
Kisah 'transfigurasi' Kristus di atas gunung bukan hanya dikisahkan oleh kitab-kitab Injil saja, tetapi juga dikuatkan melalui Surat II Petrus. Dalam Kisah 'transfigurasi' ini, sangat menarik kalau Injil-injil mencatat bahwa diantara dua belas murid, ternyata hanya tiga orang saja yang diajak dalam suatu peristiwa khusus, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Kepada ketiga orang murid inilah Tuhan Yesus membawa mereka ke sebuah gunung yang sangat tinggi.
Ketiga murid inilah yang kelak akan diajak pula oleh Tuhan Yesus untuk mendampingi Dia ketika mengalami pergumulan di Taman Getsemani.
Pada saat Tuhan Yesus dan ketiga murid telah berada diatas gunung, Tuhan Yesus mengalami 'transfigurasi '. Matius 7 : 2 mengungkapkan transfigurasi yang dialami Tuhan Yesus dengan perkataan : 'WajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang.' Dia mengenakan tubuhNya yang mulia di depan ketiga muridNya.
Peristiwa pernyataan kemuliaan Tuhan Yesus tersebut dihadiri pula oleh Nabi Musa dan Elia, nabi yang sangat dihormati oleh umat Israel. Mereka datang untuk menghormati dan mempermuliakan diri Tuhan Yesus.
Ketika Petrus melihat peristiwa yang dahsyat dan penuh kemuliaan itu, secara spontan dia berkata : 'Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia'. (Matius 17:4)
Di Matius 17 : 5 disebutkan ' Tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka '. Ayat ini mau menyatakan bahwa kemuliaan Allah tidak dapat ditempatkan dalam kemah buatan tangan manusia. Dari awan yang turun menaungi mereka, terdengarlah suara : ' Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia'. Suara Allah tersebut mengulang dan menegaskan kembali apa yang Ia katakan pada waktu Tuhan Yesus di baptis di sungai Yordan.
Suara Allah tersebut menggemakan firmanNya dalam Mazmur 2 : 7, Yesaya 42 : 1 dan Yesaya 49 : 1. Suara Allah tersebut menegaskan bahwa Kristus adalah sungguh-sungguh Anak Allah, yang dipilih dan yang kepadaNya Allah berkenan; dan karena itu Dia wajib didengarkan suaraNya oleh setiap umat manusia.
Kita selaku umat Tuhan, seringkali kurang setia dan konsisten untuk mendengarkan suara kebenaran Kristus. Dalam pengambilan keputusan dan kebijakan, sering kita membiarkan diri dipengaruhi dan ditentukan oleh suara dunia ini; sering kita bersandar kepada orang-orang yang kita anggap terpandang dan memiliki pengaruh; atau atas nama ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selaku umat Tuhan kita sering kita sering berada ditengah-tengah hiruk pikuk suara manusia dan berbagai pertikaian yang terjadi dalam berbagai aras dan bentuk. Pada saat itulah kita membutuhkan kesediaan untuk mendengar secara hening suara Kristus, agar kita dapat memahami kehendak dan rencana Allah atas kehidupan kita.
Peristiwa transfigurasi Kristus memiliki pesan teologis yang sangat fundamaental, yakni agar umat manusia sepanjang sejarah masa mengakui Kristus sebagai Anak Allah dan mau mendengarkan semua perkataanNya. Perkataan Kristus pada hakikatnya merupakan perkataan hidup yang kekal, karena Kristus adalah yang kudus dari Allah. (band. Yohanes 6 : 68-69). Amin.
Bacaan I : Kel. 24:12–18
Bacaan II: 2 Pet. 1:16–21
Bacaan III: Matius 17:1–9
Tanggapan: Mazmur 99
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 06 Maret 2011
Add comment