Hari minggu ini, (17/4) kita memperingati minggu palem, dimana Yesus dielu-elukan oleh banyak orang saat memasuki kota Yerusalem, kota yang setelahnya akan lantang meneriakkan penyaliban Yesus Kristus. Dalam ibadah minggu di GKJ Manahan, minggu palem diperingati dengan ibadah yang dibuka dengan perarakan Pengkotbah, majelis dan anak-anak yang melambai-lambaikan daun palem. Ibadah jam 06.30 dan 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Retno Ratih SH, M.Th, sedangkan ibadah jam 08.30 WIB oleh Sdr. Samuel Arif Prasetyono, S.Si, selanjutnya sore jam 16.00 WIB oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si.
Dengan tema “Memunyai Hati Seorang Hamba” kotbah didasarkan dari Injil Matius 21: 1-11, mengenai kisah Yesus memasuki kota Yerusalem. Berikut ringkasan kotbah yang disampaikan oleh Sdr. Dorkas Natalina, mahasiswa Theologia Paska Sarjana UKDW dalam ibadah di Pepanthan Tohudan.
Minggu lalu tersiar kabar di sebuah media internet, bahwa paku dari salib Yesus telah ditemukan. Berita ini ditulis oleh Jurnalis Israell – Kanada, dan penemuan ini sebenarnya telah ada sejak tahun 1900an oleh arkeoloh Israel tetapi selama ini masih dirahasiakan. Sampai kotbah tersebut disampaikan, telah ada 1009 komentar dari pembaca, banyak yang komentar positif, namun tak sedikit yang berkomentar negatif dengan saling menjelek-jelekkan iman agama lain. Hal ini terjadi karena masing-masing kelompok merasa paling benar dan paling penting. Tidak ada kerendahan hati. Dan pengalaman dari mahasiswa UKDW, yang mengadakan dialog dengan FPI dan kelompok Hysbullah, jika dialog dilakukan masing-masing dengan kerendahan hati, tidak untuk mencari-cari kesalahan, maka yang terjadi adalah kedamaian dalam diskusi yang baik, dan menambah pengetahuan kita.
Hubungannya dengan tema “Mempunyai Hati Seorang Hamba”, tentunya setiap orang tidak keberatan bila disebut sebagai hamba Tuhan, tetapi apakah kita keberatan apabila diperlakukan seperti hamba? Bukankah seorang hamba dianggap lakukan pekerjaan remeh, yang rendah? Bila kita perhatikan, bukankah kita seringkali memerlukan orang lain untuk membantu kita? Dalam rumah tangga, biasanya ada pembantu rumah tangga, pengasuh anak sampai tukang sampah.
Mengapa kita perlu memiliki hati seorang Hamba? Mari kita meneladani Kristus, dari Surat Paulus kepada Jemaat Filipi, pasal 2. Dalam ayat 6-8 dinyatakan “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Kristus telah merendahkan diriNya. Dalam kisah di Matius 21 : 1 – 11, perlu kita cermati bahwa : Yesus datang dengan menaiki keledai, bukan kuda perang, Ia membawa damai, Yesus dielu-elukan dan dimuliakan. J. Oswald Sanders, menyatakan “Anak Allah telah menjadi hamba Allah agar Ia dapat menjalankan tugas yang dibebankan Allah kepadaNya”.
Yesaya 50 : 4a menyatakan “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Kata 'murid' dalam bahasa Ibrani adalah “limudin”, berasal dari kata kerja “lamad” yang berarti : belajar, membiasakan. Belajar melatih sikap dan kecakapannya.
Saudara-saudara kekasih Kristus, bagaimana kita memiliki hati seorang hamba? Pertama, sebagai individu; Hati hamba, adalah kerinduan selalu mendekat dan tunduk kepada Allah, sehingga menikmati damai sejaktera dari Allah. Mazmur 31 : 10-17 menyatakan seruan kepercayaan dan menyerahkan hidup kepada Tuhan dan memohon pertolongan Tuhan, sedangkan Filipi 2 : 5 menyatakan “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” maka hendaknya dalam pemikiran kita, perkataan kita, perbuatan kita, mempunyai hati seorang hamba
Kedua, dalam komunal atau persekutuan hati hamba terwujud dalam sikap hidup kita yang juga memiliki hati sebagai hamba untuk menciptakan syalom di tengah-tengah masyarakat. Sebab, semua anak Allah, dipanggil menjadi Hamba Tuhan dimanapun. Bukan hanya pendeta, tapi semua kita, kita dimanapun Hamba Tuhan dalam profesi atau pekerjaan kita masing-masing.
Mari, kita menaruh pikian dan perasaan yang sama dengan Kristus Yesus, supaya kita menjadi hamba Tuhan bukan hanya dalam sebutan, tetapi juga dalam karya hidup kita masing-masing. Amin.
Add comment