Siap di Utus, Siap di Tolak

Sikap manusia sangat mudah berubah-ubah,ibarat air mengikuti bentuk wadahnya. Satu sisi baik karena menyesuaikan diri, tetapi di satu sisi sangat tidak tetap pendirianya. Manusia cenderung berubah dan sangat bervariasi. Terkadang perubahan itu membahayakan walau terkadang menguntungkan. Ketidaktepatan itu mencerminkan ketidakkekokohan pemahaman akan Tuhan. Maka sebaiknya manusia mulai belajar memahami Tuhan seperti Tuhan memahami manusia sehingga manusia tidak ditolak-Nya.

Jika Tuhan itu seperti manusia yang suka berubah-ubah, maka suatu ketika kita yang telah percaya bisa ditolak Allah karena melihat manusia walaupun sudah percaya masih jatuh bangun dalam dosa. Bersyukur Allah tidak seperti manusia, sehingga Dia berkata :”Aku mengasihi engkau dengan kasih kekal (Yer 31:3b).
Kalau kita perhatikan lukas 4:21-30 tadi timbul pertanyaan :

  1. Apa yang kita pahami tentang pernyataan orang-orang Nazareth “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (ayat22)
  2. Bukankah di awal kotbah Yesus, orang–orang Nazareth terkesan sangat kooperatif. Tetapi mengapa tiba-tiba di ayat 28-29 mereka tiba-tiba marah dan menghalau Yesus ?

Kalimat yang cocok untuk menjelaskan pernyataan orang-orang Nazareth terhadap Yesus adalah “Mana mungkin seorang anak Yusuf seperti Dia, yang orang tuanya mereka kenal sebagai tukang kayu dapat berkotbah begitu indah?” Seakan tidak percaya dan tidak menerima akan keberadaan dan pengajaran Yesus yang saat itu sedang berada di tengah-tengah mereka.

Di sini mereka menunjukkan sifat statis dalam menilai Yesus. Mereka mengira bahwa Yesus adalah manusia biasa yang selama ini mereka kenal. Persoalan utama mereka adalah salah mengerti tentang diri Yesus. Ketika mereka salah mengerti dan tidak mengenal Yesus yang sebenarnya muncul penolakan terhadap Yesus. Penolakan itu menjadi benteng bagi mereka untuk tidak bersedia disadarkan bahwa mereka keliru/salah dalam menilai Yesus. Keengganan untuk disadarkan meningkat menjadi perlakuan anarkhis, kasar dan memberontak. Sifat-sifat seperti itu menjadi modal mereka untuk memanfaatkan setiap ketidaksepahaman mereka terhadap pernyataan Yesus. Sekalipun setiap pernyataan Yesus itu adalah fakta yang ada dalam diri mereka.

Orang-orang Nazareth tersebut marah dan berubah seketika karena mendengar kotbah Yesus yang terkesan lebih menjunjung orang asing ketimbang orang Yahudi yang adalah bangsaNya sendiri. Yesus memang menjelaskan bagaimana Elia dilayani oleh janda Sarfat-Sidon (kafir) ketika terjadi kelaparan di Israel dan Elisa yang justru mentahirkan Naaman orang Siria (kafir) daripada mentahirkan begitu banyak orang sakit kusta di Israel. Bagi orang Nazareth itu alasan yang tepat untuk menolak bahkan mau menghabiskan Yesus (ayat 28-29).

Apa yang penting dari renungan ini, Yesus hendak mengajarkan kepada kita, bahwa : pemahaman yang keliru tentang Yesus berdampak pada mengeraskan hati terhadap pengajaran-Nya. Hati yang keras sulit menerima perubahan yang ingin Tuhan Yesus lakukan dalam diri seseorang. Jangankan menerima tetapi justru menolak. Jika kita ingin mengalami keajaiban Tuhan Yesus, kenalilah dia bukan dengan pemahaman manusiawi tetapi dengan pemahaman iman kepercayaan kepada-Nya. Amin.

Bacaan I : Yeremia 1 :4-10
Mazmur Antar Bacaan : Mazmur 71:1-6
Bacaan II: I Korintus 13:1-13
Bacaan Injil : Lukas 4 : 21-30

Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 31 Januari 2016

Add new comment