“Hidup adalah Perziarahan.” demikian dinyatakan Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF dari Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta ketika menyampaikan pelajaran Firman Tuhan dalam Retreat Adiyuswa dan Warga Dewasa GKJ Manahan, Sabtu (19/11) kemarin di Villa River hill, Tawangmangu, Karanganyar. Pendeta Stefanus menunjukkan perziarahan melalui sebuah gambar labirin, dikatakannya hidup ini seperti labirin. Selain labirin, hidup ini digambarkannya pula dengan anak tangga. Itulah penggambaran tangga kehidupan kita. Dimulai sejak dari bawah, yaitu sejak kita bayi dengan berbagai keterbatasan yang kemudian bertumbuh menjadi anak-anak sampai akhirnya mencapai usia dewasa dan usia lanjut usia.
Hidup adalah sebuah perziarahan, Kejadian 12: 1 menyatakan “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;” jika kita cermati, hal ini menunjukkan perziarahan Abraham oleh karena perintah Tuhan. Keluaran 3: 10 menyatakan “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Musa diminta Tuhan untuk segera bangkit, meninggalkan segala kenyamanannya saat itu untuk berani menanggung resiko membawa keluar bangsa Israel keluar dari Mesir, sebuah perjalanan yang penuh resiko.
Perjanjian Baru-pun mengungkapkan mengenai perziarahan hidup, dalam Injil Matius 9: 35, dikatakan “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Kita menjumpai bahwa apa yang dilakukan Yesus dalam konteks perikop itu, Yesus mengajar, Yesus berkotbah tetapi juga menyembuhkan orang sakit. Selain itu, dalam Injil Yohanes 14: 5-6 Yesus sendiri menyatakan diriNya sebagai jalan.
Perziarahan hidup adalah rentetan peristiwa yang menjadi pengalaman. Peristiwa ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan, tetapi peristiwa-peristiwa tersebut tidak sekedar menjadi peristiwa tetapi melainkan sebuah pengalaman. Bukan hanya sekedar peristiwa.
Perziarahan tidak hanya mengenai perjalanan hidup, tetapi juga berbicara mengenai perjalanan iman. Dalam kehidupan kita kita bisa melihat apa yang disebut sebagai “kronos” atau kronologi, yaitu urutan-urutan, seperti urutan hidup kita mulai dari lahir, tumbuh menjadi bayi dan seterusnya. Kronos ini tidak akan pernah ada artinya kalau didalamnya tidak ada “Kairos atau moment yaitu saat dimana kita merasakan akan sapaan Tuhan.
Sebagai orang yang beriman kita perlu melihat hidup kita tidak hanya sebagai kronos tetapi perlu mengalami kairos dalam kehidupan kita. Hal ini membutuhkan kesadaran supaya kehadiran Tuhan itu bisa kita alami.
Kisah bangsa Israel maupun kisah kehidupan Yesus, ternyata membicarakan mengenai pengalaman yang dikenang dan sekaligus dimaknai. Hidup kita ini tidak hanya untuk dijalani, tetapi juga layak untuk dikenang kembali, mengenang kembali pengalaman-pengalaman hidup kita. Tidak sekedar mengenang, tetapi apa yang kita kenang itu ternyata perlu kita maknai. Seandainya kenangan-kenangan itu merupakan kenangan pahit, maka hanya ada luka-luka dalam hidupnya, tetapi jika kenangan-kenangan buruk dimaknai, maka itu akan ada sesuatu untuk kita pelajari.
Persoalan hidup bukan hanya soal peta kisah melainkan peristiwa dengan arti (meaning) yang di dalamnya mengandung makna (value) dan patut dikenang sekalipun hidup ini rapuh. Kita perlu merenungkan apa artinya kita menjadi manusia. Umat Israel memahami sejarah kehidupannya dengan suatu keyakinan di jalan mereka Tuhan melindungi, menghakimi, mengampuni dan menyelamatkan.
“Air dimurnikan dengan mengalir, manusia dimurnikan dengan tetap bergerak maju”
Ketika kita mengalami kemandekan dalam hidup, justru kita menjadi orang yang tidak bisa dimurnikan. Tetapi jika kita tetap menjalani dinamika hidup, maka dalam perjalanan hidup kita inilah proses pemurnian kita dimulai.
Mazmur 34: 9a menyatakan “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” Kalau kita mencoba mencermati, Pemazmur hendak mengajak kita untuk mengecap atau merasakan. Bagaimana pengalaman iman kita pada Tuhan Yesus bisa kita rasakan, bisa kita kecap. Mazmur 119: 103 menyatakan “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.”
Bagaimana mengecap Tuhan dalam kehidupan kita? Jika kita berani mengecap pengalaman hidup kita, tidak hanya kita bisa mengenal Tuhan tetapi juga mengenal diri kita sendiri. Keberanian mengecap sebagai resiko berziarah bersama Tuhan.
Helen Adams Keller, pencipta huruf braile, menyatakan “Aku bersyukur kepada Tuhan atas ketidak sempurnaanku, sebab melalui ketidaksempurnaan itu aku telah menemukan diriku sendiri, pekerjaanku dan Tuhanku.”
Frances (Fanny) Jane Crosby, seorang yang buta bisa menciptakan banyak hymne yang sampai sekarang ini masih kita gunakan, diantaranya Kidung Jemaat 408.
Mari kita belajar dari dua wanita pengikut Yesus Kristus tersebut, bagaimana mereka menapaki perziarahan hidup mereka, baagaimana mereka mengecap kegetiran hidup mereka, juga bagaimana mereka mengecap kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. [SePur]
Add comment