
Dalam ibadah minggu (20/2) jam 08.30 WIB GKJ Manahan menerima pelayanan dari Pdt. Dwi Wahyu Prasetyo, S.Si dari GKJ Wonosari Gunung Kidul. Pertukaran pelayanan ini dilaksanakan dalam rangka hari ulang tahun Sinode GKJ yang ke-80. Menyertai pelayanan Pdt. Wahyu, tampil Paduan Suara Gita Efrata, Wilayah 9 GKJ Wonosari yang menyanyikan dua lagu berjudul “Jangan Kamu Takut” dan “Eling”.
Kotbah didasarkan Injil Matius 5: 38-48. Dalam kotbahnya, Pdt Wahyu menunjukkan sebuah produk minuman kemasan dengan merk tertentu. Katanya, sewaktu membeli minuman ini, tentunya kita merasa yakin kalau isinya dan rasanya adalah merk tersebut. Kesesuaian antara merk dengan isi dan rasa suatu produk merupakan suatu hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah bila minuman ber-merk tersebut, isi dan rasanya dari merk lain. Seharusnya, merk, isi dan rasa adalah sesuai.
Bagaimana dengan kita? Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus sempurna seperti Allah. Kita orang kristen, tentunya kita harus memiliki cara hidup sesuai dengan kekristenan kita. Akan menjadi aneh, bila orang kristen tidak bersikap sepantasnya orang kristen. Tuhan Yesus menghendaki kita sempurna dalam hal kasih. Mengasihi orang yang telah menyakiti kita, tidak membalas negatif, segala hal negatif yang orang lakukan pada kita.

Ada dua alasan kita harus hidup sempurna, pertama, karena kita sudah menerima pengampunan dosa oleh karya Kristus. Bahkan tidak sekedar pengampunan dosa, tetapi juga Allah telah melimpahkan berkat yang begitu besar bagi kita. Maka, kesalahan orang lain pada kita tidaklah setimpal dengan kasih Allah yang begitu besar pada kita. Kedua, karena Tuhan sudah memberi berkat, tidak hanya bagi orang-orang baik dan benar, tetapi juga bagi semua orang. Berkat Allah itu bagaikan sinar matahari, yang menyinari tidak hanya orang-orang benar tetapi semua orang di dunia ini, juga bagaikan hujan yang turun bagi semua orang.
Kita dipanggil menjadi berkat bagi semua orang. Semua orang pantas kita kasihi, karena Tuhan juga mengasihi semua orang. Jika kita mengampuni semua orang yang bersalah pada kita, itulah yang dikehendaki Allah dalam kesempurnaan hidup kita. Perkataan Tuhan Yesus ini memang susah diterapkan, dalam hati kita, tentunya merasakan susah dan sulit mengampuni orang yang bersalah pada kita, mengampuni orang-orang memusuhi kita, mengampuni orang-orang yang berniat jahat mencelakakan kita. Bahkan, seorang filsuf Jerman memiliki pemahaman, bahwa cara hidup kristen yang mengasihi adalah etika hidup pecundang, bukan pemenang.
Tuhan memerintahkan kita mengasihi, tentunya Tuhan tahu sejauh mana batas kemampuan kita mengerjakannya. Lalu bagaimana kita bisa melakukannya? Mintalah pada Tuhan, akui keterbatasan kita dan minta kekuatan dari Allah supaya kita bisa mengasihi sesama. Kita mengasihi bukan dengan kekuatan kita, melainkan dengan pertolongan Allah yang memampukan kita mengasihi sesama. Selamat mengasihi sesama kita. Amin. (SePur)
Add comment