menghormati mereka yang tidak berpuasa.
  5. Berpuasalah dengan sukacita, dengan niat dan itikat yang benar, nikmatilah masa bepuasa dengan ketulusan.
  6. Sebagai buah dari puasa, hasil pengurangan konsumsi makan atau pengeluarkan karena hobi, dikumpulkan bersama yang hasilnya akan kita gunakan untuk pemberdayaan ekonomi jemaat.

Secara tehnis, panitia menyediakan kotak Puasa MPDK 2009 yang dibagi melalui blok, atau bapak ibu bisa mendapatkannya melalui kantor gereja. Kotak tersebut akan kembali di kumpulkan pada saat kita merayakan Paskah pada tanggal 12 April 2009.

Surakarta, 28 Pebruari 2009

Pdt. Retno Ratih S Handayani

SELAMAT BERPUASA

Comments

awesome...............................JBU

Add new comment