
Minggu, (8/8) jam 18.00 WIB, ibadah perjamuan kudus dilayani oleh Pdt. Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th. Kotbah didasarkan Kejadian 15: 1- 6. Setiap anak Allah pasti memiliki harapan pada Allah. Mempunyai iman yang kuat dan besar. Iman bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis, terkadang fluktuatif. Kadang kita melihat seseorang yang begitu beriman mengerjakan pelayanan dengan penuh semangat, tetapi pada suatu saat mengalami kelelahan rohani. Entah itu sulit berdoa ataupun sulit bergereja, hal ini menunjukkan bahwa iman itu dinamis bahkan fluktuatif kadang menanjak, kadang menukik.
Belajar dari Abraham, yang mempunyai kekayaan hikmat dan pengetahuan yang padanya kita pantas belajar. Dalam situasi aman dalam hidupnya, dia dipanggil keluar oleh Allah. Dalam usia yang sudah tua, ia harus memulai perjalanan baru, meninggalkan tanahnya, yang mana kala itu tanah sangat berharga karena merupakan simbol kekayaan dan kemuliaan. Bahkan tujuan kepergian Abraham-pun belum diketahui.Yang Abraham tahu bahwa dia dipanggil Allah dan segera mengerjakannya.
Secara manusiawi, Abraham sempat ragu. Saat umum makin senja dan tak kunjung punya anak, bahkan Sara, istrinya sudah mati haid, hal ini menunjukkan bahwa secara medis, tidak mungkin Abraham memiliki anak. Kegelisahan Abraham ini sangatlah manusiawi. Tetapi, Allah menyatakan diri kepada Abraham sebagai perisainya dan ia akan memperoleh upah yang sangat besar.
Apa yang membuat Abraham percaya pada Allah? Apa yang membuatnya meninggalkan kebanggaan manusiawi, untuk memiliki tanah yang luas dan anak sebagai ahli waris? Karena kesadaran Abraham bahwa hidup tidak tergantung pada kebanggaan manusiawi, tetapi pada Allah semata.
Dari pengalaman Abraham, kita bisa belajar. Pertama, Ketika Abraham beriman, ia tidak mengajukan syarat kepada Allah. Tetapi menerima kehendak Allah dan menyediakan diri supaya rencana Allah terjadi atas dirinya.
Kedua, tindakan imannya. Abraham segera berkemas, begitu Allah menyatakan perintah kepadanya. Dan sebagai tanda imanya pada Allah mengenai janji Tuhan tentang anak, Abraham memberikan persembahan korban bakaran bagi Allah.
Orang beriman adalah orang yang berserah. Berserah ini bukanlah berarti pasrah, atau pasif dalam menunggu jawaban Tuhan. Beriman adalah berserah, membuka hati untuk hidup bagi Tuhan & positif aktif melakukan kehendak Tuhan.
Kejadian 15: 6 menyatakan bahwa kebenaran hidup kita terjadi karena iman kita kepada Tuhan. Ada banyak hal yang tidak kita mengerti dalam hidup kita. Tetapi beriman berarti mempercayai Allah yang lebih mengerti segala sesuatu mengenai hidup kita. Iman tidaklah pasif. Iman harus diwujudkan dengan tindakan. Perjamuan kudus adalah salah satu wujud tindakan iman kita kepada Tuhan. (SePur)
Add comment