
Rabu (29/7) jam 18.00 WIB, Rumah Doa Mr. Soewidji sudah penuh oleh jemaat GKJ Manahan. Rumah Doa yang berlokasi di jalan Kenanga VI Badran ini, sedang digunakan untuk acara ibadah peringatan 3 tahun persekutuannya.
Ibadah dimulai oleh Bp. Joko Sugiyatno selaku pemimpin pujian yang mengajak jemaat menyanyikan lagu “Cerahnya Hari Ini”. Kemudian Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Widya Notodiryo, S.Th yang mendasarkan kotbahnya dari I Samuel 7: 7-14, tentang Samuel yang mendirikan sebuah batu dikala perjuangannya mengalahkan bangsa Filistin.
Di awal kotbahnya, pendeta Widya menceritakan pengalamannya kurang lebih 20 tahun yang lalu. Bulan Juli 1970, dikala dirinya masih menjadi mahasiswa Theologia. Dalam sebuah weekend, dosennya, pak Baker, menantang untuk mengikutinya ke tempat yang indah, dengan syarat, semua harus percara padanya, tidak boleh sarapan banyak, tidak boleh bawa bekal dan tidak bawa uang.
Perjalanan menuju tempat yang sangat indah yang dijanjikannya memang berat, para mahasiswa harus ekstra hati-hati, sebab dalam perjalanannya terbentang jurang sedalam 20 meter yang cukup luas. Sampai berjalanpun di sisi tepi jurang itu. Dari pengalaman perjalanan itu, pak Baker hendak mengajarkan tentang perjalanan hidup. Hidup itu banyak tantangan dan rintangan, yang sering kali menjatuhkan kita. Di tengah perjalanan, ternyata pak Baker sudah menyiapkan makanan di tiap tempat persinggahan mereka. Tiap kali mendekati tempat persinggahan itu, pak Baker meneriakkan “Eben Haezer!” dan para mahasiswanya diminta ikut meneriakkannya.
Begitupula dengan bangsa Israel yang selama 20 tahun dijajah oleh bangsa Filistin. Samuel menyerukan kepada mereka untuk datang kepada Allah, berdoa. Juga membuang segala berhala mereka. Berkumpulnya bangsa Israel di Mizpa, karena saat itu, tabut Allah sedang berada di sana. Mengetahui hal itu, bangsa Filistin segera maju untuk memerangi Israel, akibatnya ketakutanlah bangsa Israel. Tapi Samuel menyerukan kepada mereka untuk tidak takut. Allah memang menyertai bangsa Israel dan hari itu mereka mengalahkan orang-orang Filistin.
Di tengah-tengah pengejarannya, Samuel berhenti di antara Mizpa dan Yesana. Samuel mendirikan batu yang dinamai “Eben Haezer” yang berarti “Sampai di sini Tuhan menolong kita.” Hal ini bukan berarti bahwa hanya sampai itu saja pertolongan Tuhan, akan tetapi, Pdt. Widya menjelaskan bahwa di tengah-tengah perjuangan bangsa Israel, Samuel memberikan waktu untuk merenungkan kembali pertolongan Tuhan pada bangsa Israel atas orang Filistin.
Demikian juga dalam perjuangan hidup kita, hendaknya kita berhenti sejenak, memberikan waktu untuk merenungkan kembali pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Hal ini tidak hanya mengenai berpikir ke belakang, melihat masa lalu dimana Tuhan menolong kita, atau melihat ke depan, dimana waktu Tuhan akan menyertai kita, akan tetapi inilah waktu untuk melihat ke atas. Melihat siapakan sumber pertolongan kita.
Pdt. Widya meneguhkan pengurus persekutuan doa untuk memaksimalkan anugerah Tuhan atas keberadaan rumah doa tersebut. Kiranya, ditengah kesibukan jemaat memperjuangkan hidupnya, masih ada waktu diberikan kepada Tuhan untuk berdoa di rumah ibadahnya, sebagaimana Samuel dalam perjuangannya melawan orang Filistin masih memberikan waktu untuk mempermuliakan Tuhan. Sebab, segala sesuatu dalam hidup kita, Tuhan terlibat di dalamnya.
Ibadah HUT ke-3 Romah Doa Mr. Soewidji ini diakhiri dengan pemotongan kue taart oleh Pdt. Widya, Pdt. Ratih dan Bp. Twi Wibowo untuk dibagikan kepada Jemaat. Keroncong Blok VII juga memeriahkan ibadah ini dengan persembahan nyanyiannya, selain dari Sdri. Lala dan Bp. Joko yang mempersembahkan nyanyian bagi Tuhan. (SePur)
Add comment