Bacaan Leksionari
PL: Yesaya 40:21-31, Mazmur 147:1-11
PB: 1Korintus:9:16-23; Markus 1:29-39
Makna dari judul itu menurut saya adalah sebuah perintah yang artinya "bagi siapa saja yang telah dipulihkan diperintah untuk kemudian memulihkan orang lain".
Kalau kata-kata itu dimaknai dengan iman Kristen, perintah itu berarti: bagi semua yang telah dipulihkan hidupnya dari cara hidup lama menjadi hidup baru (dalam Tuhan), maka ia dipanggil, menjadi alat Tuhan untuk memulihkan orang lain.
Kata-kata "Dipulihkan untuk Memulihkan" mudah diucapkan tapi tidak gampang untuk dilaksanakan, karena dalam prakteknya banyak pergumulan yang menghalanginya.
Seperti misalnya ketika kita didatangi oleh majelis untuk diminta menjadi guru sekolah minggu, anggota komisi, atau menjadi majelis gereja, biasanya dengan segala cara kita berusaha menolak dengan bermacam-macam alasan : sibuklah dengan pekerjaan kantor, belum mampu, atau sibuk menunggu anaknya yang tidak mau ditinggal, sibuk ngurus rumah tangga dsb, seolah-olah kita ada dalam pergumulan yang berat sampai kita tidak punya waktu untuk memperhatikan orang lain. Padahal kita tahu bahwa pelayanan ditempat itu adalah salah satu tempat dimana kita dapat memulihkan orang lain.
Ada sebuah ilustrasi yang sangat baik tentang kepedulian pada orang lain meskipun mempunyai pergumulan hidup yang cukup berat.
Dalam tayangan sebuah stasiun TV yang berjudul "Tolong, tolong", beberapa hari yang lalu menayangkan seorang wanita yang sedang hamil tua, meminta tolong pada orang-orang yang ada disekitarnya untuk mengantarkan ke RS karena merasa akan melahirkan, namun ia tidak mempunyai uang untuk membayar transportnya. Dari sekian banyak orang yang didatangi untuk dimintai tolong hanya ada satu orang yang mau mengantarkan, yaitu tukang becak yang sudah tua dan becaknya pun sudah reyot, sedangkan orang2 yang masih muda bahkan mempunyai kendaraan bermotor tidak mau menolong wanita itu. Ketika diwawancarai tukang becak itu mengatakan bahwa seharian ia belum mendapatkan uang dan ia mau menolong karena kasihan pada wanita yang akan melahirkan itu. Dan akhirnya karena perbuatannya itu ia mendapatkan uang yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding pendapatan sehari-harinya.
Melalui ilustrasi tadi kita mendapatkan pembelajaran, dari tukang becak yang tidak mengenal Kristus tetapi ia telah mempraktekkan ajaran Kristus yaitu ketika ia mendapatkan pergumulan dalam hidup bukan berarti semua orang harus peduli, mengasihi, simpati dan empati pada persoalannya, tapi justru ia mampu peduli dan juga mengasihi orang lain, dan pada akhirnya ia mendapat upah yang sepadan dengan perbuatannya.
Bangsa Israel ketika dalam pembuangan di Babel mengalami pergumulan yang hebat karenanya mereka meninggalkan Tuhan, mereka kecewa merasa Tuhan telah meninggalkan, lalu mencari illah lain, tetapi Tuhan yang mengasihi bangsa Israel melalui Nabi Yesaya mengingatkan bahwa Tuhan akan tetap member semangat dan kekuatan bagi mereka yang tetap setia (Yesaya 40:21-31)
Rasul Paul dalam suratnya pada jemaat di Korintus merasa terpanggil untuk memberitakan Injil, meskipun mengalami pergumulan yang berat karena ditentang oleh beberapa orang dalam jemaat di Korintus. (1 Kor 9:16-23), demikian pula Tuhan Yesus dalam injil Markus diberitakan bahwa ketika dalam mewartakan injil terpanggil juga untuk melakukan karya kasihnya dengan menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan.
Melalui ayat-ayat ini kita dipanggil untuk mau berbelas kasih pada orang lain meskipun kita mengalami pergumulan yang menekan hidup, dengan selalu tetap memandang rahmad pemulihan Allah agar berani bersyukur. (Mazmur 147:1-11), dan kita dipanggil berani menanggapi panggilan Allah untuk memulihkan orang lain misalnya melalui kegiatan di Komisi-komisi gereja ataupun menjadi majelis gereja dan pasti Tuhan sendiri yang akan memampukan dan menolong orang2 yang mau sungguh-sungguh dan setia menjadi alat Tuhan untuk kemuliaan nama-Nya, Amin.
Tim Penyusun Renungan
-------- phd ---------
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 8 Februari 2009 Nomor : 05/2009
Add comment