Ibadah hari ini, Minggu (25/6) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB merupakan ibadah pembukaan Pekan Pendidikan Kristen Tahun 2013. Ibadah dilayani oleh Pendeta Samuel Arif Prasetyono, S.Si dengan menggunakan liturgi khusus.
Kotbah didasarkan pada bacaan Leksionari yang didasarkan dari Yosua 9: 1-9, Mazmur 126: 1-6, II Timotius 2: 4-6 dan Injil Lukas 13: 10-17. Mengawali kotbahnya, Pendeta Samuel mengajukan pertanyaan kepada jemaat "Siapa diantara kita tidak menginginkan kesuksesan?"
Kita semua menginginkan keberhasilan dalam kehidupan manusia. Ini adalah suatu hal yang umum jika menginginkan kesuksesan ataupun keberhasilan.
Memang benar bahwa setiap manusia selalu memiliki harapan atau cita-cita yang berhasil. Banyak orang yang berusaha untuk mengupayakan kesuksesan sejak dini. Ada beberapa orang tua yang sudah memasukkan anakknya ke playgroup. Dengan tujuan supaya anak bisa merintis kesuksesan sejak dini melalui pendidikan. Bahkan sejak dinipun, anak-anak sudah mengikuti berbagai macam les, karena sekarang ini merupakan zaman kompetitif, menjadi sangat sulit mencari pekerjaan jika strata pendidikan kurang.
Kinipun, sudah menjadi suatu hal yang biasa jika menemui orang yang memiliki banyak gelar pendidikan.
Ketika kita melihat kembali kehidupan kita, di Indonesia ini banyak sekali orang-orang pintar dengan gelar sederet mengupayakan diri mengejar kesuksesan. Tetapi jarang sekali orang yang mengejar kualitas hidup secara moral. Banyak orang-orang yang pandai yang terjerat tindak pidana. Orang-orang yang intelektualpun sangat berpotensi melakukan kejahatan di mata Tuhan. Demikiankah kehidupan yang sukses? Demikiankah kehidupan yang kita inginkan?
Saat ini kita memasukI Pekan Pendidikan Kristen, yang memiliki tujuan supaya anak-anak Tuhan mampu mengusahakan dirinya menjadi agen-agan perwujudan kerajaan Allah di dunia ini. Mewujudkan manusia kristen yang bermoral sesuai kehendak Tuhan.
Kita diingatkan kembali melalui firman Tuhan, bagaimana kita seharusnya memiliki paradigma yang benar sesuai firman Tuhan. Dalam Lukas 13: 10-17 menceritakan karya mujizat Tuhan Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit bungkuk. Dalam kisah ini, ada dua macam definisi orang yang sukses.
Pertama, Kepala rumah ibadat yang menolak mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Manusia yang sukses menurut kepala Rumah Ibadat, adalah orang-orang yang mentaati hukum-hukum Tuhan dalam peraturan-peraturan agama Yahudi, meskipun harus menyisihkan rasa kemanusiaan dari orang yang sakit bungkuk.
Sedangkan yang kedua, menurut Tuhan Yesus, orang yang sukses adalah orang yang mampu mendatangkan sukacita, sebagaimana ayat 17 menyatakan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.
Memang Tuhan Yesus tidak menolak sama sekali tentang hukum taurat, tetapi Ia akan menggenapi Hukum Taurat. Pelaksanaan hukum taurat itu sah, tetapi jangan sampai ketaatan terhadapnya menghilangkan moralitas.
Boleh saja kita mengejar semua cita-cita kita, tetapi jangan sampai hal-hal itu menghilangkan sisi kemanusiaan kita, sehingga menghambat orang-orang disekitar kita menerima damai sejahtera Allah.
Marilah kita memasuki Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013, jangan kita hanya mengejar impian-impian kita, tetapi kejarlah juga standar moralitas sebagaimana yang Tuhan Yesus kehendaki.
Kiranya Tuhan memampukan dan memberkati kita menjadi manusia yang berhasil yang memiliki standar moral sesuai kehendak Tuhan.
Add comment