
Seorang motivator terkenal memulai seminarnya dengan menunjukkan uang Rp 100.000,- dan berkata: “Siapa yang ingin mendapat uang Rp 100.000,- ini?” Banyak orang mengacungkan jarinya. Saya akan memberikan uang ini, tapi sebelumnya uang ini akan saya remas-remas dulu sampai kucel. Setelah uang Rp 100.000,- itu tampak kucel, ia bertanya kembali: “Siapa diantara saudara yang masih menginginkan uang saya ini?” Masih tetap banyak orang yang mengacungkan jarinya. “Baik”, kata sang motivator itu. Namun sebelumnya saya akan…..Sang motivator itu menginjak-injak uangnya hingga uang Rp 100.000 itu kotor dan benar-benar kucel. “Sekarang, masih adakah diantara saudara yang menginginkan uang saya yang sudah kotor, jelek dan kucel ini?” Ternyata masih saja ada orang yang mengacungkan tangan.
Melihat reaksi pengikut seminar yang demikian, motivator itu berkata: “Saudara-saudara telah memahami satu hal yang sangat berharga. Tidak peduli bagaimanapun keadaan uang ini, saudara tahu bahwa nilai uang Rp 100.000 tidaklah jatuh. Ia tetaplah berharga seratus.
Seperti gambaran nilai uang itulah sesungguhnya keberadaan diri kita dihadapan Allah. Segala dosa kita, sekalipun baru dalam pikiran, atau yang terwujud dalam perkataan, sikap dan perbuatan sesungguhnya telah membuat diri kita kotor, hina, cela, dan tidak layak dihadapan Allah. Namun toh Allah tetap memandang kita sebagai ciptaan yang berharga bagi-Nya. Begitu berharganya kita, hingga Ia rela mengorbankan Putra-Nya untuk menebus dosa kita. Darah Putra-Nya mencuci keberadaan kita yang kotor dan hina agar kita menjadi layak bersekutu dengan Allah. Allah memang selalu rindu bersekutu dengan kita. Hal ini berulangkali dinyatakan dalam firman-Nya, juga dalam nas kita hari ini.
Masih serangkai dengan perikop sebelumnya (Mat.18 : 12 -14) dimana digambarkan bahwa satu (diantara 100) ekor domba yang sesat akan membuat sedih gembala. Dengan segala cara sang gembala akan mencarinya. Dan bila sudah ditemukan kegembiraannya akan meluap melebihi yang 99 ekor yang tidak sesat.
Hal itu menunjukkan bahwa Allah tidak menghendaki satu pun diantara kita, umat kepunyaan-Nya tersesat. Sebab tersesat berarti terpisah dari Allah. Oleh karena itu apapun yang membuat kita terpisah dari-Nya haruslah dijauhkan. Dosalah yang membuat kita terpisah dari Allah. Maka ayat 15 -17 mengajar kita bagaimana kita harus menyelesaikan dosa yang ada dalam hidup umat kepunyaan Allah. Dimulai dengan menegur secara empat mata (ingat kisah Daud ditegur Natan --- 2 Sam.12). Jika tidak berhasil cara lain ditempuh yaitu dengan membawa saksi. Bila cara kedua ini tidak juga membuahkan hasil, maka cara lain ditempuh dengan membawa persoalannya dihadapan jemaat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah sungguh-sunguh bila berhadapan dengan dosa. IA tidak menghendaki dosa merasuki hidup kita dan memisahkan kita dari-Nya. Namun sebaliknya Allah selalu ingin kita berada dalam “kawasan” keselamatan Allah. Sampai disini kita melihat betapa kita sungguh menjadi ciptaan yang berharga di mata Allah.
Dan karena kita berharga di mata Allah, maka kepada kita diberi keistimewaan yaitu; yang pertama, seperti yang dinyatakan dalam ayat 18 “…apa yang kamu ikat di dunia akan terikat juga di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Artinya, kita diberi kunci kerajaan sorga ( Matius 16 : 19). Kedua, kita diberi jaminan bahwa permohonan kita akan dikabulkan oleh Allah (ayat 19 -20).
Menyadari betapa Allah menganggap kita berharga dan istimewa bagi-Nya, maka marilah kita tetap menjaga hidup kudus dengan selalu berusaha menghindari dosa. Agar dengan demikian kita tidak terpisah dari Allah dan justru selalu berada dalam persekutuan dengan Allah Tri Tunggal; Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amin.
Nats : Matius 18: 15 – 20
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 7 September 2014
Add comment