
Prioritas itu penting. Apa yang paling penting dalam agama atau beragama? Ialah pada saat orang mengasihi Tuhan-nya dengan serius, progresif dalam komitmen yang dilandasi cinta dan bukan keterpaksaan. Singkatnya, dari hati. Hanya itu? Tidak. Jika hanya itu saja maka agamanya hanya menjadi agama doktrin belaka. Tidak sedikit orang yang malah berperang, membenci dan menyakiti orang lain dengan alasan membela dan mencintai Tuhan-nya. Cinta kasih kepada Tuhan harus beriringan dengan cinta kasih kepada sesama manusia. Jika dua dimensi ini menjadi prioritas dalam agama, maka agama menjadi katalisator yang berdampak bagi perbuahan sosial kemasyarakatan.
Pada masa Yesus, orang-orang Yahudi mengkoleksikan ratusan hukum keagamaan. Seorang ahli sejarah mengatakan jumlahnya 613 hukum. Beberapa pemimpin agama mencoba untuk mengelompokkan mana yang menjadi hukum mayor dan minor. Ada kelompok yang berpendapat bahwa semua hukum sama bobotnya serta saling melengkapi dan menjadi berbahaya bila dikelompok-kelompokkan. Pertanyaan dari seorang guru agama kepada Yesus pada bacaan ini bisa jadi akan menimbulkan kontroversi antara kelompok-kelompok keagamaan yang ada pada waktu itu, tetapi rupanya jawaban Yesus adalah jawaban yang bijaksana. Yesus mengajarkan apa yang paling penting dari semua hukum keagamaan yang ada.
Injil hari ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang ahli taurat “hukum manakah yang paling utama?”. Yesus menjawab: “Hukum yang terutama ialah: dengarlah, hai orang israel Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa….”. Yesus memulai memberikan jawaban dengan kata “dengarlah”. Yesus mengatakan itu bukan tanpa maksud. Makna mendengarkan menunjuk pada penginternalisasian kasih dalam diri yang dimulai dengan mendengarkan sabda tentang kasih. Mendengarkan adalah sebagian dari semangat kasih itu. Dalam hidup sehari-hari kita, mendengarkan itu sulit untuk kita lakukan. Banyak orang mengatakan bahwa berbicara lebih mudah daripada mendengarkan. Dan hal itu mungkin benar adanya. Kita lebih mudah untuk berbicara daripada mendengarkan. Dalam keseharian kita , dalam banyak kesempatan kita lebih banyak berbicara daripada mendengarkan.
Selanjutnya, dalam ayat berikutnya Yesus mengatakan: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan rupanya merangkum seluruh diri manusia, karena hidup manusia yang berlandaskan kasih ditopang oleh hati, jiwa, akal budi dan juga kekuatan dirinya dalam hidup itu. Itu artinya mencintai Tuhan tidak boleh setengah-setengah. Cinta kepada Tuhan harus berada pada tingkat pertama di setiap saat sepanjang hidup kita. Tentu saja hal ini tidak mudah untuk dilakukan, karena dalam kenyataannya cinta kepada Tuhan mungkin menjadi nomer kesekian dalam hidup kita. Arus modernisasi dan teknologi yang pesat sekarang ini menyebabkan manusia lebih menyembah dan mencintai teknologi daripada Tuhan. Teknologi dijadikan dewa. Contoh nyata: orang bisa asyik smsan didalam gereja atau tempat ibadah lainnya, padahal saat itu sedang ada ibadah atau doa. Mencintai Tuhan dapat diwujudkan dengan mendukung apa yang sudah diciptakan oleh Tuhan. Ini yang paling realistis yang dapat kita lakukan.
Pada ayat lain Yesus mengatakan : “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…”. Di dalam dunia cinta biasanya datang dengan bersyarat. Kita mencitai orang lain dengan syarat. Ada beberapa model cinta bersyarat ini. Pertama, kita mencintai seseorang karena ia memiliki materi. Menjadi teman, sahabat atau pasangannya akan sangat menyenangkan kita karena kita bisa dapat materi dari dia. Tetapi kalau tiba-tiba materi apa yang ia miliki itu habis, maka cinta kepadanya juga akan lenyap. Cinta seperti ini tidak akan muncul kepada orang yang tidak memiliki harta atau miskin. apakah kita juga menjalankan cinta seperti ini?
Kedua, kita mau mencintai orang lain, karena orang tersebut berbuat baik kepada kita. Cinta kedua ini terarah pada perbuatan. Saya mencintainya karena ia telah berbuat baik kepada saya. Cinta ini tidak diarahkan kepada kepribadian secara menyeluruh, melainkan sejauh ia berbuat sesuatu yang menyenangkan saya. Padahal, kalau kita mencintai seseorang, maka kita harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Apakah kita juga menjalankan cinta seperti ini? Ketiga, cinta diarahkan untuk memilih sifat-sifat atau karakter kepribadian seseorang, mungkin orang itu tidak memiliki harta, namun karena memiliki wajah yang cantik atau tampan, maka dengan mudah cinta diarahkan kepada sifat-sifat itu. Cinta juga bisa terarah pada sifat atau karakter seseorang yang cocok dengannya. Misalnya, saya mencintai seseorang karena perangainya yang gembira, ramah, penuh pengertian, dan penuh perhatian, sedangkan yang tidak seperti itu, tidak akan saya cintai.
Jenis-jenis cinta tadi adalah jenis cinta yang selektif. Cinta semacam itu adalah cinta yang bercorak egoistis. Yang terjadi sebenarnya orang tidak benar-benar mencintai sesamanya. Mencintai tanpa syarat adalah seperti yang Yesus katakan “Cintailah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri”. Jika kita memiliki kekurangan dan kelebihan, maka kita pun seharusnya mencintai orang lain lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Itulah cinta tanpa syarat.
Pada ayat terakhir, ketika ahli taurat mengungkapkan persetujuannya terhadap kata-kata Yesus, Yesus berkata: “engkau tidak jauh dari kerajaan Allah”. Seperti yang kita ketahui. Ahli taurat adalah orang-orang yang sangat tidak menyukai keberadaan Yesus. Yesus tahu bahwa mereka tidak menyukai apa yang Ia lakukan. Tapi Yesus tidak pernah membenci ahli taurat tersebut. Justru Yesus memandang ia sebagai seorang yang bijaksana, dan mengatakan bahwa ia tidak jauh dari kerajaan Allah. Yesus benar-benar mengamalkan apa yang ia wartakan mengenai cinta kasih. Ia tidak membenci dan mendendam terhadap ahli taurat tersebut.
Sikap Yesus ini seharusnya juga menjadi sikap kita, terlebih saat kita berhadapan dengan orang yang mungkin bersalah kepada kita atau yang tidak menyukai kita. Kebencian dan dendam adalah dua hal yang dapat menutup diri kita dari cinta kasih kita pada sesama kita. Akhirnya, jadikanlah cinta sebagai jantung dalam hidup kita. Jantung yang dapat membuat hidup kita lebih hidup. Cinta akan membuat hidup kita menjadi lebih damai, karena dengan menghadirkan cinta dalam hidup kita, tidak ada lagi pintu yang terbuka bagi masuknya dendam dan kebencian. Kiranya kita selalu berusaha untuk dapat mengasihi Tuhan dan sesama kita...Amin.
Bacaan 1 : Yeremia 31 : 7-9
Mazmur : Mazmur 126
Bacaan 2 : Ibrani 7 : 23-28
Bacaan 3 : Markus 10 : 46-52
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 1 November 2015
Add comment