
Hidup memang sulit bak meniti buih, demikian kita memahaminya. Berjalan diatas air, walaupun rasa-rasanya lebih gambang daripada meniti buih (oleh karena surface tension/ tegangan permukaan air lebih kuat, lebih tebal dari buih) tak pelak lagi keduanya merupakan kerja yang super sulit bahkan sia-sia. Itulah hidup, itulah kesulitan hidup.
Petrus berjalan diatas air (dan buih-buihnya) senyatanya pernah terjadi (Mat. 14:29), luar biasa / Ia tegak, berpindah menuju Yesus. Tuhannya, dengan kecepatan berjalan kaki sesudah ia mendengar suara Tuhan: "Datanglah!", meyakini jaminan keselamatan dari Tuhan, mengarahkan hidup & total kehidupannya hanya kepada Tuhan, bertindak dalam kuasa Illahi bergantung kepadaNya, sesudah ia percaya salugu. Tak heran ketika sebagian hidupnya terarah kepada angin, kepada takut, tenggelamlah Petrus. (Mat. 14:30). Itulah hidup Kristen, itulah kesulitannya.
Sekarang bagaimana dengan kita? Bukankah sulit mengenal suara Tuhan? Wajar, bila PA di Blok muncul pertanyaan: "Bagaimana dapat mengenal suara Tuhan & bagaimana membedakannya dengan suara diri sendiri?" Bukankah para murid terkecoh oleh penglihatannya & mengira Tuhan hantu? (Mat. 14:26) Bukankah mereka baru terarah ketika memperhatikan suara daripada penglihatan? Bukankah Elia justru baru mendengar suara Tuhan pada angin sepoi-sepoi basa & bukan dalam wibawa angin besar yang memecah bukit batu, membelah gunung atau pada kuasa gempa & api? (1 Raja 19:11-13). Bukankah beresiko mengusik otoritas Allah bila kita kelewat menyelidiki Allah? (Roma 10:6-7). Lalu ….. kalau begitu dapatkah kita yakin jaminan Allah seperti bagi korah melantunkan Mazmur 85:8-14? Bukankah jaminan itu jelas? (Roma 10:9-11, 13). Mengenal Tuhan itu gampang karena Firman itu dekat di dalam mulut dan hati kita (Roma 11:8). Bila kita dekat, semakin dekat dengan Dia kita akan semakin kenal Dia. Seperti bumi yang terus berotasi ia setia mengelilingi matahari kitapun dituntut bergantung kepadaNya, berpusat kepada Allah. Para murid lebih mengenal Dia ketika mereka memperoleh pengalaman sendiri berpusat kepadaNya (Mat. 14:33).
Bukti jaminan itu jelas, Tuhan tahu sebelumnya dan bertindak tepat pada waktunya. Perhatikan kesaksian Markus 6:48, itulah bukti jaminan itu. Kiranya Tuhan menolong kita.
Bacaan I : 1 Raj. 19: 9 – 18
Tanggapan: Mazmur 85: 8 – 14
Bacaan II: Roma 10: 5 – 15
Bacaan III : Matius 14: 22 – 33
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 7 Agustus 2011
Add comment