Ibadah jam 18.00 WIB dilayani oleh Bp. Kis Yudhanto, menggunakan liturgi khusus penutupan Pekan Pendidikan Kristen Surakarta. Kotbah didasarkan pada Filipi 3: 17-21. Dalam kotbahnya, Bp. Kis Yudhanto menyampaikan 3 pokok pikiran, yaitu: pertama, kondisi sekarang ini yang sama dengan kondisi kota Filipi dalam surat Paulus tersebut, kedua, teladan Paulus menyikapi kondisi tersebut dan ketiga bagaimana peran gereja dalam menghadapinya.
Kondisi Sekarang Ini
Sekarang ini, hidup lebih mengutamakan hal-hal duniawi, hal-hal yang dangkal, cenderung mengikuti nafsu duniawi saja. Tidak luput, dunia pendidikan kita. Baru saja ada berita, seorang guru olah raga divonis bersalah atas tuduhan kekerasan kepada anak didiknya. Tampak dari kasus tersebut, hubungan guru dengan murid tidaklah seperti zaman dulu. Bila dulu relasi guru dengan muris seperti relasi orang tua dengan anak, tidaklah demikian sekarang ini.
Dunia pendidikan sekarang ini banyak sekali muatannya. Anak-anak kecilpun sudah faham teknologi, ditambah lagi kecenderungan orang tua yang memanjakan anaknya. Memang teknologi dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi hal ini sekarang menjadi hal yang membuat anak manja. Anak zaman sekarang ini cenderung tidak mandiri. Sebab, banyak fasilitas dan kemudahan yang didapatkannya tanpa perjuangan sedikitpun. Dengan pengasuh misalnya, yang melayani sejak bangun pagi sampai mengerjakan tugas sekolah-pun dibantu oleh pengasuhnya (minimal) dan tak jarang orang tua mendatangkan guru les privat. Memang persoalan anak zaman sekarang ini lebih kompleks, ganti tahun ajaran, ganti pula buku pelajaran. Belum lagi hal-hal baru lain yang harus disediakan oleh orang tua. Hal ini terjadi karena orientasi pendidikan sekarang ini cenderung ke arah duniawi.
Lalu bagaimana seharusnya pendidikan yang berkualitas? Ada tiga aspek; pertama, dalam pendidikan harus diliputi dengan sistem pengajaran (teaching) dengan output yang diharapkan adalah pengetahuan (knowledge). Kedua, pendidikan harus memberikan kemampuan (skill) dan ketiga, pendidikan harus ada unsur konseling sehingga memiliki output karakter generasi muda yang berkualitas.
Tanggapan Paulus
Dalam ayat 21, Paulus menyatakan kepada jemaat Filipiu untuk mengikuti teladannya. Bukan karena kesombongan, tetapi Paulus menjadikan teladan sebagai bagian dari pengajarannya. Seharusnya, pengajaran tidak cukup hanya memberi pelajaran, tetapi juga memberikan teladan. Paulus juga peduli pada kondisi jemaat Filipi, bahkan dinyatakannya dia menangisinya. Menangisi banyak orang Kristen yang hidupnya tidak karuan, hidup tidak menjadi teladan. Hidup tidak ada bedanya dari orang yang belum percaya pada Yesus.
Mengenai tujuan hidup, apa yang menjadi tujuan hidup kita? Paulus menyatakan bahwa kita adalah warga kerajaan Surga, maka bertumbuhlah ke arah Kristus, memiliki karakter yang sesuai dengan karakter Kristus. Bagiank ita adalah memiliki hidup yang bernilai, nilah tidak sekedar prestasi atau hal-hal yang nampak menurut standar dunia, tetapi hidup yang bernilai bagi Kristus.
Peran Gereja
Bagaimana bisa gereja menghadapi perubahan zaman ini? Gereja harus berubah, tidak mengikuti cara pandang dunia ini atau mengukur hal-hal dengan parameter dunia, melainkan hidup mengikuti Kristus Yesus. Gereja harus memampukan guru-guru kristen, lembaga-lembaga kristen, orang tua-orang tua kristen, dan anak anak kristen untuk mempengaruhi dunia pendidikan dengan pendidikan yang berkarakter. Gereja harus bisa melatih jemaat tidak menjadi manja, tetapi mampu menghadapi tantangan dunia sekarang ini. Semoga gereja bisa menatap perubahan zaman sekarang sehingga anak-anak bisa menjadi berkualitas dalam Kristus Yesus. Amin. (SEPUR)
Add comment