
Kehadiran orang yang berkuasa tidak serta merta berdampak bagi kehidupan kita. Hal itu bisa disebabkan oleh karena kita tidak mengerti bahwa orang itu berkuasa. Beberapa waktu yang lalu media-media di Indonesia memberitakan kemarahan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Sebagai Gubernur, dia berkuasa menegur aparat pemerintah yang lalai menjalankan perintah dan melanggar peraturan. Ia juga berwenang mengingatkan warganya yang melakukan kesalahan.
Namun yang terjadi para kernet truk menyuap petugas diskominfo di depan mata Gubernur karena mereka tidak mengerti bahwa orang yang di depannya adalah penguasa. Dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus masih terluka, trauma dan kehilangan harapan, berjumpa dan berjalan bersama dengan Tuhan Yesus menuju ke tempat tinggalnya. Mata mereka masih tertutup dan mereka belum mengenal Tuhan Yesus. Jadi, kehadiran dan perjumpaan Tuhan yang tidak dikenal belum mempengaruhi kehidupan umat.
Sebaliknya, kehadiran dan perjumpaan dengan penguasa yang dikenali berdampak positif bagi kita. Penguasa di sini diandaikan sebagai pihak yang bertanggung jawab yang berjuang mewujudkan kemajuan, kemakmuran, kesembuhan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Seorang supir merasa bahagia dan terhibur ketika bosnya datang dan menyapa serta menanyakan keadaan anaknya yang baru pulang dari rumah sakit. Bosnya juga yang membantu membiayai perawatan anaknya.
Semangat Kleopas dan temannya untuk menceritakan pengalaman perjumpaannya dengan Tuhan Yesus yang bangkit tidak terbendung. Hati mereka berkobar-kobar. Harapan yang telah padam kembali menyala. Itu terjadi ketika mata mereka terbuka dan mereka mengenal Tuhan Yesus. Kehadiran dan perjumpaan Tuhan Yesus yang bangkit yang memiliki kuasa di bumi dan di sorga berdampak besar karena umat mengenal-Nya.
Bagaimana hal tersebut di atas terjadi? Di sini, penginjil Lukas menunjukkan peran Pejamuan Tuhan Yesus. Perjamuan Tuhan Yesus telah membuka mata para murid dan membuat para murid mengenal-Nya. “Waktu ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia...”.
Bacaan: Lukas 24: 13 – 35
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 4 Mei 2014
Add comment