Selasa (15/3) GKJ Manahan menerima kunjungan dari The Church of North India, untuk berbagi pengalaman dalam hal pelayanan. Dalam acara yang difasilitasi oleh YAKKUM ini, delegasi dari India beranggotakan sebelas orang dengan beberapa pendamping. Kedatangen mereka disambut oleh segenap majelis harian, anggota Komisi Hubungan Nasional, Regional dan Internasional.
Dibuka dengan doa oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si, kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Bp. Joni Sarungu selaku anggota Komisi Hubungan Internasional GKJ Manahan. Diskusi yang menjadi inti acara dalam pertemuan ini adalah bagaimana gereja menyatakan kehidupan di tengah masyarakat plural.
Dalam presentasi oleh Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, beliau membagikan pengalaman mengenai kehidupan gereja di tengah pluralitas masyarakat. Pdt Ratih menyatakan bahwa kita hidup di tengah masyarakat plural, baik dalam budaya, bahasa, agama dan lain-lain. Terkait dengan pluralitas agama di indonesia, di satu sisi masyarakat Indonesia bisa hidup berdampingan secara damai, namun disisi lain, pluralitas juga menimbulkan ketegangan konflik baik fisik maupun psikis. Hal ini nampak dari berbagai kasus konflik di Indonesia dengan mengatasnamakan agama, contohnya: pembakaran tempat-tempat ibadah dan berbagai bentuk kekerasan yang lain.
Gereja sebagai bagian dari masyarakat dipanggil untuk mengupayakan perdamaian. Dengan elemen masyarakat yang lain. Upaya-upaya yang dilakukan GKJ Manahan diantaranya mengembangkan jaringan lintas agama dan golongan, baik dengan tokoh-tokoh agama, lembaga-lembaga masyarakat. Disamping itu, gereja juga secara aktif ambil bagian dalam mengembangkan pendidikan perdamaian, mengembangkan dialog kemanusiaan, dan dialog karya. Hal ini nampak dari beberapa program diantaranya : nasi murah, tanggap bencana, vocational training untuk perempuan, lobby dan edukasi dengan pemerintah, yang semua kegiatan itu dilaksanakan dalam konteks lintas agama.
Dari delegasi India, diceritakan mengenai kondisi sosial India. Memang secara ekonomi India mencapai pertumbuhan 8% pertahun, tetapi dibalik itu, kesejahteraan yang tidak merata menimbulkan konflik. Yang dalam diskusi ini, dimengerti bahwa persoalan mendasar konflik horizontal bukanlah karena agama, melainkan faktor kemiskinan, ketimpangan sosial dan banyak penyebab lain. Dinyatakan pula dalam presentasi mereka, bagaimana jemaat India sebagai minoritas mulai mengalami kekerasan-kekerasan oleh para ekstrimis. Oleh karena itu, oleh The Church of North India, jemaat mulai diajak untuk bersatu dengan lingkungan sekitar, membuat komunitas menjadi lebih baik, damai demi mencapai satu tujuan bersama.The Church of North India, dengan lembaga-lembaga sosialnya terus berjuang mewujudkan perdamaian lintas agama dan golongan di India, sekaligus juga berjuang berperan serta dalam perdamaian global.
Add comment