Kotbah

Daftar Kotbah GKJ Manahan

Ibadah Natal 2011 “Menyambut Kehadiran Yesus Kristus di Tengah-Tengah Kita dengan Kesederhanaan”

Minggu (25/12) adalah peristiwa spesial bagi jemaat GKJ Manahan, tidak hanya sukacita merayakan Natal, tetapi dalam ibadah pagi dan siang, beberpa jemaat menerima sakramen sidi dan sakramen baptis sebagai tanda iman mereka pada Yesus Kristus, Sang Juru Selamat Dunia. Dalam kedua ibadah tersebut, Pendeta Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si melayani sakramen, dan mendasarkan kotbahnya dari bacaan Injil Lukas 2: 1-20.

“Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih SetiaNya”

“Syukur identik dengan memuji Tuhan, praise, tehilim adalah hal yang sangat fundamental dalam pemahaman theologis dalam seluruh kitab Mazmur. Mazmur sesungguhnya berbicara tentang perjalanan iman dari orang-orang percaya.” kata Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF dalam sesi ketiga Retreat Komisi Adiyuswa dan Komisi Warga Dewasa, minggu lalu (20/11) di River Hill, Tawangmangu.

Bagaimana pemazmur bersyukur? Pemahaman secara umum, syukur lebih berupa uangkapan bahasa verbal yang diungkapkan secara bagus, sehingga kalau ada orang yang mengungkapkan dalam ratapan atau mengeluh (complaint) dipandang tidak bersyukur.

Ibadah Penutupan Bulan Keluarga Tahun 2011 “Merendahkan Diri”

Ibadah minggu (30/10) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Janoe Widyapramono, S.Si menggunakan Liturgi Khusus Penutupan Bulan Keluarga 2011 dengan nats pembuka dari Efesus 5: 20-21. Kotbah didasarkan dari bacaan Leksionari diantaranya Mikha 3: 5-12, I Tesalonika 2: 9-13 dan injil Matius 23: 1-12. Tema kotbah hari minggu ini adalah Merendahkan Diri. Merendahkan diri tidak sama dengan rendah diri. Rendah diri berarti tidak memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri. Sedangkan merendahkan diri merupakan sikap positif yang seharusnya dimiliki para pengikut Kristus. Lebih lanjuat mengenai merendahkan diri, bisa kita baca dalam Filipi 2. 5-8 yang menyatakan “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Ibadah Minggu, 9 Oktober 2011

Ibadah minggu (9/10) jam 16.00 WIB di GKJ Manahan dilayani oleh Vikaris Samuel Arif Prasetyono, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Surat Filipi 4: 1-9. Diawal kotbahnya, Samuel mengenakan blangkon. Dengan blangkon ini, hendak ditunjukkannya bahwa blangkon telah menjadi ciri identitas bagi orang jawa. Mengapa blangkon menjadi cirikhas jawa? Siapakah yang menentukan bahwa blangkon harus menjadi ciri khas orang jawa? Atau mungkin koteka menjadi ciri khas orang Papua dan lain-lain. Bukan Tuhan atau raja yang menentukan, melainkan komunitas. Jika banyak orang menyatakan sebuah ciri tertentu menjadi simbol bagi suatu suku tertentu, maka istilah khas itu dilekatkan.

Ibadah Perjamuan Kudus Sedunia, 2 Oktober 2011

Minggu lalu (2/10) di GKJ Manahan diselenggarakan ibadah dengan menggunakan liturgi khusus dari Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM) dalam rangka peringatan Hari Perjamuan Kudus Sedunia dan Hari Pekabaran Injil Indonesia. Dalam hal jam ibadah, khusus hari ini dilakukan perubahan jam ibadah bagi ibadah siang dari seharusnya jam 08.30 WIB diundur menjadi jam 09.00 WIB untuk memberi jeda waktu persiapan antar jam ibadah yang menggunakan liturgi khusus. Ibadah pagi jam 06.30 WIB dilayani oleh Pdt. Widya Notodiryo, S.Th, sedangkan ibadah jam 09.00 WIB dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Matius 21: 33-46.

Ibadah Minggu, 18 September 2011 “Teruslah Bersemangat Untuk Tuhan”

Ibadah Minggu (18/9) jam 18.0 WIB di GKJ Manahan menggunakan liturgi khusus hari Alkitab yang diadaptasi dari model liturgi Model Liturgi dari Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Gunung Sitoli – Nias – Sumatra Utara. Pelayanan Firman oleh Bp. Drs. Ec. Dwi Danan PP, M.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Roma 12: 11 dan Ibrani 6: 11. Berikut ini ringkasan kotbahnya yang bertema “Teruslah Bersemangat Untuk Tuhan”.

