Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Cemas atau kuatir merupakan 'penyakit' kronis yang sering dialami oleh kebanyakan orang ketika di dalam dirinya permasalahan, baik menyangkut ekonomi, hubungan antar sesama maupun hubungan yang ada di dalam dirinya sendiri. Ketika kuatir atau kecemasan sudah mulai melanda, tidak jarang rasa tersebut mempengaruhi pola kehidupan dari seseorang jika 'penyakit' tersebut sudah mengakar seiring berjalannya waktu. Dahulu menjadi pribadi yang periang, sekarang menjadi pribadi yang pemurung; dahulu menjadi pribadi yang terbuka menerima kehadiran orang lain di dalam kehidupannya, sekarang menjadi pribadi yang penuh curiga ketika orang lain mencoba mendekati kehidupannya; dahulu kehidupan rohaninya terpelihara, sekarang tidak lagi peduli dengan kehidupan rohaninya. Dan ironisnya, setiap orang akan terjangkit dengan 'penyakit' ini.
Lalu bagaimana cara menghilangkan atau membunuh 'penyakit' tersebut dalam kehidupan kita??? Apa obatnya??? Jawabannya adalah penyakit tersebut tidak dapat dihilangkan atau dibunuh dengan obat yang ampuh sekalipun... karena:
- Manusia selalu mempunyai kebutuhan di dalam kehidupannya.
- Manusia selalu mempunyai harapan di dalam kehidupannya.
- Manusia ada di dalam sebuah realita yang harus dijalankan.
Dari ketiga hal tersebut jika tidak ada sinkronisasi satu dengan yang lain maka bagi kita ada sebuah masalah dan munculah kecemasan maupun kekuatiran, padahal pada kenyataanya seringkali sinkronisasi tersebut tidak terwujud sehingga yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita dapat mengelola 'penyakit' tersebut sehingga tidak menjadi kronis. Dalam mengelola 'penyakit' tersebut ternyata kita membutuhkan seorang dokter ahli dalam bidang tersebut, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menuliskan resepNya di dalam Matius 6: 25-34.
Pada awal nasehatNya tentang kekuatiran, Tuhan Yesus membuka dengan menyentuh kebutuhan manusia bahkan yang mendasar (ayat 25-26) yaitu makan, minum dan pakaian. Karena setiap orang akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, apa yang hendak dia makan, apa yang hendak dia minum dan apa yang hendak dia pakai tetapi bagi Tuhan Yesus pemenuhan yang paling mendasar adalah pemenuhan akan hidup... jadi menurut Tuhan Yesus, diantara kebutuhan yang mendasar ternyata ada kebutuhan yang paling mendasar yaitu hidup (yang secara holistik meliputi pikiran, hati, jiwa, dan tindakan) yang menjadi sebuah pola dalam menjalani hidup ini. Dalam menghadapi kekawatiran,
Pertama, Tuhan Yesus mengambil contoh mahkluk yang paling sepele sekalipun dalam memenuhi kebutuhan dasar yaitu burung-burung dan bunga bakung, dimana mereka dapat memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa harus berjerih payah karena Allah sudah menyediakan. Namun bukan berarti bahwa Tuhan Yesus menghendaki kita supaya tidak berjerih payah, akan tetapi Tuhan Yesus ingin menyampaikan bahwa harus ada skala prioritas di dalam kehidupan, mana yang lebih untuk kita upayakan secara maksimal yaitu carilah dahulu Kerajaan Allah (Ke-Raja-an Allah).
Kedua, Tuhan Yesus menasehatkan supaya kita ingat akan pemeliharaan Allah, bahwa mahkluk yang kita anggap tidak berharga ternyata juga dipelihara Allah, Allah sebagai Raja Semesta menciptakan, memelihara sekaligus melindungi, dan itu sudah terbukti dalam sejarah perjalanan umatNya sebelumnya yang terbebas dari tanah penjajahan (Babel) Yesaya 49:8-16a.
Ketiga, Tuhan Yesus menasehatkan supaya kita tidak berlebihan dalam menghadapi kekuatiran tentang kebutuhan-kebutuhan yang mendasar karena kita harus ingat kedua hal di atas, skala priortas dan siapa Raja kita. Kiranya Sang Raja Semesta menyertai di dalam setiap kekuatiran kita. Amin.
Bacaan I : Yesaya 49:8-16a
Bacaan II: I Korintus 4:1-5
Bacaan III : Matius 6:25-34
Tanggapan : Mazmur 131
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 27 Februari 2011
Add comment