Ibadah minggu, 17 Oktober 2010, jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Widya Notodiryo, S.Th. Kotbah didasarkan dari bacaan Leksionari Kejadian 32:22-31, Mazmur 121, II Timotius 3:14-4:5, Lukas 18: 1-8.
Mengawali kotbahnya, Pdt. Widya membuka dengan pernyataan bahwa setiap orang beriman dipanggil untuk berdoa. Sebab doa adalah nafas hidup orang Kristen. Pandangan ini-pun umum berlaku di dunia, tidak hanya dalam kekristenan saja. Menurut pandangan orang, kalau ada yang berdoa, maka dianggap orang yang berdoa tersebut lebih rohani.
Doa sebenarnya adalah sarana komunikasi dengan Allah. Sayangnya, sekarang ini doa tidak lagi dilakukan karena kasih pada Allah, tapi semata-mata supaya keinginannya dipenuhi oleh Allah. Lukas 18: 1-8 menyatakan perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus tentang hakim yang lalim yang tidak takut, bahkan pada Allah. Hakim dalam perikop ini, konteksnya mengacu pada penguasa suatu daerah di Israel, yang semena-mena terhadap rakyatnya. Hakim yang merasa terganggu dengan permintaan janda itu, akhirnya dengan tepaksa memenangkan perkaranya.
Kalau hakim yang lalim saja mau membantu, apalagi Allah. Karakter hakim dalam perumpamaan tersebut sangatlah kontras dengan profil Allah. Tetapi justru kekontrasan inilah yang dipakai Yesus untuk mengingatkan betapa Allah mengasihi manusia. Allah tidaklah lalai, Ia tidaklah mengulur-ulur waktu.
Lalu bagaimaan dengan motivasi doa yang salah, yang berdoa semata-mata untuk perkara duniawi? Injil Lukas 22: 42 menyatakan kisah Yesus yang berdoa di taman Getsemani. Dalam doaNyua, Yesus meminta cawan ini berlalu, tetapi bukan kehendak Yesus yang terjadi, melainkan kehendak Bapa. Hal ini menunjukkan teladan dari Yesus bahwa doa yang benar dan berkenan pada Allah adalam doa yang sesuai dengan kehendak Allah. Bukan berdoa dengan tidak jemu-jemu.
Perumpamaan tentang hakim yang lalim tersebut menunjukkan sikap iman yang harus kita wujudkan dalam menunggu kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini. Kalau kita berdoa dengan iman, maka kita jemu-jemu berdoa untuk karya keselamatan oleh Allah.
Berdoa dengan iman terwujud manakala kita sanggup menguasai diri kita sendiri. Inti doa adalah mempermuliakan Allah dan menguduskanNya. Doa yang lahir dari iman senantiasa dilandasi penguasaan diri, sabar menderita dan kemauan untuk memberitakan Injil.
Dalam kisah Yakub, yang bergumul dengan Allah di tepi sungai Yabok, menjelang fajar menyingsing, Allah yang bermanifestasi dalam wujud orang yang bergumul dengan Yakub, menanyakan namanya. Hal ini menunjukkan Allah hendak menyatakan siapa jati diri Yakub, bahwa arti namanya adalah penipu. Ia telah menipu Ayahnya dan Esau, kakaknya demi mendapat berkat, mertuanyapun telah ditipunya. Oleh karena itu, Allah memberi kesempatan bagi Yakub untuk berubah. Namanya tidak lagi disebutkan Yakub, melainkan Israel. Yakub datang kepada Allah dengan identitas baru, Israel. Begitu pula kita, selama kita belum memiliki identitas baru, sebagai orang percaya, maka tidaklah mungkin kita berdoa dengan iman yang benar pada Allah. (SEPUR)
Add comment