"Hidup Bersama Harus Ada Pertemuan" itulah latar belakang mengapa SAS (Sobat Anak Solo) ini dibangun tutur burder Heri, yang merupakan salah satu pendiri pendiri SAS ini. selain burder Heri pelopor lainnya adalah mbak Atik, mbak Novi(purbayan), Pdt. Retno Ratih (Manahan), mbak Ryeka (Manahan), mbak Yani (Kel. Belajar muslim), mbak Vanel(Vihara), dan mbak Ririn (Kampung Percik/Persemaian Cinta Kemanusiaan).
SAS dilahirkan JUNI 2011 silam yang diawaki oleh mbak Ririn (Kampung Percik Salatiga) merupakan percampuran berbagai kelompok masyarakat salah satunya adalah adanya perbedaan agama dan sosial, yang diharapkan goal dari kegiatan ini adalah agar anak sedini mungkin dapat berbaur dengan realitas sosial yang ada sehingga anak terlatih untuk saling menghargai dan tidak “mengkotak-kotakan diri” mereka sesuai dengan kelompok mereka. Anggota SAS yang saat ini terdiri dari empat kelompok yaitu: kelompok Anak Vihara Dhamma Sundara, Kelompol PIA Grj St. Antonius Purbayan, Kelompok belajar Muslim Kartosuro, dan Kelompok SM GKJ Manahan ini juga mempunyai kegiatan yang telah dilaksanakan 2011 lalu, yaitu: Juni 2011 lalu naik bus kebanggaan warga kota bengawan yaitu Bus Werkudara yang salah satu kegiatan didalamnya adalah mengelilingi tempat ibadah, lanjut ke bulan Agustus yaitu singgah ke rumah wawali dalam rangka kemerdekaan RI(wah, jadi pengin ke sana), dan ditutup dengan nonton film tetapi bukam sembaramg film. Film yang di angkat adalah seputar persahabatan multikultural dengan nama film “Cheng-Cheng Phou” dengan durasi sekitar 20 menit, bertempat di Vihara Dhamma pada bulan Januari 2012 lalu.
Event 2012 saat ini adalah diselenggarakan “Drawing Class” yang berjalan mulai tanggal 5 Maret lalu yang akan dijadikan agenda tetap 2 minggunan yang bertempat di rumah bapak Maji di jalan Batang Hari 20 RT 01/07 Gandekan, Tengen Solo yang dimulai pukul 10.00-12-00, yang juga didukung oleh para warga di daerah rumah bapak Maji berupa anak-anak yang seusia TK-SD dihimpun mengikuti “Drawing Class”.
Dan kegiatan ini akan diakhiri dengan pameran lukisan yang telah dibuat oleh anak-anak sebelumnya pada Hari Anak mendatang, serta tidak kalah pentingnya setiap kali usai kegiatan ini anak-anak di minta opininya tentang lukisan tersebut yang akan memberikan pengetahuan baru bagi anak. Selain itu, terdapat juga hal yang menarik yaitu ada 2 turis dari negeri kincir angin merelakan diri datang ke tempat bapak Maji, untuk belajar kultur di Indonesia sekaligus mengadopsi apa yang telah dilakukan SAS dengan harapan dapat dilakukannya sepulang dari negeri pertiwi ini. Waaw, berarti gerakan ini telah menginspirasi orang-orang sekitar bahkan orang dari luar negeripun rela belajar untuk diterapkan di sana.
Akhir kata, marilah kita memandang segala keragaman menjadi sebuah kekayaan jangan menjadikannya sebagai ajang untuk membibitkan rasa fanatisme atau primodial yang berlebih yang akan merusak integritas bangsa serta ajaklah putra-putri anda untuk mengikuti acara seperti ini yang akan menumbuhkan rasa sosial kepada sesama dan banyak dampak positive lainnya.
Add comment