
Keberadaan kita sebagai manusia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan orang lain. Kita tidak akan mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Banyak hal yang tidak dapat kita hadapi dan selesaikan dengan kekuatan, kemampuan kita sendiri, terlebih saat kita berada dalam kondisi lemah, tidak berdaya.
Walaupun manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Namun manusia belum mampu untuk hidup benar serta sempurna dihadapanNya. Sebab seringkali manusia jatuh pada sikap mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan sesama dan lingkungannya. Keegoisan menjadikan manusia berpura- pura di dalam kehidupan serta kepura-puraan itu berbuah sikap hidup jahat yang pada akhirnya merugikan orang lain.
Kesalehan adalah sebuah panggilan yang mendatangkan kebahagiaan. Bagi sang pemazmur, kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah harta benda yang berlimpah. Tetapi kebahagiaan yang sejati adalah ketika sebagai umat mempunyai kesadaran takut kepada Tuhan dan menyukai perintahNya (Mazmur 112:1). Ketika umat mengejar kebahagiaan sejati yaitu dengan takut akan Tuhan dan menyukai perintahNya maka yang dipetik adalah karunia baik yang akan dirasakan secara pribadi (ay. 2-4, 6-8) dan juga dirasakan bagi sesamanya (ay. 5,9). Pengajaran melalui mazmur saat ini nampak jelas dimana kesalehan pribadi yang nampak didalam sikap takut akan Tuhan serta menyukai sabda perintahNya yang pada akhirnya berbuahkan damai sejahtera yang dirasakan oleh dirinya dan sesama manusia.
Panggilan untuk hidup saleh menjadi sebuah panggilan yang perlu diperjuangkan umat Tuhan. Namun pertanyaannya: Apakah sebagai umatNya, kita sudah membangun kesalehan yang benar? Kesalehan itu penanda kedekatan hubungan kita dengan Tuhan. Benarkah Tuhan menjadi satu-satu nya sumber kehidupan kita yang senantiasa kita andalkan?
Bukankah kita seringkali masih mengandalkan harta benda, kekuatan manusia, kepandaian, teknologi, kedudukan dan sebagainya dimana semuanya itu kemudian menjadi 'tuhan' bagi kita? Lalu, dimanakah letak kesalehan kita? Seorang saleh adalah setia dengan Janji Tuhan, tetapi apakah kita setia dengan Janji-janjiNya? Bukankah kita sering kecewa, marah bahkan menggugat Allah ketika apa yang menjadi keinginan kita tidak segera dikabulkan Tuhan?
Kesalehan harus terus nampak dalam keseharian kita! Kita dipanggil untuk setia, taat padaNya, tetapi kita juga harus menampakkan kasih kita kepada sesama dan lingkungan kita.
Kiranya Tuhan memampukan kita mengupayakan kesalehan sejati yang nyata didalam tindakan untuk mau berbagi hidup dengan sesama kita. Tuhan Memberkati. Amin.
Bacaan I : Yesaya 58 : 1 – 12
Bacaan II: 1 Kor. 2 : 1 – 16
Antar Bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10
Bacaan Injil : Matius 5: 13 – 20
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 6 Pebruari 2011
Add comment