
Jemaat yang terkasih,
Pernah suatu kali dalam pembicaraan tiga orang teman, salah satunya mengatakan “kita wajib berbuat baik kepada orang-orang disekitar kita”. Kemudian salah seorang temannya mengatakan “bukan hanya wajib, tapi juga harus berbuat baik karena merupakan perintah dari Tuhan!!!”. Namun teman yang satunya mengatakan “berbuat baik itu bukan kewajiban dan keharusan, tetapi itu sudah semestinya dilakukan oleh kita”. Kemudian dia melanjutkan “sering orang berbuat baik itu karena terpaksa oleh sebab perintah yang wajib dan harus dilakukan.
Jadi meskipun perilakunya baik namun hatinya sebenarnya enggan untuk melakukannya. Takut kalo masuk neraka!!!. Sehingga orang menjadi terbiasa bermanis-manis di depan tetapi hatinya tidak”. Apa yang dikatakan oleh teman ketiga tersebut, dalam bahasa sekarang disebut sebagai pencitraan. Melakukan perbuatan baik hanya karena tuntutan atau perintah, yang semestinya tidak demikian.
Jika kita membaca bacaan Injil Matius 5: 21-37 sangatlah nampak bahwa perbuatan baik itu bukan hanya sekedar kewajiban atau keharusan dari sebuah perintah ilahi. Akan tetapi sudah semestinya menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tuhan Yesus memberikan kritik kepada kehidupan orang Yahudi yang demikian. Pertama, orang Yahudi ketat menerapkan perintah dilarang membunuh. Perintah tersebut dilakukan, namun banyak di antara mereka yang bermasalah kemudian menyimpan dendam. Mengeluarkan kata-kata yang kasar untuk merendahkan saudaranya. Bagi Tuhan Yesus hal itu sama saja, hati mereka tetap melekat kebencian terhadap saudaranya. Melenyapkan keberadaan saudaranya dari kehidupannya di dalam hatinya.
Kedua, orang Yahudi pantang berzinah dan hukumnya jelas. Namun banyak diantara mereka yang kawin cerai karena karena hasrat seksualitas. Artinya sebenarnya hatinya ingin berzinah. Oleh karena itu Tuhan Yesuspun mengkritik tindakan kawin cerai yang marak dalam kehidupan orang Yahudi. Ketiga, orang Yahudi itu gemar bersumpah. Sumpah dalam kehidupan orang Yahudi ada 2 macam: Sumpah yang mengikat dan tidak mengikat. Sumpah yang mengikat dilakukan dalam nama Tuhan (mis: Demi Tuhan yang menciptakanku, aku bersumpah...; demi Allah yang melindungiku, aku bersumpah...;dll). Sedangkan sumpah yang tidak mengikat dilakukan dalam nama langit, bumi, Yerusalem dan kepalanya sendiri (mis: Demi langit aku bersumpah...; Demi bumi aku bersumpah...; Demi Yerusalem aku bersumpah....). Yang dikritik oleh Tuhan Yesus adalah banyak orang yang mengumbar sumpah tidak mengikat tersebut, supaya perbuatannya terlihat baik padahal hatinya tidak ingin menepatinya.
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus,
Melalui pemahaman tersebut, Tuhan menginginkan pengikutNya lebih dari yang biasa. Yaitu memahami perbuatan baik bukan sekedar perintah yang wajib dan harus dilakukan, namun sebagai tindakan yang sudah semestinya kita lakukan. Sehingga ada keselarasan antara hati dan perbuatan kita. Berbuatlah baik jangan karena paksaan tetapi karena itu memang baik untuk diwujudkan. Tuhan memberkati.
Bacaan: Matius 5: 21 – 37
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 16 Februari 2014
Add comment