
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Berbicara mengenai panggilan Tuhan, untuk hidup dan melayaniNya, memang sangat unik. Tidak sebagaimana "panggilan kerja" yang dilakukan oleh institusi tertentu, ketika membutuhkan tenaga kerja untuk direkrut sebagai karyawan/pekerja yang dibutuhkannya. Ada persyaratan-persyaratan tertentu yang ditetapkan oleh institusi untuk setiap "calon karyawan" yang dibutuhkan tersebut, antara lain: kualifikasi pendidikan, spesialisasi bidang keahliannya, IP kumulatifnya, identitas pribadi, pengalaman kerja dan sebagainya, untuk menetapkan evaluasi yang diperlukan institusi mengenai kemampuan kerja bagi calon karyawan tersebut. Artinya, ada standar tertentu yang dijadikan parameter oleh institusi itu untuk memperoleh kualitas "pekerja" yang dibutuhkannya.
Tuhan, Yahweh, tidak menggunakan standar evaluasi berdasarkan aspek legal-formal, ketika akan memilih dan mengangkat seseorang untuk melayaniNya, tetapi menggunakan standar kedaulatan (otoritas) yang dimilikiNya, berdasarkan hikmat Allah, Yahweh, sendiri. Berdasarkan keempat bacaan dari firman Tuhan tersebut, sangat jelas benang merah yang menghubungkan mengenai "hidup dalam hikmat Tuhan Allah", bagi setiap orang percaya.
- Bacaan Pertama, 1 Sam. 3:1-10; 11-20, ada hal yang istimewa terhadap panggilan (pilihan) Tuhan bagi Samuel. Mengapa bukan anak-anak Imam Eli, namun Samuel, pembantu Imam Eli? Tuhan menentukan pilihanNya berdasarkan HIKMAT-NYA sendiri, bukan ukuran-ukuran yang biasa digunakan manusia.
- Bacaan Kedua, Mazmur 139: 1-6; 13-16, pemazmur sangat mengakui kuasa Tuhan yang mampu menyelidiki sampai relung hati manusia, apa yang dipikirkan, dan apa yang dikerjakan manusia, Tuhan Maha mengetahui, karena memiliki HIKMAT, Kuasa Tuhan melampaui seluruh pikiran manusia, Allah itu sangat ajaib, manusia tidak GADUK (TAN BISA ANJAJAGI KAWICAKSANANE GUSTI ALLAH).
- Bacaan ketiga, 1 Kor. 6: 12-20, "Muliakanlah Allah dengan tubuhmu", harus dimaknai hidup dalam KEKUDUSAN, karena Tuhan Allah (Yahweh) adalah kudus. Hidup dalam kekudusan, artinya hidup yang bermakna bagi KEMULIAAN TUHAN, tidak mencemari tubuh yang kelak dibangkitkan oleh Tuhan Yesus Kristus dengan berbagai perbuatan cela dan dosa.
- Bacaan keempat, Injil Yohanes 1:43-51, ini memiliki pola yang sama dengan bacaan pertama: kedaulatan, keunikan Tuhan Yesus ketika memanggil Filipus dan Natanael berdasarkan HIKMATNYA, kedua orang ini terpilih menjadi murid Yesus. Respon Filipus atas panggilan Yesus kepadanya, yaitu "Kami telah menemukan Dia....", sedangkan Natanael merespon panggilan Yesus, "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!".
Dari keempat bacaan Firman Tuhan di atas ada empat aspek yang perlu diyakini oleh setiap orang percaya, bahwa hidup dalam hikmat allah harus (1) taat pada panggilan yang ditetapkanNya bagi kita; (2) mengakui hikmat dan kuasaNya atas seluruh kehidupan kita; (3) ketika kita telah dipilih oleh Tuhan, harus hidup dalam kekudusanNya; dan (4) respon kita yang terpilih, mengakui eksistensi Yesus Kristus sebagai Raja, Tuhan, dan Juru Selamat pribadi kita.
Semua aspek kehidupan Gereja, Lembaga Pelayanan (pewartaan Injil), dan orang percaya, dalam berpelayanan, seharusnya mengikuti pola-pola yang dikerjakan Tuhan untuk mewujudkan misiNya atas dunia ini. Orang percaya seharusnya menjadi Trend Setter, artinya: seperti kata Paulus dalam Roma 12:2, "jangan kita mengikut cara hidup orang dunia, tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah". Orang Kristen (orang percaya) harus memiliki pola hidup ALKITABIAH, yang justru dapat diikuti oleh orang lain. Sayang sekali, bahwa bukan rahasia lagi, gereja dan pelayanan justru mencari dan belajar dari pola-pola dunia dalam menyelenggarakan pelayanan dan kehidupan. Gereja menggunakan kiat-kiat marketing: menyediakan fasilitas gedung yang megah, strategis, be AC, pengkotbah (pembicara) yang dinamis, topik-topik yang menarik dan memuaskan jemaat. Artinya, bahwa hal itu tidak ada bedanya dengan pembicara-pembicara motivasional.
Gereja mula-mula dibangun tidak dengan strategi marketing seperti itu, tetapi dari DOA, mengabarkan KEBENARAN dan suara KENABIAN, tujuannya bukan supaya banyak orang datang, tetapi supaya banyak orang hidupnya DIUBAHKAN, yang belum bertobat dan belum percaya menjadi bertobat dan percaya, yang hidupnya bengkok diluruskan.
Sebagai pribadi, orang percaya, kita perlu menetapkan pola hidup, menjadi trend Setter bagi kerajaan Allah, yaitu dengan memegang nilai-nilai alkitabiah satu-satunya nilai yang harus kita pegang, supaya kita dijauhkan dari mengikuti trend dunia yang materialistis, hedonis, yang hanya mementingkan diri sendiri. Pola hidup sederhana, dipakai/menjadi berkat bagi sesama, menebarkan kasih dan tidak hidup egois. Dengan demikian kita harus siap berhadapan dengan nilai-nilai dunia, untuk mempu hidup dalam hikmat Tuhan Allah, butuh kerendahan hati dan menyangkal diri! Amin, Tuhan Memberkati!
Bacaan I : 1 Sam. 3 :1–10, 11-20
Tanggapan: Mazmur 139:1-6; 13-18
Bacaan II: 1 Kor. 6 : 12 – 20
Bacaan III : Yohanes 1 : 43 – 51
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 15 Januari 2012
Comments
Pengunjung (not verified)
Memang benar, sayangnya tidak
Fri, 13/07/2012 - 01:11Add comment