Di awal ibadah, anak-anak yang duduk di altar, mendengarkan cerita dari ibu Gaibi yang membawakan kisah tentang semut. Ibu Gaibi mengajarkan kepada anak-anak untuk mandiri, untuk menjadi anak Indonesia yang sehat, cerdas dan kuat. Kemudian, Pdt. Widya menyampaikan berkat untuk anak-anak di altar, sebelum mereka beraktivitas bersama guru sekolah minggu di Gedung Serba Guna.
Setelah selesai bagiannya dalam ibadah minggu, anak-anak diajak untuk menikmati permainan bersama para guru sekolah minggu dan anggota Komisi Anak GKJ Manahan. Anak-anak diajak untuk bermain-main dengan origami dan kirikami. Tentunya dengan dipandu para guru sekolah minggu :D
Kotbah
Dalam kotbahnya yang didasarkan dari Injil Matius 18: 1-5, Pendeta Widya menyatakan kepada jemaat bahwa untuk menjadi murid Tuhan Yesus, dibutuhkan perubahan sikap yang radikal. Perubahan sikap yang dimaksudkannya adalah tidak menjadi seperti orang farisi. Orang farisi ini adalah orang yang mengagung-agungkan kebenaran diri sendiri, orang yang merasa sudah tahu tentang semua hal. Orang yang tidak mau menerima, hanya mau memberi dan memberi saja.
Pendeta Widya juga menyatakan, bahwa sikap ini sebenarnya bukan terbatas pada orang farisi saja. Sifat farisi ini ada dalam diri semua orang, tanpa kecuali. Termasuk pada murid-murid Tuhan Yesus. Dalam Injil Matius pasal 16 – 17, Tuhan Yesus menyatakan mengenai kesengsaraan dan kematianNya, tetapi murid-murid tidak menanggapinya. Bahkan mereka ribut sendiri, mengenai siapa yang terbesar dalam kerajaan Sorga.
Dalam konteks ini, kerajaan Sorga janganlah dianggap sebagai hal-hal yang akan datang, hal yang masih lama kita alami. Tetapi yang dimaksud dalam kontaks ini adalah kerajaan Sorga yang segera datang. Murid-murid terlalu berfokus pada kedudukan-kedudukan dalam Sorga, dan mengabaikan pesan Yesus yang terutama tentang kesengsaraan dan kematianNya.
Akan persoalan murid-muridNya, Yesus menjawab bahwa yang terbesar dalam kerajaan Sorga adalah orang yang merendahkan diri seperti anak kecil, bersikap seperti anak kecil. Bersikap seperti anak kecil ini bukan berarti hidup tanpa dosa, sebagaimana anggapan banyak orang bahwa anak kecil tidaklah berdosa. Tetapi sejak bayi-pun, manusia sudah jatuh dalam dosa.
Menjadi seperti anak kecil yang dimaksud Tuhan Yesus berarti mengambil perilaku anak kecil yang mempercayakan diri kepada orang tua ataupun kepada orang yang lebih tua darinya. Tuhan Yesus mengingatkan orang dewasa, bahwa dulu, ada sesuatu yang kita miliki, tetapi sekarang sudah hilang. Makin dewasa kita, makin segan kita mempercayakan diri kepada orang lain, apalagi kepada Tuhan. Makin dewasa kita, semakin kita ingin dianggap mengetahui semua.
Kita, orang dewasa bisa belajar dari sikap anak-anak. Sadari bahwa hidup ini tidak hanya berisi tipu daya, kesengsaraan dan banyak hal negatif lain. Kadang, anak-anak lebih tahu arti kata damai daripada orang dewasa.
Menjadi seperti anak kecil, bertolak belakang dengan pandangan dan cara hidup orang farisi. Selain itu, dalam ayat 5, Tuhan Yesus tidak hanya ingin murid-muridNya merendahkan diri sebagaimana anak-anak, tetapi juga menyambut anak-anak sebab orang yang menyambut anak-anak, sama dengan menyambut Bapa.
Kita hari ini merayakan hari anak Indonesia tahun 2010. Kita melihat melalui firman Tuhan bahwa anak-anak, yang sering menjengkelkan orang tua, susah diajak diskusi dan lain-lain, justru dijadikan model kerajaan Sorga. Amin. (SePur)
Add comment