Ibadah dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si, dengan kotbah yang didasarkan dari Amsal 7. 1-7. Mendidik di tengah-tengah kedangkalan hidup. Hal ini bisa berarti, ada hidup yang dalam, ada hidup yang dangkal. Itu asumsinya. Hari ini kita membuka pekan pendidikan Kristen, tetapi beberapa minggu sebelumnya, anak-anak sudah mulai bersekolah. Tiap hari kita melihat anak-anak berangkat sekolah. Hidup yang dangkal, artinya, bukan hidup yang tidak berpendidikan, tetapi orang yang berpikiran dangkal. Sepandai-pandainya orang, kalau belum menunjukkan sikap adil pada orang lain, bisalah dia dikatakan hidupnya dangkal.
Sikap hidup yang dangkal ini sudah merambah banyak pihak, banyak orang yang memiliki sikap hidup dangkal. Sekarang, yang korupsi bukan hanya para pejabat, tapi orang-orang kecilpun juga melakukan korupsi sekalipun dalam skala kecil. Dari sinilah gereja dipanggil oleh Tuhan, orang-orang kristen dipanggil, sekolah-sekolah kristen dipanggil untuk memerangi sikap hidup yang dangkal ini. Gereja punya tugas, sekolah Kristen juga punya tugas, bahkan semua orang kristen memiliki tugas untuk memerangi cara hidup dangkal ini. Amsal mengatakan, untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran; untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.
Mendidik di tengah-tengah kedangkalan hidup adalah perintah Tuhan. Bagaimana kita akan melakukannya? Selamat memasuki Pekan Pendidikan Kristen pertolongan Tuhan kiranya memapukan kita mendidi anak-anak ditengah kedangkalan hidup yang melanda generasi ini. Amin. (SEPUR)
Add comment