
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus!
Kita mau belajar dari Alkitab, tentang berbagai aspek kehidupan manusia yang didasarkan atas keyakinan mereka pada kuasa Tuhan serta kedaulatanNya atas umatNya. Meyakini kebenaran Firman Tuhan, adalah sebuah keniscayaan bagi setiap hamba Tuhan, orang beriman, murid-murid Kristus.
Kitab Kejadian 24: 34 – 38, 42 – 49, 58 – 67, bagaimana Abraham berpikir untuk mencarikan pasangan hidup Ishak, anaknya, tidak hanya berpikir mengenai “bobot, bibit, dan bebet” saja, tetapi hal yang paling “utama” adalah perempuan yang “seiman”, Kejadian 24: 3 menyatakan: “… supaya aku (Abraham) mengambil sumpahmu (seorang hamba kepercayaan Abraham) demi Tuhan, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam”.
Abraham sangat tegas untuk menentukan sikapnya, bahwa setiap peristiwa yang bersangkut paut dengan seluruh aspek hidup dan kehidupannya beserta keluarganya, haruslah ditentukan oleh pandangan “mata imannya”, bukan penilaian bahkan kalkulasi secara “secular” saja. Abraham yakin, bahwa Allah tidak pernah ingkar janji akan segala hal yang telah dinyatakanNya kepadanya. Maka kisah pertemuan ishak-Ribka mengandung makna teologis (imanen). Itulah buah dari karya dan penyertaan Allah pada Abraham. Pengalaman sehari-hari menjadi bermakna manakala dilihat dengan “mata iman”, bahwa Allah menyertai kehidupan umatNya.
Korah terkenal sebagai leluhur para penyair terkenal di Israel. Nyanyian bertemakan cinta kasih ini berisi pujian kepada raja Israel, baik fisik, sifat, maupun kinerjanya dan pencapaiannya. Mazmur ini menekankan pentingnya keberlangsungan hidup Israel, dengan penghayatan bahwa Allah menyertai Israel dengan menjamin keberlangsungan bangsa itu. Peristiwa pernikahan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi-kodrati untuk meneruskan keturunan di bumi ini, bahkan bukan sekadar peristiwa sehari-hari yang secular, perlu dimaknai secara imanen/teologis. Episode kehidupan alami-kodrati manusia ini, menunjukkan penyertaan Allah, demikianlah refleksi bani Korah dalam nyanyian Mazmurnya.
Ada penjelasan yang cukup gambling oleh Rasul Paulus, mengenai pengajarannya, bagaimana hubungan antara Hukum Taurat dan Iman Kristen. Jemaat Roma berbeda dengan jemaat Yerusalem, karena di kalangan jemaat Roma terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang Yahudi, masa lalunya hidup menurut hukum Taurat; sedangkan sebagian jemaat Roma lainnya adalah kaum non-Yahudi, yang tidak mengenal Taurat. Rasul Paulus menegaskan bagi jemaat berlatar belakang Yahudi, mereka sudah tidak lagi di bawah kendali Hukum Taurat, karena sudah dipersatukan dengan Tubuh Kristus. Hukum Taurat membawa manusia pada dosa (kematian), namun Injil membawa manusia pada hidup. Bahwa dalam hidup manusia sering terjadi pertentangan atau biasa terjadi gap (jurang pemisah) antara keinginan dan tindakan. Kita tahu mana yang baik, yang seharusnya kita lakukan, tetapi justru perbuatan jahat (dosa)-lah yang kita lakukan. Dosa terjadi bukan karena kita tidak paham akan apa yang baik dan benar, melainkan manusia masih dikendalikan oleh dosa dalam diri mereka. Paulus mengakui tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan keadaan dosa manusia. Paulus berseru, bahwa ia manusia celaka; “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (ay. 24). Satu-satunya pribadi yang bisa menyelamatkan, yaitu Yesus Kristus (ay. 25).
Injil Mateus 11: 16 – 19, 25 – 30, bahwa “Ajaran Yesus Kristus adalah Kehidupan yang Bebas, bukan Membelenggu”. Ajaran Yesus ini dilatarbelakangi oleh penolakan banyak orang atas karya-Nya. Bahkan lebih dulu mereka telah menolak ajaran Yohanes Pembabtis. Ajaran yang sejati tersembunyi bagi “orang bijak dan orang pandai”, yaitu kaum cerdik-pandai, ahli Taurat, kaum Farisi, kaum Saduki, para Imam yang menolak Yesus Kristus. Namun justru kepada orang-“orang kecil”lah (para gembala, orang-orang yang dipinggirkan/disisihkan: pelacur, pendosa, penjahat, pemungut cukai, dsb), ajaran sejati itu dinyatakan. Ajaran “iman” dalam Kristus Yesus memang tidak mudah diterima, semata-mata, intelektual, akal-budi, tetapi harus menggunakan “mata iman”.
Ajaran Yesus menawarkan sebuah gaya hidup yang melegakan, bukannya membebani. Aturan-aturan agama lebih membebani, karena njlimet, Yesus justru memberikan kelegaan bagi orang yang “letih lesu dan terbeban berat”. Taurat sangat membelenggu kehidupan ibadah orang Yahudi, karena ada konspirasi antara pemimpin agama Yahudi dengan penjajah Romawi, yang memperbudak “orang-orang kecil”, inilah beban religious dan politis yang dialami bangsa Isrel. Ajaran Yesus Kristus membebaskan manusia dari belenggu religious-politis, karena ajaran sejatiNya membawa keadilan, damai, dan sejahtera. Yesus merombak kehidupan religious, sosial-politik yang membelenggu kehidupan mereka dengan cinta kasih dan perdamaian!
Bagi orang-orang beriman memang harus mampu (mohon dimampukan oleh Sang Penolong, Roh Kudus) untuk menyikapi fenomena kehidupan dan bertindak dalam segala aspek kehidupan dengan “mata iman” kita. Keragu-raguan kita akan merusak jalinan komunikasi dengan Allah Bapa, tetapi keyakinan kita akan penyertaan-Nya akan menuntun seluruh langkah perjalanan hidup dan kehidupan kita. Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus senantiasa memberkati kita semua, anak-anak-Nya, Amin!
Bacaan I : Kejadian 24:34-38, 42-49, 58-67;
Mazmur Tanggapan : Mazmur 45:11-18
Bacaan II : Roma 7: 15 – 25a ;
Bacaan Injil : Matius 11 : 16 – 19, 25 – 30
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 6 Juli 2014
Add comment