
Di masa menjelang pemilu presiden kali ini ramai diberitakan mengenai para calon presiden berikut dengan para petinggi partai yang “sowan” kepada para Kyai sepuh untuk meminta doa dan restu bagi kepentingan para calon presiden ini. Dukungan doa (serta restu) dari para Kyai yang dianggap mempunyai kewibawaan rohani atau spiritual mungkin dirasakan sangatlah bermanfaat bagi kelanjutan perjalanan menuju kedudukan yang diharapkan.
Doa dan restu bagi masyarakat Jawa merupakan bagian budaya yang tumbuh dan berkembang dari masa ke masa. Berbagai ritual dan tradisi yang mengandung makna doa bisa kita perhatikan melalui berbagai bentuk upacara seperti “mitoni”, “selapanan”, “slup-slupan”, “laku bisu” ketika malam Suro dan lain-lain. Bagi pasangan pengantin baru biasanya mereka akan melakukan “sungkeman” yang mengandung makna penghormatan serta permohonan doa dan restu.
Permohonan doa dan restu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ini kalau kita perhatikan inisiatifnya adalah dari pemohon doa dan restu bukan dari pihak yang akan memberikan doa dan restu. Pihak pemohon aktif untuk meminta doa dan restu kepada pihak yang akan memberikan doa dan restu.
Fenomena ini sangatlah berbeda dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus kepada para muridnya. Ketika para murid Tuhan Yesus belum meminta dukungan doa, Tuhan Yesus telah memohonkan doa kepada Bapa agar senantiasa memelihara para muridNya. Tuhan Yesus yang telah mengetahui bahwa dalam waktu dekat Dia tidak ada lagi di dalam dunia mendoakan para murid yang masih ada di dunia.
Tuhan Yesus mengetahui bahwa para murid membutuhkan pemeliharaan dan penyertaan ketika memberitakan kabar keselamatan nantinya karena begitu besar tantangan yang akan dihadapi. Dan dalam kesemuanya itu, Tuhan Yesus menghendaki agar hidup para murid senantiasa terpelihara menjadi satu dalam namaNya.
Gambaran ini mirip sikap orang tua kepada anak-anaknya. Kebanyakan orang tua akan membawa anak-anaknya di dalam doa-doanya dengan harapan anak-anaknya dapat menjalani hidup dengan benar, segala cita-citanya dapat tercapai dan sebagainya. Tentunya kita masih ingat dengan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Nikita yang berjudul “Di Doa Ibuku” yang menggambarkan bagaimana seorang ibu yang senantiasa mendoakan anak-anaknya. Doa orang tua seringkali bukan didasarkan permohonan anak akan tetapi inisiatif orang tua sebagai ungkapan cinta kasihnya kepada anak. Demikian juga Tuhan Yesus yang mendoakan para murid ini menandakan begitu besarnya kasih Tuhan Yesus kepada para muridNya.
Sikap doa yang diteladankan Tuhan Yesus ini sangat melekat dalam benak para murid. Sehingga merekapun senantiasa menjaga kehidupan doa dan kesehatian di antara mereka (Kisah Para Rasul 1 : 14). Melalui doa dan kesehatian di tengah persekutuan ini mereka saling dikuatkan satu dengan yang lainnya. Doa dan kesehatian merupakan kekuatan yang dimiliki dan dipertahankan oleh para murid ketika menyadari bahwa Tuhan Yesus tidak lagi bersama mereka secara jasmaniah karena Tuhan Yesus telah naik ke Sorga.
Persoalan kesehatian dan kesatuan di tengah jemaat, keluarga dan masyarakat saat ini menjadi sesuatu yang sangat krusial untuk dipertahankan khususnya di tahun politik ini. Orientasi politik berpotensi memutuskan relasi dalam suatu jemaat, masyarakat dan juga keluarga manakala terjadi perbedaan pilihan politik. Tentu saja hal ini sangat berbahaya karena mengakibatkan perpecahan dan perselisihan yang disebabkan perbedaan dukungan.
Potensi perpecahan akibat perbedaan orientasi politik ini juga mengancam gereja. Oleh karenanya, doa adalah suatu bagian yang sangat penting dalam kehidupan persekutuan agar terhindarkan dari perpecahan. Bagian Firman Tuhan di dalam Yohanes 17 : 11b dikatakan bahwa “supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita”. Tuhan menghendaki agar umatnya tetap bersatu sepertinya halnya Bapa dan Anak yang menjadi satu. Mari kita tetap bertekun dalam doa agar persekutuan di tengah-tengah jemaat senantiasa dikuatkan.
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 1:6-14
Bacaan Injil : Yohanes 17: 1-11
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 1 Juni 2014