
Memperingati kematian Tuhan Yesus, jemaat GKJ Manahan mengadakan ibadah Jumat Agung hari ini, Jumat (22/4). Ibadah dengan tema “Kematian yang Membawa Kehidupan” ini dilayani oleh Pdt. Ratih Suryaning Handayani, M.Th yang mendasarkan kotbahnya dari Yohanes 19: 16b-27 dengan Nats dari Markus 15: 34. Berikut ringkasan kotbah Pdt Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th.
Saat ini kita menyelenggarakan ibadah Jumat Agung, untuk menghayati pengorbanan Tuhan Yesus yang disalibkan bagi kita. Mengapa peristiwa penyaliban harus dialami Tuhan Yesus? Bukankah setiap karya Tuhan sejak awal sampai akhir, keberpihakannya pada orang lemah dan orang yang tidak berdaya sangat jelas. Bagaimanakah bisa, Tuhan Yesus yang menghibur orang-orang berduka, menyembuhkan orang buta, membangkitkan orang mati, justru sekarang mati mengenaskan di kayu salib? Yesus yang menyatakan kebenaran, kejujuran dan ketulusan sepanjang hidupnya semestinya mendapatkan hal yang baik juga. Orang yang melakukan kebenaran seharusnya mendapatkan penghargaan. Sebaliknya, orang yang melakukan kejahatan layak mendapat penghukuman. Tetapi mengapa Yesus justru mendapatkan penghukuman? Memang secara logis hal ini sangat tidak bisa diterima. Bahkan pemazmur pun menyatakan hal itu. Mazmur 73: 12-14, “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”
Dari peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, kita bisa belajar bahwa meskipun Tuhan Yesus mengalami kepedihan yang amat sangat, tak sedikitpun Ia mengucapkan keluhan. Meskipun tuduhan padanya satupun tidak terbukti, Ia tetap menjalani hukumannya dengan keikhlasan. Menjelang kematiannya, kira-kira jam 3 sore, Tuhan Yesus akhirnya meneriakkan “Eloi, Eloi lama sabakhtani”. Beberapa orang menafsirkan Tuhan Yesus sedang mencari Elia, ada yang menafsirkan itu adalah protes dari Tuhan Yesus sama seperti kita yang sering protes kepada Allah, bila kita merasa sudah hidup benar sesuai kehendak Tuhan tetapi kesusahan datang bertubi-tubi. Apakah ini adalah ungkapan ketidakberdayaan Tuhan Yesus akibat menanggung penderitaan yang terlalu berat? Ketika kita memahami kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus ini, memang faktanya Tuhan Yesus merasakan penderitaan yang amat berat. Belum lama Tuhan Yesus merayakan perjamuan kudus dengan murid-muridNya, tetapi seketika Ia ditangkap, didera, diolok-olok, difitnah dan direndahkan dan ditinggalkan sendiri dalma penderitaan. Ya, saat itu Tuhan Yesus sangat letih & merasa sangat berat. Yesus mengucapkan hal itu, bukan berarti Yesus tidak tahan akan semua hal tersebut, tetapi yang membuat Yesus mengucapkan “Eloi-Eloi lama sabakhtani” adalah ungkapan beratnya hati Yesus menanggung dosa manusia, masih pula Allah berpaling daripadaNya karena dosa yang ditanggungNya.
Konsekuensi dosa itu sangat berat. Dosa adalah ketika orang mencari jalannya sendiri, meninggalkan Allah untuk berjuang dalam jalannya sendiri. Konsekuensi dosa adalah ditinggalkan oleh Allah. Hal ini sangat berat bagi Yesus, ditinggalkan oleh Allah. Bila kita ditinggalkan orang yang dikasihi pasti kita sangat merasa berduka, apalagi Yesus ditinggalkan oleh Allah karena menanggung dosa semua manusia.
Teriakan Yesus ini terjadi sudah terjadi 200 tahun yang lalu, tetapi teriakan ini menjadi simbol bagi kita, bahwa ditinggalkan Allah itu sangat berat dalam hidup kita. Jangan anggap enteng dosa, jangan main-main dengan dosa. Jangan sepelekan dosa apapun bentuknya, karena setiap dosa apapun bentuknya ada akibatnya. Sebagaimana Adam-Hawa berdosa, Daud juga mengalami akibat dosanya karena merebut Betsyeba, juga Saul yang meninggalkan jalan Tuhan dengan mencari jawaban pada kuasa-kuasa gelap. Dosa berakibat fatal, memang dosa ada kenikmatannya, sehingga banyak orang senang hidup dalam dosa. Tetapi dalam Alkitab dengan jelas dinyatakan, apapun bentuk dosa, pasti ada akibatnya.
Yesus sudah menanggung dosa kita di kayu salib. Dan kalau saat ini kita mengingat kepedihan yang terdalam yang dialami Yesus sampai Ia berteriak Eloi-Eloi lama sabakhtani, kita dipanggil untuk menyalibkan dosa-dosa kita, untuk memulai hidup baru dengan Kristus dengan meninggalkan dosa-dosa kita dan menjalani kehidupan yang memancarkan kemuliaanNya. Amin.
Ibadah ditutup dengan ikrar salib yang diucapkan bersama-sama oleh jemaat, berikut ikrarnya :
“Salib, mengingakan peritiwa kesengsaraanMu.
Salib, adalah jalan yang Engkau tempuh
Untuk menebus dosaku
Salib, adalah bukti kasihMu
Dalam Salib memancarkan kemuliaanMu
Tuhan, Kami berjanji untuk setia kepadaMu
Senantiasa mengikutMu
Bersedia memanggul salib sebagai anak-anakMu
Di saat pencobaan kami hadapi,
Kuatkan kami merangkul salibMu
Tuhan, kami berjanji
Untuk senantiasa menjadi saksiMu
Memancarkan kemuliaan salib
Dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Amin.”
Add comment