
Permasalahan yang ada pada manusia, konflik bahkan kekerasan fisik maupun psikis, hal ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat, ketidakcocokan, merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya daripada orang lain juga lebih senior, dianggap orang lain juniornya, ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam kehidupan keluarga, di kantor, di kampong, bahkan mungkin dalam gereja.
Jika permasalahan tersebut diatas diselesaikan secara kekerasan, main kuasa, tidaklah heran persoalan itu ikut menjadi lebih buruk.
Saudara-saudara dikasihi Tuhan.
Kita diingatkan apa yang dilakukan dengan hidup damai, sejahtera, siapapun, apapun status, kedudukan jabatan terpanggil untuk mempunyai hati seorang hamba yang dalam arti mau merendahkan diri, mau melayani, lebih suka memberi daripada menuntut. Merendahkan diri bukan berarti dirinya menjadi minder/rendah diri, melainkan memposisikan diri lebih rendah dengan sesama.
Sebagai anak-anak Tuhan untuk tidak melupakan Teladan Tuhan, untuk mewujudkan rasa salam, damai sejahtera dalam kehidupan kebersamaan baik dalam berbicara, memutuskan sesuatu terlebih dalam kehidupan bergereja. Oleh karena itu dalam situasi apapun dibutuhkan untuk saling merendah dalam rangka mendengar dan menghargai satu terhadap orang lain ketika menghadapi perbedaan pendapat.
Mengapa kita harus mempunyai hati seorang hamba?
Karena hal itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus. Tuhan Yesus dalam perjalanan dengan orang Israel ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Perjanjian Lama) mempercakapkan siapa Dia, apakah dia penyelamat Mesias yang dijanjikan Tuhan mampu menyelamatkan bangsa Israel dan penjajahan Romawi, dengan menyembuhkan orang sakit, mukjizat yang dilakukanNya yang luar biasa untuk mengalahkan bangsa Romawi, Tuhan Yesus berani menunjukkan bahwa Ia datang sebagai Mesias yang berperang dengan senjata melawan bangsa Romawi.
Agar kita dapat tetap memiliki hati seorang hamba siapapun kita adalah hamba Tuhan, untuk melakukan pekerjaan Tuhan menyampaikan sukacita damai sejahtera dimana saja kita berada, dalam Yesaya 50:4-9a, Mazmur 31:10-14. Bagi kita untuk tetap menjadi hati seorang hamba, walaupun hal ini tidak mudah itu merupakan konsekwensi dari kesetiaan yang kita lakukan yang senantiasa percaya dan yakin bahwa Tuhan Maha Adil, kebenaran tidak akan tersembunyi. Dalam minggu Palmarum jemaat diajak untuk dapat, memiliki hati seorang hamba, meneladani Dia, Tuhan baik Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia. Amin.
Bacaan I : Yesaya 50:4–9a
Tanggapan: Mazmur 31: 10–17
Bacaan II: 2 Filipi 2:5–11
Bacaan III : Matius 21:1–11
Sumber: Warta Gereja Edisi : Minggu, 17 April 2011
Add comment