
Manusia yang hidup di jaman sekarang ini berada pada masa yang serba canggih, banyak informasi dari belahan dunia manapun bisa di akses dengan mudah hanya dengan alat atau barang elektronik yang mempunyai fungsi khusus. Sangat menguntungkan memang bisa melakukan aktivitas seperti browsing-browsing atau berselancar di dunia maya hanya dengan sebuah perangkat canggih yang bisa dengan mudah kita operasikan. Perangkat gadget ini pun juga sudah menjamur di lingkungan kita bahkan pengguna usia anak-anak pun sudah bisa mengaksesnya.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita melihat bermacam-macam jenis gadget yang hampir digunakan oleh semua kaum remaja. Gadget sangat berperan penting bagi kehidupan manusia untuk berkomunikasi, memperbanyak relasi, menambah wawasan dan pengetahuan, pendidikan serta bisnis. Namun disisi lain terjadi hal yang berlawanan disebabkan oleh faktor keteledoran pemakainya atau kekurangtepatan dalam memanfaatkan fungsi yang sebenarnya.
Remaja pada zaman modern tentunya tidak ingin disebut sebagai orang gaptek, yang terlihat biasanya remaja kini membawa gadget kemanapun mereka pergi. Bahkan murid-murid sekolah terlambat masuk sekolah gara-gara main game online, menghilangkan stress, galau, kebosanan dengan gadget. Karena menurut mereka, gadget bisa dibilang sudah menjadi gaya hidup mereka sehari-hari, statement yang biasanya mereka bilang “Nggak bisa hidup dan terlepas dari gadget, rasanya berat kalau gak ada gadget yang di genggam”. Sebuah majalah pernah melakukan survey tentang tingkat ketergantungan manusia pada gadget. Kepada responden ditanyakan mana yang membuat mereka lebih cemas HP tertinggal atau dompet tertinggal. Sebagian responden menjawab, lebih cemas bila HP mereka yang tertinggal.
Mungkin apa yang banyak dilakukan orang-orang terhadap gadgetnya itu juga kita lakukan setiap hari. Kalau kita melakukan hal yang sama dengan remaja-remaja pada umumnya itu berarti teknologi telah menjadi tuan atas diri kita. Melalui bacaan dari Keluaran 32:1-14, secara jelas menggambarkan pergolakan iman bangsa Israel di tengah kesulitan hidup yang mereka jalani saat keluar dari Mesir. Bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan puncaknya mereka meminta Harun membuatkan patung tuangan karena Musa tak kunjung turun dari puncak gunung Sinai. Bangsa Israel jatuh ke dalam dosa dengan menduakan Allah dengan patung lembu emas. Allah tidak menyukai tindakan tersebut. Kini malah mereka terjatuh pada dosa yang dibenci Allah. Dalam Mazmur tanggapan, pemazmur mengingatkan pelanggaran bangsa Israel sepanjang hidupnya. Dosa itu dilakukan tidak hanya pada masa kini, namun juga sudah dilakukan jauh sebelumnya. Oleh karena itu Allah akan memusnahkan Bangsa Israel tersebut, jika Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi dihadapan-Nya, untuk menyurutkan marah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka. Namun dibalik pelanggaran itu, hakikat Tuhan tetap sama, yaitu kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.
Melalui bacaan Injil kita saat ini yaitu dalam Matius 22:1-14 yang menjelaskan tentang perumpamaan perjamuan kawin dalam menggambarkan kerajaan Sorga. Perumpamaan ini mempunyai dua arti yaitu dalam arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit perumpamaan ini menggambarkan bahwa sebenarnya Allah telah mengundang orang-orang Yahudi untuk menjadi umat pilihan Allah. Namun ketika Yesus datang ke dunia, mereka yang diundang justru menolak-Nya mentah-mentah. Oleh karena itu undangan Allah dialihkan pada orang-orang bukan Yahudi, orang-orang pendosa, yang tidak pernah bermimpi menerima undangan memasuki Kerajaan Allah. Selanjutnya dalam arti luas, melalui perumpamaan ini Allah memanggil orang-orang non-Yahudi untuk menerima undangan-Nya. Perumpamaan ini mengingatkan kita, bahwa hal-hal yang menyebabkan manusia tuli terhadap undangan Tuhan belum tentu hal-hal buruk. Dalam perumpamaan tersebut dikatakan alasan ketidakdatangan mereka. Ada yang sedang mengurus ladangnya dan ada yang mengurus usahanya. Mereka tidak menanggapi undangan Allah untuk pesta pora atau mabuk-mabukan. Mereka pergi untuk mengurus tugasnya. Namun mereka lupa ada hal yang lebih penting dari semua itu. Sungguh mudah bagi manusia untuk bersibuk-sibuk dengan hal-hal yang bersifat sementara sehingga melupakan hal-hal yang bersifat kekal.
Melalui perumpamaan di atas kita diingatkan bahwa kita telah diundang dalam pesta perkawinan itu. Mari kita menanggapi undangan itu dengan memikirkan dan mengusahakan hal-hal yang bersifat kekal. Jangan kita malah bersibuk-sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu. Kalau akhir-akhir ini kita disibukkan dengan teknologi, misalnya kita lebih memberi porsi waktu yang cukup banyak pada penggunaan HP untuk hal-hal yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Dari bangun tidur kita menyediakan waktu pertama kali untuk HP bahkan sampai sepanjang hari kita memberikan waktu yang lebih untuk HP hanya untuk sesuatu yang tidak berguna. Jangan menjadikan teknologi sebagai tuan kita. Mari kita mengambil sikap yang bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Biarlah hidup kita selalu mengutamakan Tuhan dalam segala hal. Tuhan Yesus menolong kita untuk hidup sesuai dengan Firman-Nya. Biarlah kita tidak bersibuk-sibuk dengan hal-hal yang bersifat sementara tetapi marilah hidup ini kita arahkan pada sesuatu yang kekal yaitu Kerajaan Sorga. Amin…
Bacaan I : Keluaran 32: 1 – 14;
Mazmur Tanggapan : Mazmur 106: 1 – 6, 19 – 23
Bacaan II : Filipi 4: 1 – 9;
Bacaan Injil : Matius 21 : 1 – 14
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 12 Oktober 2014
Add comment