Bacaan; Leksionari:
PL : Ayub 42: 1-17; PB : Ibrani 7 : 23–28
Tanggapan : Mazmur 126
Injil : Markus 10:46–52
Markus 10: 46-52, menuturkan pergumulan iman seorang pengemis buta, bernama Bartimeus.
Bartimeus sedang duduk di pinggir jalan keluar dari Yerikho. Ia mendengar bahwa Yesus bersama murid-muridNya dan banyak pengikut yang lain mengikuti perjalanan Yesus lewat di dekatnya. Bartimeus berteriak meminta belas kasih Yesus. Berbeda dengan ceritera orang buta sebelumnya (Mrk. 8:22-26), Bartimeus berteriak meminta belas kasih Yesus atas inisiatifnya sendiri: 'Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: 'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!' (Mrk. 10:47). Pernyataannya bahwa 'Yesus, Anak Daud', mencerminkan bahwa Bartimeus mengenal dan percaya pada Yesus yang jauh lebih mendalam daripada pengenalan para murid dan banyak orang yang sering mengikuti Yesus. Secara fisik matanya buta, tetapi hatinya melihat siapa Yesus.
Meskipun dihalang-halangi banyak orang, namun keteguhannya datang dan bertemu Yesus akhirnya menang. Berbeda dengan cerita yang sama dalam Injil Matius bahwa Yesus harus menjamah mata orang buta (Mat. 20:33-34), dalam Injil Markus tindakan seperti itu tidak dilakukan oleh Yesus. Bahkan Yesus tidak perlu berkata 'imanmu telah menyelamatkan' seperti yang ditulis dalam Injil Lukas (Luk. 18:42). Yang justru diungkapkan dalam Injil Markus ialah sapaan Bartimeus kepada Yesus ketika ia ditanya apa yang dikehendakinya, Bartimeus berkata 'Rabuni' (artinya Gurunya), ungkapan ini mau mencerminkan bahwa penulis Markus ingin menegaskan kepada para pembaca Injil ini bahwa iman Bartimeus sungguh-sungguh mendalam.
Ketika Bartimeus itu segera dapat melihat, Injil Markus mencatat: 'Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalananNya.' Dalam Mrk.10:52b, penulis menunjukkan suatu contoh bagaimana seharusnya sikap menjadi murid Yesus yang benar itu seperti Bartimeus. Bartimeus melihat (percaya) bahwa Kristus adalah Allah yang baik, adil, dan cinta kasih. Tetapi seperti apa kebaikan, keadilan dan cinta kasih Allah, Bartimeus tidak mampu memahaminya (buta), namun ia merasa perlu datang dan mengikutiNya.
Kini Bartimeus telah mengalami pemulihan, dalam arti sesungguhnya, dari buta menjadi dapat melihat. Dalam konteks Bartimeus tadi, kita diperkenankan untuk melihat adanya proses perubahan yang didasari iman seorang manusia terhadap kuasa Yesus, iman itu menggerakkan pada perubahan yang dramatis, dan bernilai sangat tinggi. Tidak sekedar dari buta menjadi dapat melihat, namun dari iman di dalam keterbatasan (buta) mampu melihat kejelasan harapan bahwa pasti akan dipulihkan oleh Yesus. Sehingga yang terjadi, meskipun buta, Bartimeus sudah dapat melihat, yakni dengan mata imannya, dan penglihatan itu menjadi sempurna ketika ia telah mengikuti Yesus! Demikian juga iman kita kepada Yesus dapat menolong kita (dan keluarga). Dengan keterbatasan yang kita miliki, serta jaminan harapan terwujud di dalam kedaulatan dan kebebasan Yesus menyatakan kehendakNya atas kita. Wujud kehendak itu tentu perubahan yang bernilai pemulihan.
Tim Penyusun Renungan
--- DEN. ----
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 25 Oktober 2009 Nomor : 43/2009