
Bagi sebagian orang, kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Tetapi, bagi sebagian orang lain, kematian bukanlah hal yang menakutkan. Buktinya, di banyak tempat dan dengan berbagai alasan, cukup banyak "bom bunuh diri" terjadi.
Bagi yang takut maupun yang berani mati, sesungguhnya hidup di dunia ini hanya satu kali, dan tidak mungkin diulang lagi. Hidup yang satu kali itu menentukan apa yang akan diterimanya di kehidupan yang akan datang. Bagi orang yang sudah mati, apapun harus berhenti, dan ia tidak dapat berkarya lagi. Oleh sebab itu, betapa pentingnya anak Tuhan memperhatikan bagaimana ia hidup.
Kita sering diingatkan bahwa hidup tidak terletak pada panjang atau pendeknya umur seseorang, melainkan pada bagimana orang tersebut berkarya: mengisi dan menjalani hidupnya. Apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, itulah yang akan kita dapatkan kelak.
Stefanus mati muda karena pengenalan dan keyakinan imannya kepada Tuhan Yesus. Keberanian Stefanus menyampaikan kebenaran firman Tuhan membuatnya harus menghadapi kematian dirinya sendiri.
Ia berani memberitakan kebenaran firman sekalipun diamuk massa, yang kemudian membunuhnya. Ia tidak takut mati, karena apa yang ia yakini, pikirkan, katakan dan lakukan, adalah jelas demi kebenaran Kerajaan Sorga.
Matanya hanya ditujukan ke sorga, ke tempat mana kemudian ia akan pergi. Ia tidak takut mati, karena ia memiliki pengharapan sorgawi. Tuhan Yesus, Anak Manusia, yang ada di sebelah kanan Allah Bapa, sedang menantikannya.
Stefanus telah melihat, Tuhan Yesus yang menyediakan tempat baginya, berada di sebelah kanan Allah Bapa.
Hal yang indah, Stefanus mengulang kata-kata yang pernah diucapkan Tuhan Yesus secara langsung. Di ayat 56: "Anak Manusia", adalah sebutan yang sering dipakai Tuhan Yesus untuk menunjuk diriNya sendiri.
Ayat 59: "Ya, Tuhan Yesus, terimalah rohku", bandingkan Lukas 23:46; "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaKu". Ayat 60: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka", bandingkan Lukas 23:34 "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat".
Hidup yang bermakna tidak terletak pada panjang atau pendeknya umur manusia, melainkan pada bagimana ia mengisi dan menjalaninya. Hidup sebagai orang baik tapi berumur pendek, pasti lebih baik daripada berumur panjang tapi jahat dan menyusahkan orang. Sebagai anak Tuhan, kita tentu seharusnya hidup berguna melebihi orang-orang yang masih di luar Kristus, karena kita mempunyai panduan firman Tuhan.
Dengan hati dan sikap hidup yang bersyukur, kita akan bercerita tentang perbuatan Allah yang besar, dan melakukan apa yang berguna bagi Kerajaan Allah. Atau, bahkan rela mati seperti Stefanus, demi menceritakan dan menyaksikan pengalamannya akan Tuhan Yesus dan karyaNya.
Bacaan I : Kis. 7:55-60
Tanggapan: Mazmur 31:1-5; 15-16
Bacaan II: 1 Pet. 2:2–10
Bacaan III : Yohanes 14:1–14
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 22 Mei 2011
Add comment