Mengapa kita diminta bersemangat? Pertama, karena Firman Tuhan adalah suatu kebenaran. Tidak ada kebenaran yang lain. Kedua, karena Firman Tuhan itu menuntun kita kepada karya keselamatan. Firman Tuhan itu yang membimbing kita sehingga kita selamat.

Ibadah Minggu, 11 September 2011 “Pengampunan Yang Tiada Batas”

Ibadah Minggu (11/9) jam 08.30 WIB di GKJ Manahan dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, Ssi, dengan kotbah yang didasarkan dari Matius 18: 21-35. Berdasarkan bacaan tersebut, kotbah membahas mengenai pengampunan yang tiada batas. Di awal kotbahnya, Pdt. Fritz menunjukkan sebuah buku berjudul Dua Tahun Pertama Hidup Berkeluarga, karangan Kathleen Fischer Hart dan Thomas N. Hart. Satu bagian buku tersebut menyatakan kisah tentang Toni dan Santi yang telah lima tahun berkeluarga tetapi sejak tahun pertama sudah mengalami konflik. Masing-masing merasakan tidak ada yang spesial dalam kehidupan berkeluarga mereka. Oleh sebab mereka saling memendam kemarahan dan merasa susah dan tidak mampu mengenal pasangannya dengan baik, akibatnya mereka tidak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan mereka.

Visitasi Klasis Kartasura di GKJ Manahan

Hari ini, Kamis (25/8) di GKJ Manahan dilaksanakan visitasi oleh BAPELKLAS Kartasura. Visitasi dibuka dengan menyanyikan pujian dari Kidung Jemaat No. 3 dipimpin oleh ibu Widyarti Riani Hutapea, dilanjutkan pelayanan Firman oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan kotbah yang didasarkan Surat Filipi 2: 1 – 11. Dalam kotbahnya, Pdt. Fritz menyatakan mengenai persekutuan. Tentang bagaimana kita berkumpul sore ini, ada ibu-ibu, bapak-bapak, ada yang sudah sepuh, yang setengah baya maupun kaum muda. Namun, kalau kita dikatakan berkumpul, apakah selalu berpadu? Belum tentu. Itulah yang dimaksudkan oleh Rauven Kahane ketika ia mengatakan “Mixed but not combined” dalam bukunya The Problem of Political Legitimacy in an Antagonistic Society : The Indonesian Case (London: Sage Publication, 1973). Di Indonesia ini, orangnya memang berbaur dengan suku, agama dan golongan yang berbeda-beda. Tetapi sekalipun berbaur, tetapi tidak berpadu. Artinya ada kemungkinan adanya disintegrasi bangsa. Sehingga tak heran dewasa ini kita sering melihat perpecahan dalam bangsa ini.

Ibadah Minggu, 21 Agustus 2011

Ada yang beda dalam ibadah minggu (21/8) jam 18.00, ibadah kali ini menggunakan variasi instrumen musik untuk memandu nyanyian jemaat. Sekalipun yang dinyanyikan adalah Kidung Pujian dan Nyanyian Rohani, tetapi penggunaan band sebagai pengiring nyanyian dalam ibadah ini dirasakan sangat baik dan memberikan penyegaran dalam bernyanyi bagi jemaat. Ibadah dipimpin oleh bapak Kis Yudhanto dengan kotbah yang didasarkan dari Roma 12: 1-8, dengan judul sesuai ketetapan sinode GKJ yaitu Menjadi Saksi Mesias di Tengah-Tengah Bangsa Kita.

Berikut ini ringkasan kotbahnya. Kita mungkin sering melihat calo di terminal. Di terminal Tirtonadi, biasanya para calo ini berteriak-teriak menawarkan jurusan bus, mengantarkan penumpang akan tetapi dia sendiri tidak akan sampai ke kota tujuan yang ditawarkannya. Jangan sampai kita menjadi seperti calo yang berteriak-teriak mengenai hal kerajaan Sorga akan tetapi justru kita yang tidak akan sampai ke sana.

Ibadah Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66 di GKJ Manahan

Nuansa merah dan putih memeriahkan suasana ibadah peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 di GKJ Manahan, hari rabu (17/8) yang lalu. Tak hanya dalam dekorasi gereja, tetapi jemaat juga serempak mengenakan pakaian bernuansa warna merah dan putih. Ibadah peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia diawali dengan prosesi perarakan bendera Merah-Putih beserta para petugas dirigen, pembaca teks proklamasi, pembaca teks pembukaan UUD 1945 beserta Pendeta dan para majelis.

Pages