Saudara-saudara yang terkasih,
Saat ini kita memasuki pembukaan Pekan Pendidikan Kristen 2015 , marilah kita belajar dari Sabda Tuhan melalui kesaksian Lukas 10 : 25-37. Dalam bacaan tersebut ada sebuah persoalan atau “ sesuatu” yg perlu kita sikapi dan persoalan itu ada didepan mata kita.
Bagaimanakah kecenderungan respon orang-orang ketika diperhadapkan pada sebuah persoalan ?
Ada orang yg segera mensikapinya dengan mengutarakan gagasan, konsep-konsep, teori-teori. Sayangnya orang ini lantas berhenti pada wacana saja. Ada pula orang yg cenderung apatis, Ia tidak mau tahu dengan persoalan itu. Mengapa ? karena mereka merasa bahwa persoalannya itu bukan urusannya, persoalannya itu dianggapnya tidak ada hubungan dan mengena dengan dirinya, tapi ada juga orang yang rela hati dan sungguh-sungguh, tanpa diperintah, bersedia ikut menyelesaikan, dan ikut serta memperbaiki situasi.
Saudara-saudara yang terkasih,
Dalam bacaan kita dikisahkan, Tuhan Yesus sedang berhadapan dengan seorang Ahli Taurat yang ingin mencobai-Nya. Menanggapi pertanyaan Ahli Taurat itu Tuhan balik bertanya, Maka terjadilah diskusi yg sangat menarik antara Tuhan dan Ahli Taurat. Konsep-konsep dipaparkan dengan mengutip ayat-ayat Alkitab, langkah konkret juga didiskusikan untuk mencapai apa yg dimaksudkan.
Namun diskusi menjadi tidak sehat karena Ahli Taurat itu hanya ingin membenarkan dirinya sendiri . Tuhan mengajak untuk mengalami perubahan batin, tidak hanya pandai dan fasih menyampaikan teori lantas berhenti sekedar wacana. Tuhan mengajak dan menantang Ahli Taurat untuk melakukan aksi nyata
Saudara-saudara yang terkasih,
Tuhan Yesus menceritakan sebuah kasus. Kasus ini bisa jadi memang benar ada dan sedang hangat dibicarakan. Ada seorang yg turun dari Yerusalem menuju ke Yeriko dirampok. Dia sekarat. Tergeletak di jalan (jarak Yerusalem ke Yeriko berjarak 27 km, daerah ini memang rawan). Tampaknya orang yg dirampok ini melawan sehingga ia dihajar, dipukul sampai babak belur setengah mati, lalu penyamun itu meninggalkannya.
Si korban adalah seorang Yahudi. Persoalan utama ia membutuhkan pertolongan. Saat itu ada seorang imam turun melewati jalan itu. Imam adalah golongan rohaniawan atasan, yang sangat dihormati karena menjadi wakil umat dihadapan Tuhan. Namun ironis imam itu tidak mau menolong korban perampokan itu. Jelas tidak ada alasan atau dalih yang dapat diterima karena imam ini sudah menyelesaikan tugasnya apalagi korban adalah sama-sama orang Yahudi. Mengapa imam ini tdk mau menolong ? kemudian ada orang lewi yang melewatinya Ia adalah pembantu imam rohaniawan bawahan. Orang Lewi ini juga tidak mau menunjukan belas kasihnya. Ia tidak mau menolong karena tidak mau menyusahkan diri dengan urusan yang tidak sesuai porsinya. Namun tanpa terduga ada seorang samaria. Dia hanya seorang pedagang, orang awam, bukan tokoh agama bahkan sejak dahulu orang samaria dianggap najis oleh orang Yahudi anehnya orang inilah yang justru” mempunyai hati” bagi sesamanya bahkan mau berkorban
Saudara-saudara yang terkasih,
Belajar dari Firman Tuhan ini, mari kita cermati bersama bagaimana kondisi sekitar kita. Ada banyak pihak yang memerlukan pertolongan kita. Marilah kita meneladani Tuhan Yesus yang bukan saja memberitakan kebenaran tapi juga melakukan aksi nyata untuk mewujudkan kebenaran itu, bukan saja pandai berteori, berwacana dan membuat konsep tapi mewujudnyatakan dalam suatu tindakan nyata termasuk bagaimana perhatian kita pada pendidikan kristen, apakah kita mau peduli dengan sekolah-sekolah kristen, lembaga-lembaga kristen yang saat ini memerlukan pertolongan. Selamat memasuki Pekan Pendidikan Kristen. Kinilah saatnya kita semua tergerak, bertindak dan berdampak bagi keberadaan dan kemajuan sekolah-sekolah kristen dan demi kemuliaan Nama Tuhan. Amin
Bacaan : Lukas 10: 25-37
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 23 Agustus 2015