Minggu, 4 Juli 2010, jam 16.00 WIB. Ibadah dipimpin oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si. Pdt. Fritz menjadikan kitab II Raja-Raja 5: 1-14 sebagai dasar kotbah. Di awal kotbah, ditunjukkannya sebilah bambu wulung. Bambu yang banyak terdapat didesa tempat pak Fritz tinggal dulu. Bambu ini biasanya digunakan sebagai bahan bangunan. Akan tetapi, penduduk desa, agaknya belum sadar potensi lain dari bambu ini. Bahwa bambu ini bisa dijadikan kerajinan tangan yang sangat bagus dan menarik dan tentunya memiliki potensi nilai ekonomi tinggi. Kurangnya wawasan penduduk desa untuk mengolahnya menjadikan bamboo ini hanya dibiarkan saja, bahkan sampai akhirnya hanya menjadi kayu bakar.
Hal sama terjadi pada Naaman. Sekalipun dia seorang panglima perang raja Aram yang tentunya sangat berwawasan, ia belum tahu kalau Allah bisa menyembuhkan sakit kustanya melalui seorang nabi di Israel. Sesampainya kepada Elisa, nabi yang dimaksud, Naaman beranggapan bahwa kesembuhannya akan terjadi bila nabi atau tabib melakukan hal-hal tertentu, seperti mengurapi bagian tubuhnya yang sakit supaya sembuh. Kenyataannya, Elisa menyuruh pembantunya untuk menemui Naaman dan memintanya untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan. Naaman tidak tahu, dia tidak berwawasan kalau Allah bisa berkarya lewat cara apapun juga. Bahkan cara yang paling mudah sekalipun.
Seringkali kita juga berpikir demikian. Bila Allah pernah menolong kita melalui suatu cara, maka kita akan beranggapan bahwa Allah akan menolong kita dengan cara itu lagi. Padahal, Allah tidak bisa dibatasi. Dia berkarya menurut cara yang dikehendakiNya.
Hal kedua yang bisa dipelajari dari kisah Naaman ini adalah Allah bisa berkarya lewat siapapun juga. Sekalipun orang yang digunakan Allah bukanlah orang yang dipandang pantas bagi kita untuk dipakai Allah. Dalam kisah Naaman, dia mendapatkan pengertian mengenai kesembuhannya justru dari seorang budak istrinya.
Adakalanya Tuhan menjawab doa kita, doa yang kita lakukan dengan cara-cara tertentu, tetapi kadang juga tidak. Ingatlah, setiap jawaban doa adalah kehendak bebas Allah untuk memberikannya kepada kita. Jangan batasi kreativitas Allah dan jangan anggap remeh siapapun yang dipakai oleh Allah. (Sepur)
Add comment