
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,
Ada sebuah kebijaksanaan yang mengatakan bahwa "kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya". Dengan mengambil pengalaman kehidupan, bahwa manusia hidup di dunia hanya sekali saja. Jarang sekali orang mempunyai pengalaman hidup untuk kedua kalinya (mati suri), yang umum adalah kehidupan dan kematian terjadi hanya satu kali saja. Oleh karena itu, menurut kebijaksanaan tersebut, kehidupan adalah kesempatan yang diberikan Sang Khalik kepada manusia. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, minggu, bulan dan tahun dalam kehidupan manusia adalah kesempatan yang diberikan Tuhan. Lalu ketika kehidupan pemberian Tuhan adalah sebagai kesempatan, mau kita apakan kesempatan tersebut?
Biasanya kebanyakan orang akan menggunakan kesempatan untuk memenuhi impian mereka di dunia ini, mis: memiliki pekerjaan tetap, memiliki rumah yang layak, memiliki alat transportasi yang memadai, memiliki tabungan untuk masa tua yang cukup, dll. Kebanyakan atau malah dapat kita katakan semua berkaitan dengan kenyamanan manusia ketika hidup di dunia ini. Apakah itu salah?? Tidak juga kok, sah-sah saja ketika seseorang ingin merasakan kenyamanan. Namun, perlu bagi kita untuk memperhatikan bagaimana seseorang menggunakan kesempatan pemberian Tuhan dalam pilihan hidup yang dijalani para murid. Pada permulaan perjumpaan antara Tuhan Yesus dengan para murid (Markus 1: 16-20), Tuhan Yesus mengatakan: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia". Ajakan tersebut merupakan kesempatan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid untuk beralih profesi, aktivitas, gaya hidup, serta jalan hidup. Dari penjala ikan (nelayan) menjadi penjala manusia. Tentu pilihan tersebut tidak mudah bagi para murid pada saat itu, pasalnya di Galilea merupakan daerah "basah". Artinya usaha ekonomi yang dilakukan oleh setiap orang di Galilea akan membuahkan hasil yang baik karena penduduknya padat dan keadaan tanahnya subur.
Demikian juga Danau Galilea merupakan danau yang kaya akan biota airnya, ikan disana sangat melimpah. Bagi para murid menjadi penjala ikan sangat menjanjikan kenyamanan hidup, setidaknya untuk konteks sosial ekonomi pada saat itu. Namun, ternyata (ayat 18 dan 20) tanpa komentar dan posisi menawar mereka langsung meninggalkan jalanya, bahkan orang tua mereka untuk menerima tawaran Tuhan Yesus. Kesempatan sebagai seorang penjala ikan yang menjanjikan kenyamanan hidup ditolak mereka, malah mengikut Tuhan Yesus yang tidak menjanjikan kenyamanan di dunia. Dan memang benar dalam perjalanan hidup mereka selanjutnya bersama Tuhan Yesus tidak nyaman. Namun mereka menggunakan kesempatan pemberian Tuhan dengan baik, yaitu dengan menerima ajakan Tuhan untuk berkarya bersamaNya.
Pada saat ini, kesempatan itu juga ditawarkan kepada kita sekalian "Mari ikutlah Aku", ajakan Tuhan kepada kita untuk berkarya bersamaNya. Oleh karena itu jemaat yang marilah kita gunakan waktu kita sebaik-baiknya menerima kesempatan pemberian Tuhan untuk berkarya bersamaNya. Tuhan memberkati.
Bacaan: Markus 1 : 14 – 20
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 22 Januari 2012
Add comment