
Jemaat yang terkasih,
Beberapa waktu lalu kita terkesima dengan aksi salah seorang pejabat yang "blusukan". Aksi tersebut mengundang banyak respon positif di kalangan masyarakat serta memunculkan pandangan positif terhadap pejabat pemerintah di Indonesia. Agaknya aksi tersebut juga mengundang keinginan beberapa pejabat pemerintah melakukan tindakan tersebut, sampai-sampai pergi kemanapun membawa kamera untuk dokumentasi.
Bagi sebagian orang apa yang dilakukan para pejabat tersebut, menuai komentar positif. Namun juga tidak sedikit yang memberikan komentar negatif terhadap tindakan tersebut. Bagi yang berkomentar negatif mengatakan: "ahhh itu hanya ikut-ikutan saja, pasti ada maunya.... apalagi menjelang Pilkada dan Pemilu....". Setidak-tidaknya, penilaian itu berdasarkan pengalaman pengabdian para pejabat kepada masyarakat. Ketika sedang butuh suara menjanjikan keadaan yang baik kepada masyarakat. Namun ketika sudah terpilih janji tersebut harap diingat dan disimpan dalam hati saja. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat, yang membawa dampak tingkat kepercayaannya menjadi berkurang terhadap negara. Hasilnya, masyarakat menjadi putus asa untuk berpartisipasi membangun bangsa ini. Dan jika dibiarkan maka lambat laun Bangsa Indonesia menjadi hancur.
Berbicara soal kemungkinan hancurnya sebuah komunitas besar, yaitu bangsa, karena ada kepentingan dibalik pengabdian kepada masyarakat. Kita sebagai anak-anak Allah yang diwadahi dalam kehidupan persekutuan (gereja) perlu waspada terhadap kemungkinan tersebut. Bahwa dapat dimungkinkan gereja mengalami kehancuran (terpecah-pecah/konflik) karena ada berbagai kepentingan (keuntungan) pribadi yang mengatasnamakan pelayanan. Dengan kata lain, meminjam salah satu peribahasa, "ada udang dibalik pelayanan". Paling tidak ketika kita membaca Firman Tuhan dari Yohanes 12: 1-8, kita mendapatkan contoh permasalahan tersebut. Yang mana tindakan tersebut dilakukan oleh Yudas Iskariot.
Dia mengkritik apa yang dilakukan oleh Maria yang membasuh kaki Tuhan Yesus dengan minyak narwastu. Dimana minyak tersebut merupakan minyak yang berkualitas baik dan cukup mahal harganya (ayat 3). Yudas memberikan kritik, bahwa sebaiknya minyak tersebut dijual dan hasilnya diberikan untuk orang-orang miskin (ayat 4). Namun pada ayat 5 dikatakan "Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya". Hal ini menunjukkan ada motif/kepentingan yang hendak dicapai oleh Yudas melalui kritiknya kepada Maria. Seolah-olah pemikiran Yudas sangatlah baik, bahkan merupakan konsep pelayanan yang digemakan saat ini. Namun ternyata ada maksud, yaitu untuk keuntungan pribadinya, bukan untuk kemuliaan nama Allah. Seandainya apa yang dilakukan oleh Yudas benar-benar terjadi, maka dia menjadi penyebab utama terputusnya ikatan kasih yang dibangun antara Tuhan Yesus beserta para murid dengan Maria. Karena apa yang dilakukan oleh Maria merupakan ekpresi kasih yang tidak ternilai kepada Tuhan-Nya. Ternyata kepentingan pribadi menyebabkan terputusnya ikatan kasih yang seharusnya dibangun dalam sebuah komunitas. Terputusnya ikatan kasih inilah yang membawa kehancuran dalam sebuah komunitas. Tidak hanya komunitas, namun juga pribadi tersebut.
Belajar dari kisah Yudas Iskariot, kita diingatkan untuk melihat kembali motif pelayanan yang dijalani. Apakah selama ini untuk kemuliaan nama Allah atau untuk kepentingan/ keuntungan/ kemulaiaan diri sendiri???? Apakah ada udang dibalik pelayanan???? Ketika pada saat kita memasuki Minggu ke-5 Pra Paskah, kita semua menerima ajakan pertobatan sebagai respon atas anugerah Allah. Salah satu wujud pertobatan tersebut adalah dengan memurnikan kembali motif pelayanan kita dalam komunitas iman pemberian Allah, yaitu gereja. Dengan demikian kita bukan menjadi pribadi yang "hancur" dan "menghancurkan" komunitas. Namun justru menjadi pribadi yang dipenuhi cinta kasih dan mewujudkannya dalam kehidupan bersama. Kiranya Tuhan senantiasa menolong kita untuk melihat kembali motif pelayanan yang dijalani. Tuhan memberkati. Amin.
Bacaan: Yohanes 12 : 1 – 8
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 17 Maret 2013