Jemaat yang terkasih,
Secara umum GKJ, secara khusus GKJ Manahan merupakan bagian dari Gereja Tradisional. Dimana salah satu kelebihannya, yang menjadikan bertahan sampai sekarang, adalah sifat “guyub”nya. Oleh karena itu ada yang menyebutkan bahwa Gereja Tradisional adalah Gereja Paguyuban. Pernyataan ini tentunya didasarkan pada berbagai pengalaman relasi kehidupan persekutuan yang muncul di dalamnya.
Mungkin anda yang sedari dulu bergereja di GKJ (Manahan) merasakan atmosfer paguyuban tersebut. Dimana bergereja tidak hanya dipahami sebagai sarana pemeliharaan iman tetapi juga sarana pemeliharaan relasi antar umat. Hal ini dapat nampak, setidak-tidaknya melalui aktivitas peribadahan hari minggu. Kita tidak hanya saja mengikuti peribadahan namun juga di dalamnya kita memiliki kerinduan untuk bertegur sapa, menyatakan pengalaman hidup kita kepada sesama anggota jemaat.
Tema perenungan Firman Tuhan Minggu ini berjudul Peribadahan sebagai Perayaan Kasih sangatlah cocok dengan pengalaman kehidupan iman dan persekutuan yang selama ini diwujudkan. Sebagaimana pengalaman kehidupan persekutuan yang terwujud di gereja kita. Dimana peribadahan tidak hanya saja membangun kerohanian (hubungan kita dengan Tuhan), namun juga membangun relasi (hubungan kita dengan sesama).
Saat itulah kita dapat mengungkapkan segala ekspresi hidup kita bersama-sama dengan umat Tuhan yang lain tanpa melihat status sosial dan ekonomi mereka sebagai sahabat. Kondisi dan perilaku demikianlah yang dikehendaki Tuhan Yesus sesuai dengan firmanNya, Markus 7: 24-30, Perjumpaan Tuhan Yesus dengan perempuan Siro-Fenisia.
Disitu Tuhan Yesus hendak menunjukkan kepada orang banyak beserta ahli Taurat dan orang Farisi bahwa perilaku membangun kerohanian itu tidak dapat dilepaskan perilaku membangun relasi dengan yang lain. Karena pada saat itu banyak diantara mereka yang berperilaku “saleh” tetapi tidak disertai dengan sikapnya kepada orang lain, khususnya yang di luar kelompoknya, yang miskin, sakit, dan menderita (salah satunya perempuan Siro-Fenisia). Tuhan Yesus menegaskan rahmat Allah untuk semua, sehingga kehidupan persekutuan juga untuk semua dan merangkul semua.
Semangat inilah yang hendaknya terus terwujud di gereja kita, oleh karena itu saudara-saudara tradisi yang baik ini hendaklah kita jaga dan lestarikan dimana kita gunakan peribadahan dan juga aktivitas pelayanan sebagai sarana membangun rohani dan juga relasi kita. Kiranya cinta kasih Tuhan Yesus senantiasa menaungi kita semua. Amin.
Bacaan: Markus 7: 24-30
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 6 September 2015