“Syukur identik dengan memuji Tuhan, praise, tehilim adalah hal yang sangat fundamental dalam pemahaman theologis dalam seluruh kitab Mazmur. Mazmur sesungguhnya berbicara tentang perjalanan iman dari orang-orang percaya.” kata Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF dalam sesi ketiga Retreat Komisi Adiyuswa dan Komisi Warga Dewasa, minggu lalu (20/11) di River Hill, Tawangmangu.
Bagaimana pemazmur bersyukur? Pemahaman secara umum, syukur lebih berupa uangkapan bahasa verbal yang diungkapkan secara bagus, sehingga kalau ada orang yang mengungkapkan dalam ratapan atau mengeluh (complaint) dipandang tidak bersyukur.
Secara psikologis, orang beriman mengambil inisiatif bersama Allah dan menghindari untuk bersikap menipu diri sendiri. Jika kita mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, kita seharusnya jujur, memang sedang mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan. Secara sosial, mengingatkan bahwa ada banyak ketimpangan dalam hidup ini untuk tidak terjebak dalam status quo. Secara theologis, kita diingatkan bahwa Tuhan bukanlah penjaga status quo melainkan Tuhan yang mengubah (transformer) kehidupan ini.
Disaat kita meratap, mengeluh, penulis Mazmur bergerak mengarah pada memuji dan bersyukur. Syukur bukan hanya tindakan kultis melainkan menjadi sentral kehidupan secara total baik secara individual maupun komunal atau gereja . Tuhan yang seperti apa yang diimani oleh penulis kitab Mazmur? Tuhan yang memiliki hessed, kasih setia,, steadfast love mzm 117: 2, 130: 7) dan itulah yang membuat pemazmur mempercayakan hidup pada Tuhan.
Mazmur 22, dijabarkan, dalam ayat 1 sampai ayat 3 adalah sebuah tragedi. Tangisan disebuah tragedi. Dalam ayat 4 – 6, setelah mengungkapkan tragedinya, Pemazmur mengungkapkan kepercayaan. Pemazmur mengingat akan warisan iman dari leluhurnya. Ayat 7 – 9 menunjukkan Pemazmur melihat dirinya sebagai ulat, yang sangat rapuh, lemah. Inilah ungkapan ratapan pemazmur melihat gambar dirinya yang lemah. Ayat 10 – 12 menyatakan seruan Pemazmur minta tolong kepada Tuhan. Selanjutnya dinyatakan ayat 13 – 16 dan 17-18 Pemazmur meratapi keberadaan dirinya, bila sebelumnya ia menggambarkan diri sebagai ulat sedangkan pada musuh-musuhnya sebagai lembu jantan dan banteng-banteng basan yang kuat. Sedangkan dalam ayat 20-22 , kembali Pemazmur meminta tolong. Sejauh ini kita bisa melihat inilah iman dari Pemazmur. Selain menyatakan syukur, ia berani mengecap kepahitan hidupnya. Pemazmur berani mengecap kenyataan hidupnya, maka ia bisa merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Ayat 23-27 menyatakan Allah tidak memandang hina ataupun merasa jijik pada penderitaan orang yang tertindas. Allah mau memandang dan merengkuh kita di tengah-tengah kerapuhan kita. Ayat 28-32 menyatakan bagaimana Pemazmur memperbaharui akan syukurnya.
Jalan kehidupan (jalan kebenaran) bukan jalan memutar atau menghindari problem kehidupan, tetapi percaya bahwa Tuhan berjalan bersama dengan kita., hadir dalam jurang yang dalam dan Tuhan menjadikan hidup itu dimungkinkan (life possible).
Dalam Kitab Mazmur 88 – Darkness all day – kita bisa melihat persimpangan beriman dan keruntuhan. Di satu sisi pemazmur melihat iman pada Tuhan, di sisi lain ia mengalami kepahitan dalam hidupnya. Melihat Tuhan sebagai the problem tetapi juga Tuhan sebagai the solution
Inilah yang membuat pemahaman penulis kitab Mazmur dapat dikatakan sebagai sesuatu yang radikal – memuliakan Tuhan adalah untuk hidup dan hidup adalah untuk memuliakan Tuhan. Mazmur 33: 10-11 “TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.” Kita bisa melihat Tuhan yang dimuliakan dari seluruh kehidupan.
Litani Mazmur 136, bahwasanya kasih setia Tuhan untuk selama-lamanya, inilah hessed. Inilah spiritualitas syukur Pemazmur. Syukur mengajak kita berani untuk mengecap, mengunyah dan justru menelan segala kepahitan hidup kita. Kadang kala penderitaan itu perlu untuk dikecap, dirasakan, dikunyah baru ditelan. Kita perlu mengecap, merasakan penderitaan dalam hidup kita, sebab didalam penderitaan hidup, di situ Tuhan juga ada. [SePur]
Add comment